Khutbah Shalat Gerhana : Tidak Ada Mitos Dalam Gerhana

Khutbah Shalat Gerhana : Tidak Ada Mitos Dalam Gerhana
Oleh : Hanif Sidiq Aryanto (MTT PCM Kemranjen Banyumas)
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ، وَنَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللَّهُ فَلَا مُضِلَّ لَهُ، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَا هَادِيَ لَهُ.
أَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَسَلَّمَ تَسْلِيمًا كَثِيرًا.
أَمَّا بَعْدُ: فَيَا أَيُّهَا النَّاسُ، إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ، لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، وَلَكِنْ يُخَوِّفُ اللَّهُ بِهِمَا عِبَادَهُ، فَإِذَا رَأَيْتُمُوهُمَا فَافْزَعُوا إِلَى الصَّلَاةِ وَالدُّعَاءِ وَالذِّكْرِ وَالصَّدَقَةِ.
Segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam kita haturkan kepada junjungan mulia, Nabi agung Muhammad ﷺ, beserta keluarga beliau, para sahabat, para tābi‘īn, tābi‘ut‑tābi‘īn, dan kaum muslimin semuanya hingga hari kiamat nanti.
Bapak Ibu kaum muslimin yang dimuliakan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda :
عَنْ أَبِي مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ:
إِنَّ الشَّمْسَ وَالْقَمَرَ آيَتَانِ مِنْ آيَاتِ اللهِ، لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ، فَإِذَا رَأَيْتُمْ ذَلِكَ فَادْعُوا اللهَ وَكَبِّرُوا وَصَلُّوا وَتَصَدَّقُوا ( رواه البخاري ومسلم. )
Dari Abu Mas‘ud ra., ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Maka apabila kalian melihat hal itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Saudaraku, kaum muslimin rahimakumullah
Dahulu, pada zaman Nabi ﷺ, terjadi gerhana yang bertepatan dengan wafatnya putra beliau, yaitu Ibrāhīm. Orang-orang pun mengira bahwa gerhana tersebut memiliki keterkaitan dengan wafatnya putra beliau. Muncullah asumsi dari angan-angan yang, jika dibiarkan, pastilah akan menjadi mitos yang menyebar.
Maka Rasulullah ﷺ segera meluruskan asumsi tersebut. Beliau dengan segera menuju masjid dan menegakkan shalat gerhana. Setelah itu, beliau menyampaikan sabda:
“Sesungguhnya matahari dan bulan adalah dua tanda dari tanda-tanda kebesaran Allah. Keduanya tidak mengalami gerhana karena kematian seseorang atau karena kehidupannya. Maka apabila kalian melihat hal itu, berdoalah kepada Allah, bertakbirlah, shalatlah, dan bersedekahlah.”
Saudaraku, kaum muslimin yang dirahmati Allah
Maka tidak ada mitos-mitos tertentu terkait dengan gerhana, apakah itu disebabkan oleh kematian atau kelahiran. Tidak pula sebagaimana keyakinan sebagian orang Jawa bahwa bulan sedang dimakan “butha ijo”, atau bahwa gerhana membawa “pageblug” (bencana) sehingga hewan-hewan ternak harus dibangunkan, wanita hamil tujuh bulan harus mandi air kembang, dan lain sebagainya.
Matahari dan bulan adalah tanda keagungan dan kekuasaan Allah Ta’ala.
لَا يَنْخَسِفَانِ لِمَوْتِ أَحَدٍ وَلَا لِحَيَاتِهِ
Matahari dan bulan tidak mengalami gerhana karena kematian atau kelahiran seseorang. Akan tetapi, gerhana terjadi karena posisi Bumi, Bulan, dan Matahari berada sejajar sehingga salah satu benda langit menutupi cahaya benda langit lainnya.
Gerhana matahari terjadi saat Bulan berada di antara Bumi dan Matahari, sedangkan gerhana bulan terjadi saat Bumi berada di antara Matahari dan Bulan.
Saudaraku, rahimakumullah
Sejatinya, gerhana merupakan mukjizat ilmiah yang Allah ajarkan kepada kita, agar kita merenungkan kebesaran-Nya dalam mengatur orbit matahari dan bulan yang tetap serta teratur. Allah Ta’ala berfirman :
هُوَ الَّذِي جَعَلَ الشَّمْسَ ضِيَاءً وَالْقَمَرَ نُورًا وَقَدَّرَهُ مَنَازِلَ لِتَعْلَمُوا عَدَدَ السِّنِينَ وَالْحِسَابَ ۚ
Dialah yang menjadikan matahari bersinar dan bulan bercahaya, dan Dia menetapkan bagi bulan manzilah-manzilah (fase-fase), agar kamu mengetahui bilangan tahun dan perhitungan (waktu). ( Qs. Yunus 5 )
Allah mengatur orbit matahari dan bulan dengan tetap, sehingga kita dapat menghitung dan menetapkan kalender, baik itu kalender syamsiyah maupun qamariyah. Dengan demikian, dapat pula diketahui kapan terjadinya gerhana, bahkan hingga 50 tahun yang akan datang.
Kaum muslimin, rahimakumullah
Lalu apakah yang semestinya kita lakukan ketika terjadi gerhana ?
Pertama :
فَادْعُوا اللهَ
Berdoalah kepada Allah untuk kebaikan, namun jangan sekali-kali memiliki keyakinan bahwa bulanlah yang mengabulkan doa, atau berwasilah dengan bulan untuk mengabulkan doa. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Mengabulkan doa.
Kedua :
كَبِّرُوا
Perbanyaklah takbir memuji kebesaran Allah dan berdzikir hingga gerhana usai.
Ketiga :
وَصَلُّوا
Tunaikanlah shalat sunnah gerhana
Keempat :
وَتَصَدَّقُوا
Perbanyaklah bersedekah.
Saudaraku, rahimakumullah
Itulah yang diajarkan oleh Rasulullah ﷺ. Untuk itu, mari kita amalkan sunnah tersebut dan jauhi segala macam mitos yang membawa kepada takhayul, khurafat, dan bid‘ah.
Marilah kita berdoa kepada Allah, Dzat yang Maha Mengabulkan doa. Semoga kita semua dijauhkan dari segala bentuk kesesatan, diberikan keistiqamahan dalam Islam hingga akhir hayat, serta dianugerahi husnul khātimah. Āmīn yā Rabbal-‘ālamīn.
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، حَمْدًا يُوَافِي نِعَمَهُ وَيُكَافِئُ مَزِيدَهُ، يَا رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ كَمَا يَنْبَغِي لِجَلَالِ وَجْهِكَ وَعَظِيمِ سُلْطَانِكَ
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدَيْنَا، وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانَا صِغَارًا
اَللَّهُمَّ إِنَّا نَسْأَلُكَ سَلاَمَة ًفِى الدِّيْنِ وَعَافِيَة ًفِى اْلجَسَدِ وَ زِيَادَةً فِى اْلعِلْمِ وَبَرَكَةً فِى الِّرزْقِ وَتَوْبَةً قَبْلَ الْمَوْتِ وَرَحْمَةً عِنْدَ اْلمَوْتِ وَمَغْفِرَةً بَعْدَ الْمَوْتِ
رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَتُبْ عَلَيْنَا إِنَّكَ أَنْتَ التَّوَّابُ الرَّحِيم
رَبَّنَا أَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي اْلأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ
وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ




