Artikel

​ Istri Salihah Itu Tiang Utama Rumah Tangga

 

Rumah tangga adalah sebuah bangunan, dan pondasinya adalah cinta dan kasih sayang, sedangkan tiangnya adalah peran setiap anggota keluarga. Namun, dalam Islam, ada satu tiang yang memiliki kekuatan luar biasa untuk mengokohkan seluruh bangunan, yaitu istri salihah. Ia bukanlah sekadar pelengkap, melainkan sosok sentral yang mampu mengubah rumah menjadi surga kecil di dunia.

​Kehadiran seorang istri salihah bagaikan sebuah mata air di tengah gurun, yang membawa kesejukan, kesuburan, dan kehidupan. Ia adalah penyejuk mata bagi suami, pelabuhan hati yang menenangkan, dan sekolah pertama bagi anak-anak. Rasulullah SAW bersabda, ​

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رضي الله عنه، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “الدُّنْيَا مَتَاعٌ، وَخَيْرُ مَتَاعِ الدُّنْيَا الْمَرْأَةُ الصَّالِحَةُ”

“Dunia ini adalah perhiasan, dan sebaik-baik perhiasan dunia adalah wanita salihah.” (HR. Muslim).

Hadis ini bukan hanya pujian, melainkan penegasan bahwa tidak ada harta, jabatan, atau kekayaan yang lebih berharga daripada memiliki seorang istri yang taat dan berakhlak mulia.

​Islam telah memberikan jalan yang sangat jelas bagi seorang istri untuk meraih ridha Allah dan jaminan surga. Ada tiga pilar utama yang menjadi pondasi kesalihahan seorang istri:

​1. Taat kepada Allah SWT: Akar dari Segala Kebaikan

Ketaatan seorang istri dimulai dari ketaatannya kepada Sang Pencipta. Ia menyadari bahwa tugasnya sebagai hamba Allah adalah prioritas utama. Ia tidak pernah lalai dalam shalatnya, puasanya, dan ibadah-ibadah lainnya. Ketaatan ini menumbuhkan ketenangan dalam hatinya, membersihkan jiwanya, dan menguatkan imannya. Ketika hatinya tenang, ia akan mampu memberikan ketenangan kepada seluruh anggota keluarga. Ia akan menjadi contoh nyata bagi anak-anaknya tentang bagaimana hidup sebagai seorang Muslim yang sejati. Ketaatan kepada Allah adalah pondasi yang kokoh, dari sinilah lahir segala kebaikan, kesabaran, dan keikhlasan.

​2. Menjaga Kehormatan Diri dan Suami: Amanah yang Berharga

Seorang istri salihah adalah penjaga kehormatan. Ia menjaga kehormatannya sendiri, kehormatan suaminya, dan harta suaminya, baik saat suami ada maupun saat tidak ada di rumah. Ia tidak akan membiarkan dirinya atau rumah tangganya tercemari oleh hal-hal yang tidak diridhai Allah. Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

فَالصَّالِحَاتُ قَانِتَاتٌ حَافِظَاتٌ لِلْغَيْبِ بِمَا حَفِظَ اللَّهُ

​”Maka wanita-wanita yang salihah ialah yang taat kepada Allah lagi memelihara diri ketika suaminya tidak ada, karena Allah telah memelihara (mereka).” (QS. An-Nisa’: 34)

Ayat ini menegaskan bahwa menjaga kehormatan adalah bagian dari iman dan ketaatan kepada Allah. Hal ini juga menjadi bukti kepercayaan dan cinta yang tulus kepada suami.

​3. Taat kepada Suami: Jalan Pintas Menuju Ridha Allah

Ketaatan seorang istri kepada suaminya adalah salah satu bentuk ibadah yang paling mulia, selama ketaatan tersebut tidak dalam hal maksiat. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا، وَصَامَتْ شَهْرَهَا، وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا، وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا، قِيلَ لَهَا: ادْخُلِي الْجَنَّةَ مِنْ أَيِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ”

​”Apabila seorang wanita shalat lima waktu, berpuasa di bulan Ramadhan, menjaga kemaluannya, dan menaati suaminya, niscaya ia akan masuk surga dari pintu mana saja yang ia kehendaki.” (HR. Ahmad).

Hadis ini menunjukkan betapa besarnya pahala dan keutamaan bagi istri yang taat. Ini adalah pengakuan langsung dari Rasulullah bahwa surga begitu dekat bagi seorang istri yang memenuhi hak-hak suaminya dengan baik. Ketaatan ini bukan bentuk perbudakan, melainkan wujud rasa hormat dan cinta yang berlandaskan iman. Ia tahu bahwa suaminya adalah pemimpin rumah tangga, dan dengan ketaatan, ia sedang membantu suaminya untuk menjalankan amanah tersebut dengan baik.

