Artikel

Cocoklogi Al-Qur’an dan Sains?

Analisis Forensik I'jaz 'Adadi dalam Korelasi Numerik

๐Ÿ“… Selasa, 21 April 2026 | 4 Zulkaidah 1447 H

DOWNLOAD FILE


Penelitian ini mengkaji secara forensik klaim I’jaz ‘Adadi (kemukjizatan numerik) mengenai korelasi angka 767 yang diduga menghubungkan struktur tekstual Al-Quran dengan geografi bumi. Metodologi yang digunakan adalah analisis tekstual kuantitatif, geodesi komputasional, dan studi literatur metrologis-historis. Temuan utama memverifikasi dua data inti: (1) interval antara QS At-Tawbah:28 dan QS Al-Isra:1 dalam Mushaf standar Riwayat Hafs adalah tepat 767 ayat; dan (2) jarak geodesik antara Masjidil Haram dan Masjidil Aqsa adalah sekitar 1.237 km. Namun, analisis kritis ini menegaskan bahwa korelasi numerik yang diklaim hanya muncul setelah konversi jarak ke satuan Mil Statutaโ€”sebuah unit ukur modern yang secara historis anakronistik. Fenomena ini dapat ditafsirkan melalui tiga lensa: sebagai mukjizat ilahiah yang melampaui waktu, sebagai pareidolia numerik yang timbul dari pemilihan variabel secara selektif, atau sebagai sebuah koinsidensi statistik. Kesimpulannya, kemukjizatan utama Al-Quran yang abadi tetap terletak pada pesan hidayah dan kemampuan transformasi spiritualnya, yang tidak bergantung pada sistem metrologi buatan manusia.

1.0 Pendahuluan: Latar Belakang dan Rumusan Masalah

Al-Quran, sebagai kitab suci utama Islam, telah menjadi objek kajian intensif selama lebih dari 14 abad. Salah satu dimensi paling dinamis dari studi ini adalah konsep I’jaz (kemukjizatan), yang menegaskan kualitas ilahiah Al-Quran yang mustahil ditiru oleh manusia. Secara historis, diskursus I’jaz didominasi oleh aspek I’jaz Bayani (kemukjizatan linguistik dan retorika). Namun, era modern yang ditandai dengan kemajuan teknologi komputasi dan sistem informasi geografis (GIS) telah melahirkan cabang baru yang dikenal sebagai I’jaz ‘Adadi (kemukjizatan numerik).

Objek penelitian ini berfokus pada analisis forensik sebuah klaim spesifik yang beredar luas: adanya korelasi presisi antara interval 767 ayat dalam Al-Quranโ€”dimulai setelah QS At-Tawbah ayat 28 hingga QS Al-Isra ayat 1โ€”dengan jarak geodesik antara Masjidil Haram di Mekkah dan Masjidil Aqsa di Yerusalem. Klaim tersebut menyatakan bahwa jarak fisik antara kedua situs suci ini, jika diukur dalam satuan mil, mendekati angka 767.

Signifikansi strategis dari penelitian ini terletak pada implikasi teologisnya. Jika korelasi ini terbukti valid secara metodologis dan bukan sekadar kebetulan, ia dapat menjadi argumen empiris yang kuat bagi keilahian Al-Quran. Sebaliknya, jika terbukti lemah atau bergantung pada variabel yang dipilih secara selektif, analisis ini berfungsi sebagai peringatan penting terhadap fenomena “cocoklogi” yang dapat mendistorsi pemahaman esensi pesan Al-Quran.

Analisis ini disusun untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan penelitian inti berikut:

  • Apakah perhitungan interval 767 ayat antara QS At-Tawbah:28 dan QS Al-Isra:1 dapat diverifikasi secara valid berdasarkan standar Mushaf Utsmani yang diakui?
  • Berapakah jarak geodesik presisi (jarak lingkaran besar) antara Ka’bah dan Masjid Al-Aqsa menggunakan metode pengukuran modern?
  • Bagaimana validitas penggunaan satuan “Mil Statuta” dalam konteks historis abad ke-7, dan apa implikasi dari pemilihan satuan ini?
  • Apakah fenomena ini lebih tepat dikategorikan sebagai mukjizat (I’jaz), koinsidensi statistik, atau pareidolia numerik?

