AkhlaqArtikelTuntunan

MENJADI USTADZ USTADZAH AI

Ketika Dakwah Masuk ke Dunia Avatar, Suara Sintetis, dan Video Generatif

Fenomena ustadzah Nia Hajar AI, viral dan menuai kontroversi! Apakah dalam videonya ada kesalahan? Apakah tidak boleh 100%? Apakah ada manfaatnya? Adakah mudharatnya? Jawabnya” “Tidak otomatis”.

Coba buka TikTok atau YouTube Shorts. Di antara video resep, berita, dan hiburan, kita mungkin menemukan “ustadz” atau “ustadzah” yang tampil sangat rapi. Wajahnya tenang, suaranya lembut, latar masjidnya indah, dan nasihatnya selesai dalam satu menit. Sekilas tidak ada yang aneh. Namun setelah diperhatikan, gerak bibirnya terlalu mulus, intonasinya terasa datar, atau wajahnya seperti tidak pernah berkedip. Bisa jadi sosok itu bukan manusia yang sedang berceramah, melainkan avatar yang dibuat dengan kecerdasan buatan.

Fenomena ini semakin mudah dijumpai karena membuat video AI kini tidak lagi membutuhkan studio mahal. Seseorang dapat menulis naskah dengan chatbot, membuat wajah virtual, memilih suara sintetis, menambahkan gerak tubuh, lalu mengunggahnya dalam waktu singkat. Hasilnya bisa menarik, bahkan tampak lebih rapi daripada rekaman ceramah biasa. Di sinilah muncul istilah yang menggelitik: “ustadz AI” atau “ustadzah AI”.

Ustadzah Nia Hajar AI

Teknologi pada dasarnya adalah alat. Kamera, mikrofon, pengeras suara, radio, televisi, dan media sosial juga pernah dianggap baru dalam dunia dakwah. Kini semuanya sudah menjadi bagian dari kegiatan menyampaikan pesan Islam. AI pun dapat menjadi wasilah yang berguna: membantu membuat subtitle, menerjemahkan ceramah, menyederhanakan bahasa, menyiapkan ilustrasi, memperbaiki kualitas suara, atau menghadirkan materi bagi orang yang sulit mengakses kajian langsung.

Masalahnya bukan semata-mata pada gambar buatan atau suara sintetis. Masalah muncul ketika penonton tidak diberi tahu bahwa sosok tersebut adalah hasil AI, ketika dalil disampaikan tanpa pemeriksaan, atau ketika avatar digital berbicara seolah-olah memiliki ilmu dan kewenangan agama. Sorban dapat dibuat oleh aplikasi, tetapi ilmu, sanad, adab, dan tanggung jawab tidak dapat dirender dalam beberapa klik.

AI Bisa Membantu Dakwah, tetapi Tidak Menjadi Ulama

AI mampu menyusun kalimat yang terdengar meyakinkan. Ia dapat menjelaskan ayat, merangkum kitab, menulis naskah khutbah, dan menjawab pertanyaan fikih. Namun kemampuan menghasilkan bahasa yang bagus tidak sama dengan memahami agama. AI tidak memiliki iman, niat, pengalaman ibadah, guru, sanad keilmuan, atau tanggung jawab di hadapan Allah. Ia bekerja dengan mengenali pola dari data, lalu menyusun jawaban yang diperkirakan paling sesuai.

Karena itu, AI dapat berperan sebagai asisten, tetapi bukan sebagai mufti. Ia dapat membantu mencari calon sumber, tetapi tidak boleh menjadi penentu akhir benar-salahnya sebuah hukum. Ia dapat membuat kerangka ceramah, tetapi dai manusialah yang harus memeriksa dalil, memahami konteks, menimbang dampak, dan mempertanggungjawabkan pesan yang disampaikan.

