Oleh: Daru Nurdianna, M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jateng Angkatan Ke-3)
Suatu hari, seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ dan bertanya:
مَتَى السَّاعَةُ؟
“Kapan hari kiamat akan terjadi?”
Pertanyaan itu mungkin terdengar sangat besar, bahkan menakutkan. Namun Rasulullah ﷺ tidak langsung menjelaskan tanda-tanda kiamat, tidak pula menyebutkan kapan waktunya akan datang. Beliau justru mengarahkan perhatian kepada sesuatu yang jauh lebih penting:
«وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا؟»
“Apa yang telah engkau persiapkan untuk menghadapinya?”
Laki-laki itu menjawab dengan penuh kejujuran. Ia tidak merasa memiliki banyak amalan istimewa. Ia tidak membanggakan shalat sunnahnya, puasanya, ataupun sedekahnya. Namun ia memiliki sesuatu yang sangat berharga di dalam hatinya.
Ia berkata:
مَا أَعْدَدْتُ لَهَا مِنْ كَثِيرِ صَلَاةٍ وَلَا صَوْمٍ وَلَا صَدَقَةٍ، وَلَكِنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ
“Aku tidak memiliki banyak persiapan berupa shalat, puasa, maupun sedekah. Akan tetapi, aku mencintai Allah dan Rasul-Nya.”
Mendengar jawaban itu, Rasulullah ﷺ memberikan sebuah kabar gembira yang begitu menggetarkan hati para sahabat:
«أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”
Tidak berlebihan jika hadis ini menjadi salah satu hadis yang paling membahagiakan para sahabat. Anas bin Malik ra. bahkan mengatakan bahwa setelah memeluk Islam, hampir tidak ada sesuatu yang lebih menggembirakan mereka selain sabda Rasulullah ﷺ tersebut.
Mengapa?
Karena mereka menyadari bahwa amal mereka mungkin tidak akan mampu menyamai amal Rasulullah ﷺ, Abu Bakar ra., atau Umar ra. Namun mereka memiliki sesuatu yang mereka harapkan dapat mengantarkan kepada kebersamaan dengan orang-orang mulia itu: cinta.
**
Kisah dalam hadis ini menghadirkan sebuah pergeseran perspektif yang sangat menarik. Ketika manusia sibuk bertanya tentang masa depan, Rasulullah ﷺ justru mengarahkan perhatian kepada persiapan menuju masa depan tersebut. Pertanyaan tentang kapan kiamat terjadi dianggap kurang penting dibandingkan pertanyaan yang jauh lebih mendasar: apa bekal yang telah dipersiapkan untuk menghadap Allah?
Di antara bekal yang disebutkan dalam hadis tersebut adalah cinta kepada Allah dan Rasul-Nya. Bahkan para sahabat merasa sangat bergembira ketika mendengar sabda Nabi ﷺ bahwa seseorang akan bersama dengan orang yang dicintainya.
Di sinilah letak salah satu tujuan terpenting mempelajari Sirah Nabawiyah.
Sirah sebagai Jalan Menuju Mahabbah
Dalam berbagai majelis ilmu, sirah Nabi sering dipelajari dari beragam sudut pandang. Ada yang menyoroti aspek politik kenegaraan, strategi peperangan, manajemen organisasi, diplomasi, ekonomi, pendidikan, bahkan teori kepemimpinan.
Pendekatan-pendekatan tersebut tentu memiliki nilai dan manfaatnya masing-masing. Para akademisi, peneliti, dan praktisi dapat mengambil pelajaran yang sangat berharga dari kehidupan Rasulullah ﷺ.
Namun bagi masyarakat umum, terutama jamaah masjid, para orang tua, dan kaum Muslimin yang ingin memperbaiki kualitas keimanannya, terdapat sebuah kerangka yang lebih mendasar dan lebih penting untuk dikedepankan.
Sirah Nabawiyah pertama-tama perlu dipelajari sebagai sarana untuk mengenal Rasulullah ﷺ agar tumbuh kecintaan kepada beliau, bukan semata-mata sebagai gudang inspirasi untuk memecahkan persoalan politik, ekonomi, sosial, atau budaya.
Kerangka ini penting ditegaskan karena tujuan akhir seorang Muslim bukanlah menjadi ahli strategi politik Islam, bukan pula menjadi pakar ekonomi Islam, melainkan menjadi hamba yang selamat ketika menghadap Allah SWT.
Dalam konteks tersebut, sirah berfungsi sebagai jalan menuju penguatan iman dan penumbuhan cinta kepada Rasulullah ﷺ.