Penelitian ini mengadopsi pendekatan mixed-method yang mengintegrasikan analisis tekstual kuantitatif untuk memvalidasi perhitungan ayat, geodesi komputasional untuk menghitung jarak fisik dengan presisi tinggi, dan studi literatur komparatif untuk mengkaji konteks historis satuan ukur serta wawasan dari tafsir klasik.

Sebelum membongkar validitas matematis dan geografis dari klaim ini, adalah esensial untuk terlebih dahulu memahami bobot teologis dari dua ayat yang menjadi jangkar perhitungannya.

2.0 Kerangka Teologis: Signifikansi Dua Titik Referensi

Analisis ini harus diawali dengan pembedahan makna teologis dan historis dari dua ayat yang menjadi jangkar perhitungan. Signifikansi klaim numerik ini bersumber dari bobot spiritual kedua lokasi tersebut, yang berfungsi sebagai pilar-pilar penting dalam narasi Islam.

Titik Awal (QS At-Tawbah:28)

Titik awal perhitungan ditetapkan pada ayat ke-28 dari Surah At-Tawbah, yang berbunyi:

ูŠุง ุฃูŽูŠู‘ูู‡ูŽุง ุงู„ู‘ูŽุฐูŠู†ูŽ ุขู…ูŽู†ููˆุง ุฅูู†ู‘ูŽู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุดู’ุฑููƒููˆู†ูŽ ู†ูŽุฌูŽุณูŒ ููŽู„ุง ูŠูŽู‚ู’ุฑูŽุจููˆุง ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูŽ ุงู„ู’ุญูŽุฑุงู…ูŽ ุจูŽุนู’ุฏูŽ ุนุงู…ูู‡ูู…ู’ ู‡ุฐุง ูˆูŽุฅูู†ู’ ุฎููู’ุชูู…ู’ ุนูŽูŠู’ู„ูŽุฉู‹ ููŽุณูŽูˆู’ููŽ ูŠูุบู’ู†ูŠูƒูู…ู ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ููŽุถู’ู„ูู‡ู ุฅูู†ู’ ุดุงุกูŽ ุฅูู†ู‘ูŽ ุงู„ู„ู‘ูŽู‡ูŽ ุนูŽู„ูŠู…ูŒ ุญูŽูƒูŠู…ูŒ

“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya orang-orang musyrik itu najis, maka janganlah mereka mendekati Masjidil Haram setelah tahun ini…”

Pemilihan ayat ini sebagai titik awal sangat beralasan karena tiga alasan utama:

  1. Definisi Teritorial: Ayat ini secara eksplisit menyebut “Al-Masjid Al-Haram” bukan sekadar sebagai nama, melainkan dalam konteks penetapan batas demarkasi fisik dan spiritual. Ia mengukuhkan status Haram (suci) bagi Mekkah secara absolut.
  2. Kronologi Final: Surah At-Tawbah termasuk surah terakhir yang diturunkan (tahun ke-9 Hijriah), menandakan fase penyempurnaan syariat terkait kesucian Ka’bah dan wilayah sekitarnya.
  3. Koneksi dengan Kesucian: Penggunaan kata “najis” untuk mendeskripsikan kaum musyrik secara akidah menciptakan kontras tajam dengan kesucian Masjidil Haram, menjadikannya titik nol yang “murni” untuk memulai pengukuran.

Titik Akhir (QS Al-Isra:1)

Titik akhir perhitungan adalah ayat pertama dari Surah Al-Isra, yang mengisahkan peristiwa agung Isra’ Mi’raj:

ุณูุจู’ุญุงู†ูŽ ุงู„ู‘ูŽุฐูŠ ุฃูŽุณู’ุฑู‰ูฐ ุจูุนูŽุจู’ุฏูู‡ู ู„ูŽูŠู’ู„ุงู‹ ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุญูŽุฑุงู…ู ุฅูู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ุตูŽู‰ ุงู„ู‘ูŽุฐูŠ ุจุงุฑูŽูƒู’ู†ุง ุญูŽูˆู’ู„ูŽู‡ู ู„ูู†ูุฑููŠูŽู‡ู ู…ูู†ู’ ุขูŠุงุชูู†ุง ุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู‡ููˆูŽ ุงู„ุณู‘ูŽู…ูŠุนู ุงู„ู’ุจูŽุตูŠุฑู

“Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa yang telah Kami berkahi sekelilingnya…”

Ayat ini berfungsi sebagai titik akhir yang sempurna karena:

  1. Destinasi Gramatikal: Kata “ila” (ke/menuju) dalam frasa ilฤ al-masjid al-aqแนฃฤ secara linguistik menetapkan Masjidil Aqsa sebagai tujuan akhir perjalanan, yang selaras dengan fungsinya sebagai titik akhir perhitungan jarak.
  2. Konektivitas Simbolis: Peristiwa Isra’ merepresentasikan transisi sejarah kenabian dari Yerusalem ke Mekkah. Jarak di antara keduanya menjadi “ruang” simbolis yang menghubungkan risalah Nabi Muhammad SAW dengan para nabi sebelumnya, sebuah transisi yang dikukuhkan dengan peristiwa Tahwil al-Qiblah (perubahan arah kiblat) dari Yerusalem ke Mekkah.
  3. Keberkahan Spasial: Frasa “bฤaraknฤ แธฅawlahu” (yang telah Kami berkahi sekelilingnya) mengindikasikan bahwa area di sekitar Al-Aqsa memiliki nilai terukur, baik secara spiritual maupun geografis.

Konteks Sejarah Perjalanan

Dalam literatur klasik seperti Tafsir Ibnu Katsir, jarak antara Mekkah dan Palestina tidak diukur dalam satuan linier, melainkan dalam satuan waktu, yang dikenal sebagai perjalanan sekitar “satu bulan perjalanan unta”. Konsep ini diperkuat oleh hadits Nabi SAW, “Nusirto bi ar-ru’bi masirata shahr” (Aku ditolong dengan rasa takut [di hati musuh] sejauh perjalanan satu bulan), di mana “perjalanan satu bulan” sering diasosiasikan dengan jarak dari Madinah ke perbatasan Syam, wilayah tempat Masjidil Aqsa berada.

Setelah memahami signifikansi teologisnya, langkah selanjutnya adalah memverifikasi klaim numerik tersebut secara matematis dari teks Al-Quran.

3.0 Analisis Tekstual: Validasi Interval 767 Ayat

Bagian ini bertujuan untuk melakukan audit matematis yang ketat terhadap klaim interval 767 ayat, dengan menggunakan Mushaf Madinah (berdasarkan Riwayat Hafs ‘an ‘Ashim) sebagai standar referensi utama yang digunakan di mayoritas dunia Islam saat ini.

Struktur Sekuensial

Dalam susunan mushaf, urutan surah antara At-Tawbah (Surah ke-9) dan Al-Isra (Surah ke-17) adalah sebagai berikut: Yunus (10), Hud (11), Yusuf (12), Ar-Ra’d (13), Ibrahim (14), Al-Hijr (15), dan An-Nahl (16).

Tabulasi Perhitungan

Perhitungan ini dimulai setelah QS At-Tawbah:28 dan berakhir pada QS Al-Isra:1.

Tabel 1: Audit Perhitungan Interval Ayat (Mushaf Madinah)

No. Urut Nama Surah Total Ayat Perhitungan Segmen Subtotal Referensi Data
1 At-Tawbah 129 Sisa ayat setelah ayat 28: $129 – 28$ 101 [10]
2 Yunus 109 Seluruh ayat (Full) 109 [11]
3 Hud 123 Seluruh ayat (Full) 123 [11]
4 Yusuf 111 Seluruh ayat (Full) 111 [11]
5 Ar-Ra’d 43 Seluruh ayat (Full) 43 [11]
6 Ibrahim 52 Seluruh ayat (Full) 52 [11]
7 Al-Hijr 99 Seluruh ayat (Full) 99 [11]
8 An-Nahl 128 Seluruh ayat (Full) 128 [11]
9 Al-Isra 111 Hanya ayat ke-1 (Titik Tujuan) 1 [1]
TOTAL Penjumlahan Subtotal 767

ย 

Analisis Ketergantungan Varian

Hasil perhitungan ini, meskipun akurat, memiliki satu catatan penting: angka 767 ini sangat bergantung pada sistem perhitungan ayat (Fawasil) dari Mazhab Kufi. Sistem ini, yang menjadi dasar Mushaf Madinah modern, menghitung total 6.236 ayat dalam Al-Quran. Mazhab lain, seperti Mazhab Basrah atau Syam, memiliki perbedaan kecil dalam pembagian ayat, yang akan mengubah total perhitungan interval ini.