Al-Qur’an mengingatkan, “Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui” (QS. Al-Isra’ [17]: 36). Ayat ini terasa sangat dekat dengan kebiasaan kita di media sosial. Jangan langsung percaya hanya karena videonya terlihat Islami. Jangan langsung membagikan hanya karena suaranya menyentuh. Jangan menganggap sebuah kutipan benar hanya karena di layar tertulis “HR. Bukhari” atau nama seorang ulama. Penampilan dapat dibuat; kebenaran tetap harus diperiksa.

 Ustadz dan Ustadzah AI di TikTok dan YouTube

Platform video pendek bekerja dengan kecepatan. Konten yang singkat, emosional, dan mudah dibagikan sering memperoleh perhatian lebih besar. Video AI sangat cocok dengan pola tersebut: dapat diproduksi cepat, dibuat dalam banyak versi, diterjemahkan ke berbagai bahasa, dan diunggah secara rutin. Bagi lembaga dakwah, kemampuan ini tentu menarik. Satu materi kajian dapat diubah menjadi potongan satu menit, infografik bergerak, narasi suara, dan versi bahasa lain.

Namun algoritma tidak selalu memilih konten yang paling benar atau paling mendalam. Algoritma cenderung mengangkat konten yang membuat orang berhenti, menonton, berkomentar, atau membagikan. Akibatnya, nasihat yang sensasional dapat mengalahkan penjelasan yang hati-hati. Judul seperti “Lakukan Ini, Rezeki Pasti Datang Besok” mungkin lebih cepat viral daripada uraian jujur tentang ikhtiar, doa, takdir, dan kesabaran.

Di sinilah “ustadz AI” dapat berubah dari alat dakwah menjadi mesin produksi otoritas semu. Wajahnya tampak saleh, suaranya meyakinkan, tetapi siapa penulis naskahnya? Dari mana sumber dalilnya? Siapa yang memeriksa? Apakah video itu mewakili pendapat lembaga tertentu, atau hanya dibuat untuk mengejar jumlah penonton? Pertanyaan-pertanyaan ini perlu diajukan dengan tenang, bukan untuk menolak teknologi, tetapi untuk menjaga amanah ilmu.

Menjadi Ustadz Ustadzah AI yang Amanah

“Menjadi ustadz atau ustadzah AI” sebaiknya tidak dimaknai sebagai menyerahkan dakwah kepada mesin. Maknanya adalah menjadi dai, guru, pengelola media, atau kreator Muslim yang mampu menggunakan AI dengan cerdas dan beradab. Teknologinya boleh modern, tetapi prinsipnya tetap Islami.

Pertama, jujurlah mengenai penggunaan AI. Apabila wajah, suara, atau video dibuat secara sintetis, beri keterangan yang jelas. TikTok dan YouTube telah menyediakan mekanisme penandaan untuk konten yang dibuat atau diubah secara bermakna dengan AI. Transparansi bukan kekurangan; justru itulah bagian dari amanah. Penonton berhak mengetahui apakah yang mereka lihat adalah manusia nyata, avatar, rekonstruksi, atau hasil penyuntingan.

Kedua, pastikan ada manusia berilmu di balik konten. Naskah yang dibuat dengan bantuan AI harus dibaca ulang. Ayat perlu diperiksa surah dan nomornya. Hadis perlu ditelusuri sumber dan statusnya. Pendapat fikih harus disebutkan konteks serta perbedaan pandangannya. Untuk persoalan hukum agama yang serius, rujukan tetap harus kembali kepada ulama, majelis tarjih, lembaga fatwa, atau guru yang kompeten.

Ketiga, jangan memakai wajah atau suara tokoh tanpa izin. Video yang meniru ulama tertentu dapat menyesatkan jamaah, merusak nama baik, dan menjadi bentuk kebohongan digital. Bahkan ketika pesannya baik, cara yang tidak jujur dapat menghilangkan keberkahan. Dakwah tidak hanya dinilai dari isi, tetapi juga dari proses dan adabnya.

