Belajar Ridha Tanpa Berhenti Berusaha Saat Hidup Tidak Sesuai Rencana

Setiap orang pasti memiliki rencana dalam hidupnya. Ada yang merencanakan pendidikan, pekerjaan, keluarga, usaha, maupun impian-impian besar lainnya. Kita menyusun target, menghitung langkah, dan berharap semua berjalan sesuai dengan keinginan. Namun, kenyataan hidup sering menghadirkan cerita yang berbeda. Ada rencana yang tertunda, harapan yang belum terwujud, bahkan ada perjalanan yang berubah arah tanpa pernah kita bayangkan sebelumnya.
Pada titik itulah manusia sering bertanya, “Mengapa ini terjadi?” atau “Mengapa usaha yang sudah dilakukan belum memberikan hasil seperti yang diharapkan?” Pertanyaan seperti itu sangat manusiawi. Sebab, manusia memang memiliki harapan. Akan tetapi, Islam mengajarkan bahwa kehidupan bukan hanya tentang mendapatkan semua yang kita inginkan, melainkan tentang bagaimana tetap dekat dengan Allah dalam setiap keadaan.
Salah satu pelajaran besar dalam hidup adalah belajar ridha. Ridha bukan berarti menyerah. Ridha bukan berarti berhenti berusaha lalu membiarkan semuanya terjadi begitu saja. Ridha adalah kemampuan hati untuk menerima ketentuan Allah setelah kita melakukan ikhtiar terbaik.
Terkadang kita menganggap sesuatu baik karena sesuai dengan keinginan kita. Sebaliknya, kita menganggap sesuatu buruk karena berbeda dari rencana yang telah dibuat. Padahal, pandangan manusia sangat terbatas. Kita hanya melihat apa yang terjadi hari ini, sementara Allah mengetahui seluruh perjalanan hidup kita.
Allah Swt. Berfirman dalam Al-Qur’an Surat Al-Baqarah ayat 216:
كُتِبَ عَلَيْكُمُ الْقِتَالُ وَهُوَ كُرْهٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْ ۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْ ۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَ
“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi pula kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216)
Ayat ini mengingatkan bahwa tidak semua yang tertunda berarti buruk. Tidak semua kegagalan berarti akhir perjalanan. Bisa jadi ada kebaikan yang sedang Allah siapkan melalui jalan yang berbeda. Banyak orang baru memahami hikmah sebuah kejadian setelah melewati waktu yang panjang. Dahulu merasa kecewa karena gagal mendapatkan sesuatu, tetapi beberapa tahun kemudian menyadari bahwa kegagalan tersebut justru membawanya pada keadaan yang lebih baik.
Ada seseorang yang gagal diterima di tempat kerja impiannya, tetapi kemudian menemukan pekerjaan lain yang lebih membawa keberkahan. Ada yang kecewa karena sebuah rencana tertunda, tetapi ternyata penundaan itu menjadi jalan untuk memperbaiki diri. Ada pula yang kehilangan sesuatu yang sangat diinginkan, tetapi akhirnya mendapatkan sesuatu yang lebih dibutuhkan. Begitulah cara Allah mendidik manusia. Tidak selalu dengan memberikan apa yang kita minta, tetapi dengan memberikan apa yang terbaik menurut ilmu-Nya.
Namun, menerima takdir bukan berarti meninggalkan usaha. Seorang muslim diajarkan untuk tetap bergerak, bekerja, dan memperbaiki keadaan. Kita tidak mengetahui takdir yang akan datang, maka tugas manusia adalah berikhtiar dengan sungguh-sungguh.
Nabi Muhammad ﷺ memberikan teladan tentang keseimbangan antara usaha dan tawakal. Beliau mengajarkan bahwa keyakinan kepada Allah harus disertai dengan tindakan nyata. Dalam sebuah hadis disebutkan, seseorang bertanya kepada Rasulullah saw., “Wahai Rasulullah, apakah aku harus mengikat untaku lalu bertawakal atau melepaskannya saja lalu bertawakal?” Rasulullah menjawab:
“Ikatlah untamu, kemudian bertawakallah.” (HR. Tirmidzi)
Pesan hadis ini sederhana tetapi sangat mendalam. Tawakal bukan alasan untuk berhenti berusaha. Tawakal hadir setelah manusia melakukan usaha terbaik yang mampu dilakukan. Dalam kehidupan sehari-hari, kita perlu memahami mana yang menjadi bagian kita dan mana yang menjadi ketentuan Allah. Belajar, bekerja keras, menjaga hubungan baik, memperbaiki kemampuan, dan melakukan kebaikan adalah bagian yang bisa kita usahakan. Namun, hasil akhir, waktu terbaik, dan jalan kehidupan adalah wilayah kekuasaan Allah.
Sering kali yang membuat hati lelah bukan hanya karena masalah yang datang, tetapi karena kita terlalu ingin mengendalikan semua hal. Kita lupa bahwa manusia hanya mampu merencanakan, sedangkan Allah yang menentukan perjalanan. Maka ketika hidup tidak berjalan sesuai rencana, jangan terburu-buru merasa gagal. Mungkin Allah sedang mengajarkan kesabaran. Mungkin Allah sedang menguatkan hati. Mungkin Allah sedang mengarahkan kita menuju jalan yang lebih baik.
Teruslah berusaha, meskipun hasilnya belum terlihat. Teruslah berdoa, meskipun jawabannya belum datang. Teruslah memperbaiki diri, meskipun perjalanan terasa lambat. Ridha membuat hati menjadi tenang, sedangkan usaha membuat hidup terus bergerak. Keduanya perlu berjalan bersama. Orang yang ridha tetapi tetap berusaha akan memahami bahwa setiap langkah yang dilakukan memiliki nilai di hadapan Allah.
Pada akhirnya, hidup bukan hanya tentang semua rencana kita menjadi kenyataan. Hidup juga tentang belajar percaya bahwa rencana Allah selalu memiliki hikmah. Sebab, apa yang kita inginkan belum tentu yang terbaik, tetapi apa yang Allah tetapkan pasti mengandung kebaikan.
Berusahalah dengan maksimal, berdoalah dengan penuh harapan, lalu terimalah hasilnya dengan hati yang lapang. Karena terkadang, jalan yang tidak pernah kita pilih justru menjadi jalan terbaik yang Allah siapkan.
Duwi Saputro, M.Pd.
Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3