Sifat “terikat varian” (variant-bound) ini dapat dilihat dari dua sudut pandang yang kontras:

  • Sudut Pandang Kritik: Ini adalah kelemahan metodologis. Jika Al-Quran itu satu, maka mukjizat numeriknya seharusnya tidak bergantung pada salah satu dari beberapa metode penghitungan ayat yang berkembang pasca-pewahyuan.
  • Sudut Pandang Pendukung I’jaz: Ini justru dianggap sebagai bagian dari desain ilahi. Fakta bahwa mushaf standar Kufi menjadi yang paling dominan dan tersebar luas di akhir zamanโ€”tepat ketika teknologi untuk verifikasi jarak geodesik ditemukanโ€”menunjukkan sebuah antisipasi ilahiah.

Secara tekstual berdasarkan mushaf standar yang berlaku, angka 767 adalah fakta objektif. Analisis sekarang akan beralih ke verifikasi komponen geografis dari klaim tersebut.

4.0 Analisis Geodesik: Verifikasi Jarak Fisik

Bagian ini merupakan inti dari verifikasi ilmiah, di mana kita menghitung jarak Great Circle (jarak terpendek di permukaan bumi yang melengkung) antara Ka’bah di Mekkah dan Masjid Al-Aqsa di Yerusalem.

Penetapan Titik Koordinat

Presisi perhitungan sangat bergantung pada titik koordinat yang digunakan. Perlu dicatat bahwa “Masjidil Haram” dan “Masjidil Aqsa” adalah area yang luas, bukan titik tunggal.

  • Titik A (Mekkah): Pusat spiritual dan geometris dari Masjidil Haram adalah Ka’bah. Koordinatnya ditetapkan pada 21.4225ยฐ N, 39.8262ยฐ E. Titik ini dianggap sebagai centroid yang paling logis untuk pengukuran.
  • Titik B (Yerusalem): Kompleks Haram al-Sharif adalah sebuah area seluas 144.000 meter persegi. Di dalamnya terdapat beberapa struktur ikonik seperti Kubah Shakhrah (Dome of the Rock) dan bangunan shalat utama, Masjid Al-Aqsa (Jami’ Al-Qibli). Untuk presisi, titik yang digunakan adalah bangunan utama Masjid Al-Aqsa, dengan koordinat 31.7761ยฐ N, 35.2358ยฐ E.

Metodologi Perhitungan

Untuk menghitung jarak terpendek antara dua titik di permukaan bola, metode standar yang digunakan adalah Formula Haversine. Formula ini secara matematis memperhitungkan kelengkungan bumi untuk menghasilkan jarak garis lurus yang paling akurat, berbeda dengan pengukuran pada peta datar.

Hasil Perhitungan

Berdasarkan koordinat yang ditetapkan dan penerapan Formula Haversine, jarak udara presisi antara Ka’bah dan Masjid Al-Aqsa adalah sekitar 1.237 km hingga 1.238 km. Hasil ini konsisten dan dapat diverifikasi menggunakan kalkulator geodesik modern. Sebagai contoh, layanan Google Maps menunjukkan jarak 1.238,02 km.

Setelah memperoleh dua data mentahโ€”767 ayat dan ~1.238 kmโ€”analisis kritis berikutnya adalah pada proses konversi satuan yang digunakan untuk menghubungkan kedua angka tersebut.

5.0 Analisis Metrologis Kritis: Problematika Satuan “Mil”

Bagian ini merupakan titik paling kritis dalam keseluruhan analisis, karena validitas klaim mukjizat ini bergantung sepenuhnya pada pemilihan unit pengukuran spesifik, yaitu Mil Statuta.

Konversi dan Deviasi

Proses konversi dari kilometer ke mil dilakukan dengan faktor konversi standar internasional yang ditetapkan pada tahun 1959:

  • Faktor Konversi: 1 Mil Statuta = 1,609344 km
  • Perhitungan: 1.237,9 km / 1,609344 km/mil โ‰ˆ 769,19 mil

Hasil perhitungan ini menunjukkan angka ~769 mil, yang memiliki selisih sekitar 2 mil dari target 767. Deviasi sebesar ini (~0,3%) oleh para pendukung teori ini sering dianggap dapat diabaikan (negligible) dalam skala geodesi global. Perhitungan lain menggunakan alat seperti Google Maps menghasilkan 769.27 mil, yang menegaskan adanya deviasi kecil dari target.

Kritik Anakronisme

Masalah fundamental dari klaim ini adalah anakronisme historis. Satuan “Mil Statuta” tidak dikenal pada masa Al-Quran diturunkan.

  • Mil Romawi (Mille Passus): Satuan “mil” yang dikenal di wilayah tersebut pada abad ke-7 berasal dari Romawi (sekitar 1,48 km). Menggunakan satuan ini, jaraknya menjadi ~835 mil Romawi, yang tidak cocok dengan 767.
  • Mil Arab (Al-Mil Al-Hasyimi): Satuan ini didefinisikan oleh para astronom Muslim pada abad ke-9 M (sekitar 1,925 km). Menggunakan satuan ini, jaraknya menjadi ~642 mil Arab, yang juga tidak cocok dengan 767.
  • Mil Statuta Inggris: Satuan yang menghasilkan korelasi ini didefinisikan secara resmi oleh Parlemen Inggris pada tahun 1593 dan distandarisasi secara internasional pada tahun 1959. Ini berarti satuan tersebut muncul hampir 1.000 tahun setelah Al-Quran turun.

Dua Sudut Pandang

Penggunaan Mil Statuta yang anakronistik ini memunculkan dua argumen yang saling bertentangan:

  • Argumen Skeptis: Ini adalah contoh klasik dari cherry-picking (tebang pilih data). Peneliti modern mencoba berbagai satuan ukur modern dan historis hingga menemukan satu yang angkanya cocok dengan interval ayat, lalu mengklaimnya sebagai mukjizat.
  • Argumen Apologetik: Ini adalah bukti pengetahuan ilahi yang melampaui waktu. Allah SWT, dalam Ilmu-Nya yang Azali, mengantisipasi bahwa Mil Statuta akan menjadi satuan dominan di era modern (melalui pengaruh Inggris dan AS) saat manusia memiliki teknologi untuk melakukan verifikasi ini.

Integritas klaim ini bertumpu pada “kontingensi ganda” (double contingency). Ia memerlukan penerimaan dua konvensi yang didefinisikan oleh manusia secara independen: sistem penghitungan ayat Kufi (Fawasil) dari periode awal Islam, dan sistem pengukuran Imperial Inggris (Mil Statuta) yang distandarisasi satu milenium kemudian. Hal ini secara signifikan meningkatkan standar pembuktian untuk mengkategorikannya sebagai mukjizat di atas sebuah kebetulan.

6.0 Sintesis dan Diskusi

Bagian ini mengintegrasikan temuan tekstual, geodesik, dan metrologis dengan wawasan dari tafsir dan sejarah untuk membentuk sebuah diskusi yang holistik.

Akurasi Pemahaman Klasik

Tradisi Islam, melalui Sirah Nabawiyah, secara konsisten mengkuantifikasi jarak Mekkah-Syam sebagai “Masirah Shahr” (perjalanan satu bulan). Sebuah estimasi berdasarkan data historis dapat dihitung:

  • Kecepatan rata-rata kafilah unta: ~25 mil per hari.
  • Estimasi perjalanan satu bulan: 25 mil/hari ร— 30 hari = 750 mil.

Kedekatan antara estimasi empiris ini (750 mil) dengan jarak geodesik presisi yang dihitung secara modern (~769 mil) memiliki fungsi ganda dalam analisis. Bagi seorang skeptis, ini menunjukkan bahwa angka 767 tidak sepenuhnya arbitrer melainkan berada dalam rentang empiris yang sudah dikenal, sehingga meningkatkan probabilitas kecocokan yang kebetulan. Bagi seorang proponen, ini justru menunjukkan konsistensi antara pengetahuan empiris kuno dengan lapisan presisi ilahiah yang tersembunyi.

