Al-Attas dan The Covenants Fulfilled: Menunaikan Perjanjian dengan Tuhan
Oleh : Dr. Hamdan Maghribi, M.Phil (Dosen Pascasarjana UIN Surakarta)

Di tengah gemerlap dunia modern yang menyanjung sains, teknologi, dan sekularisme sebagai puncak peradaban, pertanyaan-pertanyaan tentang makna, kebenaran, dan agama seringkali terdengar asing, bahkan usang. Namun di sebuah malam penuh makna, 26 Januari 2025, di Merdeka Hall, Kuala Lumpur, suasana menjadi saksi bagi pertemuan akbar para pencari hikmah: para cendekia, pelajar, masyarakat umum, hingga para pemangku kuasa, berkumpul untuk mendengarkan ceramah ketiga dari Prof. Dr. Syed Muhammad Naquib al-Attas (selanjutnya ditulis SMNA), salah satu pemikir yang menyalakan api makna dalam dunia Islam kontemporer.
Dalam ceramah tersebut, SMNA membentangkan inti dari pemikirannya yang tertuang dalam bukunya, Islam: The Covenants Fulfilled. Dengan gaya tutur khasnya yang padat makna, al-Attas tidak hanya mengajak untuk memahami Islam secara historis, teologis, dan metafisis, tetapi juga menyentuh akar kesadaran umat tentang posisi unik Islam dalam sejarah manusia.
Dīn al-Haqq: Agama yang Benar dan Kebenaran Itu Sendiri
Islam, kata SMNA, bukanlah sekadar salah satu dari banyak agama di dunia. Ia bukan satu “dari sekian dīn” (adyān), tetapi “dīn al-ḥaqq”; agama yang benar dan kebenaran itu sendiri. Kata ḥaqq dalam bahasa Arab membawa dua makna sekaligus; kebenaran (truth) dan yang benar (the true). Maka, ketika al-Qur’an menyebut Islam sebagai dīn al-ḥaqq, itu berarti bahwa Islam bukan sekadar benar, tetapi ia adalah satu-satunya agama yang sejati.
Bertolak dari sini, SMNA membedakan antara dua istilah penting dalam kajian agama; millah dan dīn. Millah adalah sistem kepercayaan yang tumbuh dari budaya dan masyarakat sekitar tokoh tertentu, biasanya tokoh suci (saints) atau kepala suku, yang kemudian berkembang menjadi ajaran ritual dan hukum. Dalam sejarah manusia, banyak agama berasal dari millah ini. Namun Islam, meski juga melewati proses evolusi sejarah, bukanlah produk dari masyarakat. Ia adalah dīn yang diturunkan langsung oleh Allah melalui wahyu kepada Nabi-Nabi-Nya.
Menurut SMNA, meski secara leksikal kata millah dan dīn kadang digunakan saling menggantikan, keduanya sangat berbeda secara substansial. Dīn, berbeda dari millah, membawa misi universal, mengajak manusia kepada Tuhan yang Esa (tauḥīd), bukan dewa suku, bukan Tuhan nasional, dan bukan pula “Tuhan filsafat” seperti Aristoteles yang tak bergerak (the Unmoved Mover) atau Dewa-dewa mitologis yang penuh intrik.
Kapan Nama “Islam” Ditetapkan?
Salah satu pertanyaan kunci yang diajukan SMNA adalah, kapan sebenarnya nama Islam diwahyukan? Dalam penyelidikannya, al-Attas memeriksa seluruh al-Qur’an secara manual -tanpa bantuan perangkat lunak digital- dan menemukan bahwa istilah Islam serta Muslim tidak pernah digunakan oleh para Nabi terdahulu sebagai penamaan agama. Nabi Ibrāhīm, meski disebut sebagai ḥanīfan musliman, disebut demikian bukan dalam konteks zamannya sendiri, tetapi dalam rangka menjawab klaim Ahli Kitab oleh Nabi Muhammad.
Ini menunjukkan bahwa nama “Islam” sebagai penamaan agama belum pernah diwahyukan sebelumnya. Para Nabi terdahulu adalah muslim hanya dalam makna sebagai orang yang berserah diri (submitters), bukan sebagai penganut agama bernama Islam. Dengan kata lain, Islam sebagai nama dīn al-ḥaqq baru diwahyukan bersama kedatangan Nabi Muhammad. Maka Islam bukan kelanjutan linguistik dari ajaran sebelumnya, melainkan puncak wahyu Tuhan yang menunaikan seluruh janji kenabian.
Perjanjian Para Nabi: Penantian terhadap Nabi Terakhir
Menyambung gagasan di atas, SMNA mengingatkan akan Mīṡāq al-Nabiyyīn, perjanjian suci yang diabadikan dalam Q.S. Āli ‘Imrān ayat 81. Dalam perjanjian itu, Allah meminta kepada para Nabi terdahulu untuk menerima dan mendukung Nabi yang akan datang setelah mereka, yakni Nabi Muhammad. Mereka semua menerima dan mengakui perjanjian tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa kedatangan Nabi Muhammad bukan sekadar bagian dari rantai kerasulan, tetapi merupakan pemenuhan dari sebuah janji besar yang telah lama dinantikan.
Dalam pandangan SMNA, sejarah kenabian adalah sejarah pendidikan spiritual umat manusia. Sebelum Islam diwahyukan secara penuh, umat manusia dipersiapkan terlebih dahulu melalui īmān. Kata īmān dan bentuk verbanya, āmana, telah disebutkan dalam banyak ayat yang menggambarkan dakwah para Nabi terdahulu. Namun istilah Islām dan aslama belum disebutkan. Maka īmān adalah tahap awal, dan Islam adalah penggenapan. Dengan demikian, sejarah manusia bukanlah sekadar peristiwa politik atau budaya, tetapi perjalanan suci menuju puncak wahyu Ilahi.
