
Apa yang Berubah Setelah Idul Adha?
Oleh : Pujiono
Anggota Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah
Khutbah Pertama
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوْذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُوْرِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ.
يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِيْ خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالًا كَثِيْرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللّٰهَ الَّذِيْ تَسَاءَلُوْنَ بِهِ وَالْأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللّٰهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيْبًا.
يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا اتَّقُوا اللّٰهَ وَقُوْلُوا قَوْلًا سَدِيْدًا يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوْبَكُمْ ۗ وَمَنْ يُطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيْمًا.
Amma ba’du.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Saya berwasiat kepada diri saya pribadi dan kepada jamaah sekalian, marilah kita senantiasa meningkatkan ketakwaan kepada Allah SWT dengan menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya. Karena takwa adalah bekal terbaik dalam menjalani kehidupan dunia menuju akhirat.
Jamaah Jumat yang dimuliakan Allah,
Hari-hari Idul Adha telah berlalu. Hewan qurban telah disembelih dan daging telah dibagikan. Namun pertanyaannya adalah: apa yang berubah dalam diri kita setelah Idul Adha?
Jangan sampai Idul Adha hanya menjadi acara tahunan tanpa bekas dalam kehidupan dan akhlak kita.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ لَنْ يَنَالَ اللّٰهَ لُحُوْمُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلٰكِنْ يَنَالُهُ التَّقْوٰى مِنْكُمْ ﴾
(QS. Al-Hajj: 37)
Artinya :
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian
Ayat ini mengingatkan bahwa inti Idul Adha bukan sekadar penyembelihan hewan, melainkan penyembelihan sifat-sifat buruk dalam diri manusia.
Sudahkah setelah Idul Adha:
1. kita menjadi lebih rajin shalat?
2. lebih lembut kepada keluarga?
3. lebih peduli kepada tetangga?
4. lebih jujur dalam pekerjaan?
5. Lebih ringan bersedekah?
6. dan lebih dekat kepada Allah?
Jika belum ada perubahan, maka kita perlu bermuhasabah.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Idul Adha mengajarkan tentang ketaatan tanpa banyak alasan. Nabi Ibrahim diperintah Allah untuk menyembelih putranya Ismail. Sebuah ujian yang sangat berat. Tetapi Nabi Ibrahim tidak membantah. Nabi Ismail pun tidak memberontak.
Allah mengabadikan kisah itu dalam Al-Qur’an:
﴿ قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ ۖ سَتَجِدُنِيْ إِنْ شَاءَ اللّٰهُ مِنَ الصَّابِرِيْنَ ﴾
(QS. Ash-Shaffat: 102)
Artinya :
“Wahai ayahku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaAllah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar
Inilah pelajaran besar bagi kita. Bahwa seorang mukmin sejati adalah yang mendahulukan perintah Allah di atas hawa nafsu dan kepentingan dunia.
Hari ini banyak manusia lebih taat kepada tren daripada tuntunan. Lebih takut kehilangan jabatan daripada kehilangan iman. Lebih sibuk menjaga citra di media sosial daripada menjaga amal di hadapan Allah.
Karena itu Idul Adha harus melahirkan perubahan sikap dalam hidup kita.
Jamaah Jumat rahimakumullah,
Selain mengajarkan ketaatan, Idul Adha juga mengajarkan kepedulian sosial. Qurban mendidik kita agar tidak hidup sendiri dan hanya memikirkan diri sendiri.
Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya.”
(HR. Ahmad)
Maka setelah Idul Adha jangan berhenti berbagi. Jangan hanya peduli ketika ada pembagian qurban. Jadilah muslim yang ringan membantu tetangga, peduli kepada fakir miskin, menyantuni anak yatim, dan memakmurkan masjid.
Karena umat yang kuat adalah umat yang saling menguatkan.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Kita juga harus menjaga keluarga kita setelah Idul Adha. Jangan sampai rumah kita ramai dengan gadget tetapi sepi dari Al-Qur’an. Ramai tontonan tetapi jarang shalat berjamaah.
Allah Ta’ala berfirman:
﴿ يَا أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوا قُوا أَنْفُسَكُمْ وَأَهْلِيْكُمْ نَارًا ﴾
(QS. At-Tahrim: 6)
Artinya :
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Mari jadikan momentum Idul Adha sebagai awal memperbaiki keluarga:
1. membiasakan shalat berjamaah,
2. membimbing anak mengaji,
3. membatasi pengaruh buruk media sosial,
4. dan memperbanyak doa untuk anak-anak kita.
Karena keluarga yang kuat imannya akan melahirkan masyarakat yang kuat pula.
أَقُوْلُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ فَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.
Khutbah Kedua
اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ حَمْدًا كَثِيْرًا كَمَا أَمَرَ، أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ.
اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِيْنَ.
Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,
Marilah kita terus menjaga semangat ibadah setelah Idul Adha. Jangan menjadi hamba yang rajin hanya di musim tertentu, tetapi lalai di hari-hari berikutnya.
Allah lebih mencintai amal yang sedikit tetapi istiqamah daripada semangat sesaat lalu hilang.
Mari kita isi hidup dengan:
memperbanyak dzikir,
membaca Al-Qur’an,
menjaga shalat berjamaah,
mempererat silaturahim,
dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Semoga Idul Adha benar-benar mengubah diri kita menjadi pribadi yang lebih bertakwa.
اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ.
اَللّٰهُمَّ أَصْلِحْ شَبَابَنَا وَنِسَاءَنَا وَأُسَرَنَا، وَاحْفَظْ أَوْلَادَنَا مِنْ فِتَنِ الزَّمَانِ.
رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
إِنَّ اللّٰهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيْتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُوْنَ.
فَاذْكُرُوا اللّٰهَ الْعَظِيْمَ يَذْكُرْكُمْ وَاشْكُرُوْهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللّٰهِ أَكْبَرُ، وَاللّٰهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُوْنَ.




