Artikel

Kewajiban Seorang Muslim Taat Kepada Pemimpin

📅 Sabtu, 07 Maret 2026 | 18 Ramadan 1447 H

 

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad SAW, keluarga, sahabat, dan seluruh pengikutnya hingga akhir zaman.

Salah satu pokok penting dalam ajaran Islam adalah kewajiban untuk taat kepada pemimpin (ulil amri). Allah SWT memerintahkan kaum muslimin agar menjaga persatuan dan tidak keluar dari ketaatan terhadap penguasa, meskipun terkadang penguasa tersebut berbuat zalim. Hal ini karena ketaatan kepada pemimpin merupakan bentuk ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya, selama tidak diperintah untuk bermaksiat.

Dalil dari Al-Qur’an

Allah SWT berfirman dalam Al-Qur’an:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا أَطِيعُوا اللَّهَ وَأَطِيعُوا الرَّسُولَ وَأُولِي الْأَمْرِ مِنْكُمْ ۖ

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad), dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu.”

(QS. An-Nisā’: 59)

Ayat ini menunjukkan bahwa ketaatan kepada pemimpin merupakan kewajiban setelah taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ulama menegaskan bahwa selama perintah pemimpin tidak bertentangan dengan syariat, maka seorang muslim wajib untuk menaatinya.

Rasulullah SWT bersabda:

عَلَيْكَ السَّمْعَ وَالطَّاعَةَ فِي عُسْرِكَ وَيُسْرِكَ وَمَنْشَطِكَ وَمَكْرَهِكَ وَأَثَرَةٍ عَلَيْكَ

“Hendaklah engkau mendengar dan taat (kepada pemimpin) dalam keadaan suka atau benci, dalam keadaan lapang atau sempit, bahkan meskipun mereka lebih mementingkan diri mereka daripada kamu.”

(HR. Muslim no. 1836)

Dalam hadits lain Rasulullah SAW bersabda:

إِلَّا أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ فِيهِ مِنَ اللَّهِ بُرْهَانٌ

“…kecuali jika kalian melihat kekufuran yang nyata, yang kalian memiliki bukti dari Allah tentang hal itu.”

(HR. al-Bukhari no. 7056, Muslim no. 1709)

Hadits ini menegaskan bahwa sekalipun pemimpin zalim, kita tetap diwajibkan taat selama tidak memerintahkan kepada kekufuran atau kemaksiatan yang jelas.

Para ulama salaf menekankan bahwa ketaatan kepada pemimpin, sekalipun zalim, adalah lebih baik daripada terjadinya fitnah dan kekacauan. Abdullah bin ‘Umar radhiyallahu ‘anhuma berkata:

“Kami bersama Rasulullah SAW dalam keadaan baik selama kami tetap menegakkan shalat. Apabila pemimpin kami berbuat sesuatu yang tidak kami sukai, maka kami tetap tidak keluar dari ketaatan.”

Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah juga berkata:

“Barangsiapa memberontak kepada penguasa, maka ia telah menyalahi sunnah Nabi SAW dan menyelisihi jalan kaum mukminin.”

Hal ini karena pemberontakan terhadap penguasa, meskipun zalim, justru mendatangkan kerusakan yang lebih besar: pertumpahan darah, perpecahan umat, hilangnya keamanan, dan melemahnya kaum muslimin.

Namun, ketaatan kepada pemimpin bukan berarti membenarkan kezalimannya. Kita tetap wajib menasihati pemimpin dengan cara yang baik, mendoakan kebaikan untuk mereka, dan bersabar atas kezaliman mereka. Jika perintah pemimpin bertentangan dengan syariat, maka “tidak ada ketaatan dalam maksiat.”

Rasulullah SAW bersabda:

لَا طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي الْمَعْرُوفِ

“Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah. Sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang ma’ruf (kebaikan).”

(HR. al-Bukhari no. 7257, Muslim no. 1840)

Saudara-saudara seiman yang dimuliakan Allah, marilah kita memahami bahwa menjaga persatuan umat lebih utama daripada menuruti hawa nafsu untuk melawan pemimpin yang zalim. Ketaatan kepada pemimpin adalah bagian dari syariat, dengan tetap mengingat bahwa doa dan nasihat yang baik adalah senjata kita. Semoga Allah SWT memberikan kepada umat Islam pemimpin yang adil, amanah, dan bertakwa.

Rohman (ketua PRPM Pesantren, Peserta sekolah tabligh PWM Jateng Kelas Banjarnegara)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button