Bahasa dan Hakikat Nama Allah
Salah satu poin unik dalam ceramah itu adalah pembahasan SMNA tentang nama “Allah”. Menurut al-Attas, nama ini tidak berasal dari akar bahasa manusia. Ia bukan hasil dari gabungan al (sang) dan ilāh (Tuhan), sebagaimana pendapat sebagian ulama. Nama “Allah” adalah nama Ilahi yang langsung diturunkan oleh Allah sendiri, bukan hasil konstruksi linguistik manusia.
Dalam menjelaskan hakikat bahasa, SMNA membedakan tiga aspek utama; lughah (bahasa dalam arti umum), lisān (bahasa sebagai ekspresi rasa dan makna), dan kalām (bahasa dalam bentuk logis dan diskursif). Nama “Allah” melampaui ketiga aspek ini karena ia menunjuk langsung kepada Realitas Tertinggi, Zat Yang Maha Esa. Karena itu, nama Allah tidak bisa disebut sekadar lafaz atau bunyi; ia menunjuk kepada Hakikat Tertinggi.
SMNA juga menyinggung pandangan al-Baiḍāwī, yang menyebut “Allah” sebagai lafẓ. Ia tidak sepenuhnya setuju. Bagi SMNA, lafẓ tidak cukup untuk menangkap makna ontologis dari nama Allah. Nama ini mencakup seluruh Asmā’ al-Ḥusnā, menyiratkan kesempurnaan Zat Tuhan, dan tidak bisa dikurung dalam batas-batas logika manusia.
Isrā’ Mi‘rāj dan Hakikat Manusia
Menjelang akhir ceramah, SMNA menyinggung peristiwa Isrā’ dan Mi‘rāj. Ia menegaskan bahwa peristiwa ini terjadi secara fisik, bukan semata pengalaman spiritual. Kehadiran Burāq sebagai kendaraan menunjukkan bahwa Nabi Muhammad benar-benar melakukan perjalanan tersebut dengan jasad dan ruh sekaligus.
Dari sini, SMNA mengulas mekanisme wahyu; bagaimana qalb (hati) manusia menerima pancaran ilahi, lalu diterjemahkan ke dalam bentuk bunyi oleh indra. Proses ini tidak mengubah tubuh, tapi memberi makna pada akal dan jiwa. Maka manusia, menurut al-Attas, tidak bisa disamakan dengan makhluk lain atau dianggap sebagai hasil evolusi buta. Manusia adalah makhluk istimewa, diciptakan dengan struktur ruhani dan jasmani yang mampu menanggung amanah Ilahi.
Menyucikan Sejarah dari Sekularisme
Salah satu agenda penting yang diusung SMNA adalah kritik terhadap cara sekular memahami sejarah. Dalam pendekatan sekular, sejarah agama dianggap sebagai produk sosial-budaya belaka, tanpa nilai sakral. SMNA membantah pandangan ini dengan menunjukkan bahwa sejarah adalah arena persiapan Tuhan bagi datangnya Islam. Setiap Nabi yang datang, setiap pesan īmān yang diembuskan, merupakan bagian dari rencana besar Allah untuk mengantar umat manusia pada wahyu yang sempurna.
Ini adalah usaha untuk men-dekonstruksi sejarah yang telah disekularisasi, dan mengembalikannya kepada kedudukan asal; sebagai bagian dari perjalanan ruhani umat manusia. Sejarah bukan hanya tentang kekuasaan dan peradaban, tetapi tentang janji dan penggenapan. Islam, dalam pandangan ini, bukan agama baru, melainkan puncak dari seluruh proses kenabian yang panjang.
Di akhir ceramahnya, SMNA menyentuh realitas yang lebih dekat; dunia akademik Islam hari ini. Al-Attas mengkritik budaya publish or perish, penilaian berdasarkan kuantitas bukan kualitas, serta hilangnya kemandirian intelektual di kalangan sarjana Muslim. Karya semacam Islam: The Covenants Fulfilled lahir bukan dari rutinitas birokrasi akademik, tetapi dari perenungan mendalam, penguasaan berbagai bidang ilmu, dan yang terpenting, bimbingan Tuhan.
SMNA menegaskan bahwa untuk melahirkan generasi pemikir Muslim sejati, kita perlu membentuk kembali ekosistem keilmuan; mahasiswa yang dilatih berpikir logis dan analitis, diberi ruang untuk menjelajah bahasa dan sejarah, dan yang paling utama, dibimbing untuk menjadikan wahyu sebagai asas ilmu.
Penutup: Islam sebagai Perjanjian yang Ditunaikan
Islam bukan sekadar agama yang muncul belakangan. Ia adalah penggenapan dari janji primordial antara Allah dan ruh manusia pada hari alastu. Melalui Nabi Muhammad, Allah menunaikan janji-Nya, dan para Nabi terdahulu menyambutnya dengan penuh hormat dalam shalat jamaah di malam Isrā’. Maka kita, umat Nabi akhir zaman, memikul tanggung jawab besar; menunaikan perjanjian itu dengan penuh kesadaran, kehormatan, dan cinta.
Membaca dan mendengar pemikiran SMNA tidak hanya memperluas cakrawala intelektual kita, tetapi juga menyentuh jantung eksistensi kita sebagai Muslim. Ia mengingatkan kita bahwa menjadi Muslim bukanlah pilihan pribadi yang netral, melainkan kehormatan besar yang bersumber langsung dari panggilan Tuhan. Dan karena itulah, memahami Islam tidak cukup hanya dengan akal, tetapi harus dengan hati yang bersih dan akal yang tercerahkan oleh wahyu.