Makna Simbolis Interval

Jika kita menerima hipotesis bahwa angka 767 didesain secara ilahiah, maka makna simbolisnya sangat mendalam. Surah-surah yang mengisi interval tersebut (Yunus, Hud, Yusuf, dst. hingga An-Nahl) mayoritas berisi kisah-kisah perjuangan para nabi terdahulu. Ini menciptakan sebuah narasi simbolis di mana “jarak” geografis antara Masjidil Haram (pusat risalah Nabi Muhammad SAW) dan Masjidil Aqsa (pusat risalah nabi-nabi Bani Israil) diisi oleh sebuah “jembatan” sejarah perjuangan para utusan Allah.

Evaluasi Akhir Klaim

Berdasarkan keseluruhan analisis, fenomena korelasi 767 ini dapat ditafsirkan melalui tiga kemungkinan:

  • Sebagai Mukjizat (I’jaz): Ini adalah pandangan proponen yang fokus pada presisi angka dan keajaiban antisipasi ilahiah terhadap satuan ukur modern, menganggapnya sebagai bukti kebenaran Al-Quran bagi generasi akhir zaman.
  • Sebagai Pareidolia Numerik: Ini adalah pandangan skeptis yang menekankan adanya cherry-picking data, ketergantungan pada dua variabel independen (sistem hitung ayat Kufi dan Mil Statuta), serta anakronisme satuan ukur yang dipilih hanya karena cocok.
  • Sebagai Koinsidensi Statistik: Ini adalah kemungkinan netral yang menyatakan bahwa dalam kumpulan data yang sangat besar seperti Al-Quran, kemunculan pola yang tampak bermakna secara statistik dapat terjadi secara kebetulan.

Setelah menimbang berbagai interpretasi ini, langkah terakhir adalah merumuskan kesimpulan yang seimbang, yang secara tegas memisahkan antara fakta yang terverifikasi dan ketergantungan klaim ini pada variabel-variabel kritis.

7.0 Kesimpulan

Analisis forensik ini menyajikan sebuah paradoks: sebuah korelasi dengan presisi yang menakjubkan, namun hanya dapat terlihat melalui lensa anakronisme mendalam dan selektivitas metodologis.

Pertama, verifikasi fakta menunjukkan adanya korelasi numerik yang kuat. Interval ayat antara QS At-Tawbah:28 dan QS Al-Isra:1 adalah valid 767 ayat dalam Mushaf standar Hafs. Jarak geodesik antara Ka’bah dan Masjid Al-Aqsa adalah sekitar 1.237 km, yang setara dengan sekitar 769 mil statuta, menunjukkan deviasi yang sangat kecil (<0.3%) dari angka target.

Kedua, poin paling krusial dalam analisis ini adalah bahwa korelasi tersebut bersifat unit-dependent (tergantung pada satuan ukur) dan variant-bound (tergantung pada varian sistem hitung ayat). Korelasi ini runtuh jika menggunakan satuan ukur lain yang lebih relevan secara historis (seperti Mil Arab) atau sistem penghitungan ayat yang berbeda (seperti Mazhab Basrah).

Oleh karena itu, sikap ilmiah dan teologis yang seimbang adalah dengan mengapresiasi temuan ini sebagai ayat (tanda) yang menarik untuk direnungkan, namun berhati-hati untuk tidak menjadikannya sebagai fondasi akidah yang kaku. Ketergantungannya pada variabel buatan manusia (sistem metrologi yang distandarisasi 1.000 tahun setelah pewahyuan) menuntut kehati-hatian dalam menarik kesimpulan teologis yang absolut. Pada akhirnya, kemukjizatan Al-Quran yang sejati, abadi, dan universal terletak pada pesan hidayah, keindahan bahasa, sistem hukum, dan kemampuan transformatifnya bagi jiwa manusiaโ€”kualitas yang tidak terpengaruh oleh perubahan sistem metrologi sepanjang zaman.