Dari Pengetahuan Menuju Pengenalan
Dalam tradisi keilmuan Islam terdapat perbedaan antara mengetahui dan mengenal.
Seseorang dapat mengetahui nama Rasulullah ﷺ, tahun kelahiran beliau, nama ayah dan ibunya, serta berbagai peristiwa penting dalam hidup beliau. Akan tetapi pengetahuan seperti ini belum tentu melahirkan kedekatan emosional maupun spiritual.
Sebaliknya, pengenalan yang mendalam akan melahirkan penghormatan, kekaguman, dan cinta.
Karena itu, tujuan utama kajian sirah bukan sekadar memindahkan informasi sejarah dari buku ke kepala jamaah. Tujuan yang lebih penting adalah menghadirkan sosok Rasulullah ﷺ ke dalam kesadaran dan hati kaum Muslimin.
Ketika seseorang mengetahui bagaimana Rasulullah ﷺ menghadapi kehilangan orang-orang yang dicintainya, ia belajar kesabaran.
Ketika ia mengetahui bagaimana Rasulullah ﷺ memaafkan musuh-musuhnya, ia belajar kelapangan hati.
Ketika ia mengetahui bagaimana Rasulullah ﷺ beribadah hingga kedua kaki beliau bengkak, ia belajar makna syukur kepada Allah.
Sirah tidak berhenti pada informasi, tetapi bergerak menuju transformasi.
Mengapa Kerangka Ini Penting bagi Masyarakat Awam?
Dalam beberapa dekade terakhir, sebagian kajian sirah terkadang lebih banyak menonjolkan aspek-aspek instrumental. Sirah diposisikan sebagai sumber strategi politik, inspirasi gerakan sosial, teori manajemen, atau model pembangunan peradaban.
Semua itu memang dapat ditemukan dalam kehidupan Rasulullah ﷺ. Akan tetapi apabila aspek-aspek tersebut ditempatkan sebagai tujuan utama, maka masyarakat awam berisiko kehilangan pesan yang paling mendasar dari sirah itu sendiri.
Masyarakat tidak pertama-tama membutuhkan teori geopolitik Madinah. Mereka membutuhkan kecintaan kepada Rasulullah ﷺ.
Masyarakat tidak pertama-tama membutuhkan analisis ekonomi pasar Madinah. Mereka membutuhkan keteladanan kejujuran Rasulullah ﷺ.
Masyarakat tidak pertama-tama membutuhkan kajian peperangan Islam. Mereka membutuhkan kelembutan akhlak Rasulullah ﷺ dalam kehidupan sehari-hari.
Karena itu, kerangka yang lebih tepat bagi pengajian masyarakat adalah kerangka tarbawi dan spiritual: bagaimana setiap kisah dalam sirah dapat menambah keimanan, memperbaiki akhlak, serta memperkuat kerinduan kepada Rasulullah ﷺ.
Sirah sebagai Bekal Menghadap Allah
Kembali kepada hadis tentang hari kiamat, Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa pertanyaan terpenting bukanlah apa yang terjadi di masa depan, melainkan apa yang telah dipersiapkan untuk menghadapinya.
Di sinilah sirah menemukan relevansinya.
Setiap kali kita mempelajari kehidupan Rasulullah ﷺ, sesungguhnya kita sedang menambah bekal perjalanan menuju Allah SWT. Kita sedang belajar mencintai orang yang kelak sangat kita harapkan syafaatnya. Kita sedang berusaha mengenal pribadi yang ingin kita jumpai di akhirat.
Maka kajian sirah seharusnya tidak hanya menghasilkan kekaguman intelektual terhadap sejarah Islam, tetapi juga melahirkan kerinduan spiritual kepada Rasulullah ﷺ.
Jika setelah mengikuti kajian sirah seseorang menjadi lebih rajin bershalawat, lebih lembut kepada keluarganya, lebih jujur dalam pekerjaannya, lebih sabar menghadapi ujian, dan lebih rindu untuk berjumpa dengan Rasulullah ﷺ, maka tujuan kajian tersebut telah tercapai.
Sebab pada akhirnya, sirah bukan hanya tentang masa lalu. Sirah adalah jalan untuk mempersiapkan masa depan yang paling penting, yaitu saat setiap manusia berdiri di hadapan Allah SWT.
Dan pada hari itu, tidak ada kabar yang lebih menenangkan daripada sabda Rasulullah ﷺ:
أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ
“Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai.”




