ArtikelTokoh

Tafsir Islami Pandawa Lima Dalam Seni Pewayangan

Oleh: M. Danusiri

📅 Sabtu, 11 Juli 2026 | 55 Zulhijah 1447 H

Seri dakwah kultural 1

TAFSIR ISLAMI PANDAWA LIMA DALAM DALAM SENI PEWAYANGAN

Oleh: M. Danusiri

Di tangan walisongo, terutama sunan Kalijaga, kitab suci Hinduisme “Bharata Yudha” didekonstruksi sangat dramatis menjadi media dakwah islamiyyah, meskipun kaum santri lebih banyak tidak mengenalnya, bahkan sebagian mengharamkan seni wayang karena di dalamnya ada ledhek, yaitu waranggono yang memainkan peran penyanyi, diiringi dengan tabuhan gamelan (instumen musik klasik disebut gong), semacam biduan dalam dangdut atau penyanyi dalam pentas seni musik kontemporer. Ledhek  dikonotasikan negatif berbau pornoisme, padahal tidak selalu demikian. 

Pandawa Lima, yaitu lima orang bersaudara: Yudistira, Bima, Arjuna, Nakula, dan Sadewa diubah secara maknawi menjadi personifikasi rukun Islam yang lima. Nama lain Yudistira Adalah Puntadewa, Makna aslinya adalah ujung tombak para dewa atau dewa yang berada di titik tertinggi. Secara filosofis merepresentasikan karakter tertua Pandawa yang menjadi panutan, memiliki kesucian moral, dan serta kesabaran nyaris tak terbatas.

Makna Puntadewa didekonstruksi menjadi rukun Islam yang pertama, yaitu syahadat. Itulah sebabnya dia memiliki senjata Bernama jamus kalimosodo. Istilah kalimosodo terambil dari Bahasa Arab kalimah syahadat, yaitu syahadat tauhid dan syahadat Rasul (Asyhadu an lâ ilâha ilallâh wa asyhadu anna Muĥammadan Rasûlullâh). Makna yang terkandung di dalamnya adalah orang hidup dikatakan Islam hakiki jika landasannya tauhidullâh (mengesakan Allah Ta’ala) dan itba’ sunnah Rasulillah (mengikuti sunnah Rasulillah). Syahadat harus menjiwai awal hingga puncak dalam beramal menjalani hidup, yaitu mulai dari niat dalam hati, beramal dengan anggota badan, maupun tujuannya, lillâhi Ta’ala. Amal baik apapun bentuknya jika tidak dilandasi dengan syahadat tidak berarti apap-apa, khususnya di akhirat kelak. Lebih fulgar lagi, ibadah, yang bersifat ritualistik seperti shalat dan puasa, harus berdasar kepada Alquran dan as-sunnah. 

Puntadewa hanya memiliki darah putih yang secara biologis tidak mungkin bisa hidup, tetapi fokusnya adalah penyampaian ajaran, yaitu mengandung filosofis bahwa dia adalah orang yang jujur dan tidak pernah bohong sedikitpun. Artinya jujur tidak bisa menyatu dengan bohong, sebagaimana amal Sholeh tidak menyatu dengan maksiat. Karakter Puntadewa relefan dengan Firman Allah:

وَقُلْ جَاۤءَ الْحَقُّ وَزَهَقَ الْبَاطِلُۖ اِنَّ الْبَاطِلَ كَانَ زَهُوْقًا (Katakanlah, Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap. Sesungguhnya yang batil itu pasti lenyap [QS al-Isra’/17:81]). 

 Untuk menjaga kejujuran, apalagi dia sebagai raja memang berat. Itulah sebabnya dia merupakan personifikasi sabar nyaris tanpa batas. Pengertian sabar lebih dominan tidak berbuat, meskipun nyawa terancam keselamatannya. Itulah sebabnya, dia memberikan nyawanya kalau memang diminta untuk dibunuh. Dia tidak pernah melukai hati maupun fisik seseorang, apalagi berperang yang berlaku hukum membunuh atau dibunuh. Tafsir syahadat hanya diucapkan sekali ketika memasuki agama Islam secara formal, yaitu ketika secara umum mencapai usia ‘aqil baligh, ditandai mimpi basah pertama bagi laki-laki atau menstruasi pertama bagi perempuan. 

Memabaca kalimah syahadat hanya membutuhkan waktu yang sangat singkat, kurang dari setengah menit, tetapi implementasinya berlaku sepanjang hayat. Sebagai awal hingga akhir kehidupan seseorang. Syahadat tidak tergambar beramal apapun dalam Islam, mengandung filosofis bahwa kenyataannya banyak orang yang beragama Islam tergolong nominalisme, berislam hanya namanya. Nama lainnya Islam KTP, tidak pernah shalat, kecuali dishalati ketika mati, atau shalat setiap hari raya, agak rajin membalik bilangan menjadi waktu. Mestinya sehari senalam shalat lima kali, menjadi lima hari lima malam hanya shalat sekali, sebagai satire mengatakan shalatnya hanya tiap jumat karena ada jumat berkah di sana. yaitu nasi bungkus yang dibagikan kepada jamaah shalat jumat.

Pesan yang terkandung di dalam syahadat relefan dengan kemurkaan Nabi terhadap Usamah bin Zaid yang tetap membunuh orang musrik yang tidak ada lagi tempat berlindung, sementara dia telah banyak membunuh kaum Muslimin. Demikian gambaran kemurkaan Nabi:

«فَكَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ، إذا جَاءَتْ يَومَ القِيَامَةِ؟» قال: يا رسولَ اللهِ، اسْتَغْفِرْ لِي. قال: «وكَيْفَ تَصْنَعُ بلا إلهَ إلا اللهُ إذا جَاءَتْ يَوْمَ القِيَامَةِ (Bagaimana kamu lakukan dengan lâ ilâha illallâh saat datang hari kiyamat? Ya Rasululah mintakan ampunan kepadaku. Beliau bersabda, Bagaimana kamu berbuat dengan lâ ilâha illallâh ketika datang hari kiyamat? (HR Muslim: 142). Pesan inti hadis ini adalah larangan membunuh orang yang telah mengucapkan lafal tahlil, meskipun tidak shalat sampai mati.

Ketika kemungkaran sudah di atas kemampuan untuk dicegah, Punta dewa berubah menjadi raksasa besar menumpas kejahatan dari manapun asalnya. Kejahatan itu pasti tumbang. Itulah yang dimaksud kalimosodo mengandung makna takbir Allâhu Akbar, tidak terlawan oleh kekuatan jahad sebesar apapun yang diperankan oleh Bathara Kala dan Bathari Durga. Keduanya adalah personifikasi puncak kejahatan.  Makna islaminya adalah iblis. 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button