ย 

8.0 Daftar Pustaka

  • Miracles Of Quran. “Jarak Dalam Al Quran.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.miracles-of-quran.com/malay/distance.html
  • Miracles Of Quran. “Distance In Quran.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.miracles-of-quran.com/distance.html
  • ResearchGate. “isra mi’raj sebagai perjalanan religi: studi analisis peristiwa isra mi’raj nabi muhammad menurut al qur’an dan hadits.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.researchgate.net/publication/334052517_ISRA_MI’RAJ_SEBAGAI_PE RJALANAN_RELIGI_STUDI_ANALISIS_PERISTIWA_ISRA_MI’RAJ_NABI_MUHAMMA D_MENURUT_AL_QUR’AN_DAN_HADITS
  • Tafsir Learn Quran. “Tafsir Surat Al-Isra ayat 1.” Diakses 15 Oktober 2023. https://tafsir.learn-quran.co/id/surat-17-al-isra/ayat-1
  • Celik Tafsir. “Tafsir Surah al-Isra’ Ayat 1 (Perjalanan Isra’).” Diakses 15 Oktober 2023. https://celiktafsir.net/2017/04/02/isra-ayat-1/
  • Enjoy Quran. “Juz 15.” Diakses 15 Oktober 2023. https://enjoyquran.org/juz/15
  • al-bayyinatul ilmiyyah. “74. Kumpulan Ceramah Singkat (PDF).” Diakses 15 Oktober 2023. https://albayyinatulilmiyyah.files.wordpress.com/2013/09/74-kumpulan-ceramah-singkat-pdf.pdf
  • detikcom. “Jarak Masjidil Haram ke Masjidil Aqsa saat Isra Mi’raj Nabi Muhammad.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.detik.com/hikmah/khazanah/d-7750863/jarak-masjidil-haram-ke-masjidil-aqsa-saat-isra-miraj-nabi-muhammad
  • Republika Online. “Al-Amin dan Isra Mi’raj.” Diakses 15 Oktober 2023. https://republika.co.id/berita/koran/halaman-1/16/05/08/o6uifv1-alamin-dan-isra-miraj
  • Wikipedia. “List of chapters in the Quran.” Diakses 15 Oktober 2023. https://en.wikipedia.org/wiki/List_of_chapters_in_the_Quran
  • Scribd. “Jumlah Ayat Al Quran | PDF.” Diakses 15 Oktober 2023. https://es.scribd.com/document/433887636/Jumlah-Ayat-Al-Quran
  • ANTARA News. “114 Surat dalam Al-Quran lengkap dengan arti dan jumlah ayat.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.antaranews.com/berita/4682245/114-surat-dalam-al-quran-lengkap-dengan-arti-dan-jumlah-ayat
  • Reddit. “Mathematical matrix of the quran : r/AcademicQuran.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.reddit.com/r/AcademicQuran/comments/1bjrzv4/mathematical_mat rix_of_the_quran/
  • Omni Calculator. “Latitude Longitude Distance Calculator.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.omnicalculator.com/other/latitude-longitude-distance
  • vCalc. “Haversine – Distance.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.vcalc.com/wiki/vcalc/haversine-distance
  • Rome2Rio. “Mecca to Al-Aqsa Mosque – 3 ways to travel via train, plane, and bus.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.rome2rio.com/s/Mecca/Al-Aqsa-Mosque
  • Wikipedia. “Mile.” Diakses 15 Oktober 2023. https://en.wikipedia.org/wiki/Mile
  • Square Yards UAE. “Conversion of Kilometers To Miles | 1 Km To Mi.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.squareyards.ae/blog/convert-kilometers-to-miles-calart
  • Wikipedia. “Arabic mile.” Diakses 15 Oktober 2023. https://en.wikipedia.org/wiki/Arabic_mile
  • Bring Back the Mile. “History.” Diakses 15 Oktober 2023. https://www.bringbackthemile.com/history
  • Islamic Research Site. “MATHEMATICS PROVES THAT QURAN IS ONE OF THE GREATEST MIRACLES-PART 1.” Diakses 15 Oktober 2023. https://islamicresearchsite.com/the-calculation-proves-that-quran-is-one-of-the-greatest-miracles/
  • ARQadhi Blogspot. “092 – Battle of Tabuk 5 – TRANSCRIPT OF SH. DR. YASIR QADHI’S SEERAH OF PROPHET MUHAMMAD PBUH LECTURES.” Diakses 15 Oktober 2023. https://arqadhi.blogspot.com/2015/11/092-battle-of-tabuk-5.html

Analisis Forensik I'jaz 'Adadi dalam Korelasi Numerik Antara Interval Ayat QS At-Tawbah_28 - QS Al-Isra_1 dengan Jarak Geodesik Masjidil Haram - Masjidil Aqsa


 

Kasmui

Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button