​Sungguh, sebuah pemandangan yang menyedihkan ketika Rasulullah SAW melihat bahwa mayoritas penghuni neraka adalah wanita. Ketika para sahabat bertanya, mengapa demikian? Jawaban beliau sangatlah menusuk hati: Karena mereka banyak mengkufuri (mengingkari) suami dan banyak mengkufuri kebaikan (suami). Hadis nabi: ​

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا، قَالَ: خَرَجَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَجَاءَ بِلَالٌ مَعَهُ، فَأَلْقَى ثَوْبَهُ عَلَى كَتِفِهِ، وَبَسَطَ يَدَهُ فَقَالَ: “تَصَدَّقُوا” فَجَعَلَتْ الْمَرْأَةُ تُلْقِي فَتْخَهَا وَسِوَارَهَا وَقِرْطَهَا. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “يَا مَعْشَرَ النِّسَاءِ، إِنِّي رَأَيْتُكُنَّ أَكْثَرَ أَهْلِ النَّارِ” قُلْنَ: وَلِمَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: “لِأَنَّكُنَّ تُكْثِرْنَ اللَّعْنَ وَتَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ”

dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam keluar, lalu Bilal datang bersamanya. Bilal meletakkan bajunya di bahunya, kemudian menadahkan tangannya sambil berkata, ‘Bersedekahlah.’ Kemudian para wanita mulai melempar cincin, gelang, dan anting-anting mereka. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam kemudian bersabda, ‘Wahai sekalian kaum wanita, sesungguhnya aku melihat kalian adalah penghuni neraka yang paling banyak.’ Mereka bertanya, ‘Mengapa demikian, ya Rasulullah?’ Beliau bersabda, ‘Karena kalian banyak melaknat dan banyak mengingkari kebaikan suami.’ ” ( HR Thabrani)

  1. ​Apa makna “mengkufuri kebaikan suami” ini? Ini adalah sebuah penyakit hati yang sangat berbahaya, yaitu tidak pandai bersyukur.
  2. Materi Menjadi Segalanya: Banyak istri yang hanya melihat suami dari sisi harta dan materi. Ketika suami memberikan sesuatu, ia menerimanya sebagai kewajiban, bukan sebagai kebaikan. Namun, ketika suami tidak mampu memenuhi keinginan, ia langsung melontarkan kalimat pedih, “Aku tidak pernah melihat kebaikanmu sama sekali!”
  3. Suka Merendahkan dan Menyalahkan: Penyakit ini juga terw manifestasi dalam sikap merendahkan, menyalahkan, dan membanding-bandingkan suami dengan laki-laki lain. Padahal, suami telah berjuang mati-matian, mengorbankan waktu, tenaga, bahkan kehormatannya demi menafkahi keluarga.
  4. Tidak Ada Syukur: Sikap ini menghilangkan keberkahan dari rezeki yang ada. Jika sebuah rezeki tidak disyukuri, maka ia akan terasa kurang, seberapapun banyaknya.

​​Wahai para istri, ini adalah panggilan cinta dari Allah dan Rasul-Nya. Pilihlah jalan kesalihahan, sebab ia adalah jalan kebahagiaan sejati. Tinggalkanlah sifat-sifat yang dapat memadamkan cahaya rumah tanggamu. Jadikanlah dirimu penyejuk hati suamimu, yang kehadirannya selalu dirindukan dan kata-katanya selalu menenangkan.

​Jadilah seperti yang digambarkan oleh Rasulullah SAW tentang istri ahli surga:

عَنْ أَنَسٍ رضي الله عنه، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: “أَلَا أُخْبِرُكُمْ بِنِسَائِكُمْ فِي الْجَنَّةِ؟ قُلْنَا: بَلَى يَا رَسُولَ اللهِ، قَالَ: “كُلُّ وَدُودٍ، وَلُودٍ، إِذَا غَضِبَتْ، أَوْ غُضِبَ عَلَيْهَا، أَتَتْ زَوْجَهَا فَوَضَعَتْ يَدَهَا فِي يَدِهِ، ثُمَّ قَالَتْ: لَا أَذُوقُ غُمْضًا حَتَّى تَرْضَى”

​”Maukah kalian aku kabari tentang istri-istri kalian di surga? Yaitu wanita yang penuh kasih sayang, banyak anak, dan sering menengok suaminya. Jika ia marah, atau suaminya marah kepadanya, ia pun segera mendatangi suaminya dan memeluknya, lalu berkata: ‘Tanganku berada di tanganmu, aku tidak bisa tidur hingga engkau ridha’.” (HR. Ath-Thabrani)

Hal ini sesungguhnya sebagai sarana untuk hidup bahagia yang abadi. Ia adalah petunjuk bahwa kasih sayang, kerendahan hati, dan pengorbanan adalah kunci untuk mendapatkan ridha suami, yang pada gilirannya akan membuka pintu-pintu surga bagimu. Jadilah istri salihah, dan jaminan surga itu akan menjadi milikmu.

(KH. Wahyudi Sarju ABdurrahim, Lc, M.M, Anggota Majelis Tablig PWM Jateng, Pimpinan Pondoke Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button