Keempat, hindari janji agama yang berlebihan. AI mudah diminta membuat kalimat dramatis, tetapi dakwah bukan perlombaan membuat orang terkejut. Jangan mengubah doa menjadi formula pasti, ibadah menjadi transaksi instan, atau perbedaan fikih menjadi bahan saling merendahkan. Allah memerintahkan dakwah dengan hikmah, nasihat yang baik, dan dialog dengan cara terbaik (QS. An-Nahl [16]: 125).

Kelima, sediakan jalan menuju sumber asli. Video satu menit sebaiknya menjadi pintu, bukan ujung. Cantumkan rujukan, tautan kajian lengkap, nama kitab, keputusan lembaga, atau penjelasan guru. Konten pendek dapat menarik perhatian, tetapi pemahaman agama membutuhkan proses belajar yang lebih panjang, sabar, dan bertahap.

Tabayyun Sebelum Menekan Tombol Bagikan

Penonton juga memiliki tanggung jawab. Ketika melihat ustadz atau ustadzah virtual, kita tidak perlu langsung curiga, tetapi juga jangan langsung percaya. Periksa akun pengunggahnya. Lihat apakah ada keterangan AI. Cari sumber ayat dan hadisnya. Bandingkan dengan situs resmi atau penjelasan ulama tepercaya. Jika isinya memprovokasi, menjanjikan sesuatu secara berlebihan, atau menyerang kelompok lain, berhentilah sejenak sebelum membagikan.

Inilah tabayyun digital. QS. Al-Hujurat [49]: 6 mengajarkan agar berita diperiksa supaya kita tidak merugikan orang lain karena ketidaktahuan. Pada masa lalu, berita berpindah dari mulut ke mulut. Kini berita dapat diproduksi oleh mesin dan menyebar ke jutaan layar. Karena itu, semangat tabayyun bukan menjadi kurang penting, melainkan semakin mendesak.

Masa Depan Dakwah Tetap Memerlukan Manusia

AI akan membuat dakwah digital semakin kreatif. Kita mungkin akan melihat guru virtual yang dapat berbicara dalam banyak bahasa, kelas interaktif sepanjang hari, animasi sejarah Islam, simulasi manasik, atau video penjelasan fikih yang disesuaikan dengan usia penonton. Semua itu dapat membawa manfaat besar apabila dikembangkan dengan sumber yang sahih, pengawasan manusia, dan tujuan yang jelas.

Namun masa depan dakwah tidak boleh hanya dipenuhi oleh wajah-wajah sempurna yang tidak pernah hidup, suara-suara halus yang tidak pernah belajar, dan jawaban-jawaban cepat yang tidak memiliki tanggung jawab. Jamaah tetap membutuhkan manusia yang dapat ditanya, dikoreksi, diteladani, dan dimintai pertanggungjawaban. Kita membutuhkan guru yang bukan hanya berbicara tentang sabar, tetapi juga memperlihatkan kesabaran; bukan hanya menjelaskan adab, tetapi juga mempraktikkannya.

Jadi, menjadi “ustadz ustadzah AI” bukanlah menjadi tokoh agama buatan. Yang lebih tepat adalah menjadi Muslim yang menguasai teknologi tanpa dikuasai teknologi. AI berada di tangan, ilmu menjadi landasan, adab menjadi pagar, dan kemaslahatan umat menjadi tujuan. Dengan cara itulah video AI di TikTok dan YouTube dapat menjadi sarana dakwah yang bermanfaat—bukan sekadar tontonan yang tampak Islami.

Sumber bacaan: Kasmui, “Masa Depan AI dan Dakwah Islamiyah” (https://s.id/bukuputm); TikTok Support, “Tentang Konten yang Dihasilkan AI”; YouTube Help, “How This Content Was Made”; serta publikasi MUI mengenai AI, dakwah, dan otoritas keagamaan.

Kasmui

Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button