Artikel

Wariskanlah “Ittaqullaha wa athi’ur rasul” Kepada Anak-Anak Kita

Oleh: Ummi Andhiriyani Syakiroh,S. Pd

📅 Rabu, 04 Juni 2026 | 17 Zulhijah 1447 H

Wariskanlah “Ittaqullaha wa athi’ur rasul” Kepada Anak-anak Kita

Oleh: Ummi Andhiriyani Syakiroh,S. Pd (Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah Angkatan ke 3)

Raihlah kesempatan ini dengan maksimalkan momen bersama anak-anak kita, jangan sampai datang penyesalan.

Setiap orangtua pasti mendambakan masa depan yang cerah bagi anak-anaknya. Berbagai upaya dilakukan, mulai dari memeras keringat untuk membiayai pendidikan terbaik, menyiapkan tabungan masa depan, hingga mewariskan harta benda seperti rumah atau tanah. Semua itu wajar dan merupakan wujud cinta kasih.
​Namun, sebagai umat Muslim, kita perlu merenungkan satu hal: Harta bisa habis, pangkat bisa runtuh, dan dunia akan kita tinggalkan. Lantas, apa warisan terbaik yang tidak akan pernah lekang oleh waktu?

​Jawabannya adalah “Ittaqullaha wa athi’ur rasul” warisan paling indah, paling berharga, dan paling abadi yang bisa diberikan oleh orangtua kepada anak-anaknya.

Mengapa ini merupakan Warisan Terbaik?

Allah SWT adalah tujuan akhir kita (The Ultimate Goal), sedangkan Rasulullah SAW adalah jalan dan peta petunjuknya (The Only Way).”_

“Ittaqullaha wa athi’ur rasul” merupakan rumus kehidupan yang menggabungkan dua hubungan paling prinsipil dalam Islam: hubungan vertikal kepada Sang Pencipta (Hablum minallah) dan panduan praktisnya melalui utusan-Nya. Yang harus diwariskan kepada anak-anak kita.

​Rasulullah SAW pernah bersabda:

​”Tiada suatu pemberian yang lebih utama dari orangtua kepada anaknya melainkan akhlak yang baik.” (HR. Al-Hakim).

​Akhlak yang baik adalah buah dari ketakwaan kepada Allah dan keteladanan rasulullah yang dipraktikkan. Ketika orangtua berhasil menanamkan rasa takut dan cinta kepada Allah dan rasulnya di dalam hati anak-anak mereka, mereka sebenarnya telah memberikan “kompas kehidupan”.

​Berikut alasan mengapa “Ittaqullaha wa athi’ur rasul” menjadi warisan terindah:

Kata Taqwa berasal dari akar kata waqa-yaqi-wiqayah, yang berarti melindungi, membentengi, atau menjaga diri.

  1. Membangun Perisai: Bertakwa kepada Allah berarti kita membangun “perisai” antara diri kita dengan murka atau azab Allah. Perisai ini dibangun dengan cara menjalankan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
  2. ​Membangun kesadaran Penuh (Mindfulness/Muraqabah): Takwa yang mendalam adalah kondisi hati yang selalu merasa diawasi oleh Allah di mana pun dan kapan pun. Kehadiran Allah terasa nyata dalam setiap helai napas, tindakan, bahkan lintasan pikiran kita.
  3. Keseimbangan Khauf (Takut) dan Raja’ (Harap): Takwa bukan rasa takut yang membuat kita lari menjauh (seperti takut pada binatang buas), melainkan rasa takut yang dibarengi rasa cinta dan hormat, yang justru membuat kita berlari mendekat kepada-Nya demi mengharap rida-Nya.

​Setelah perintah bertakwa kepada Allah, kalimat ini langsung disambung dengan perintah menaati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kenapa ini juga sebagai warisan?

  1. Konkretisasi takwa: Takwa kepada Allah itu sifatnya abstrak dan ada di dalam hati. Bagaimana cara mewujudkannya secara nyata di dunia? Jawabannya adalah dengan mengikuti Nabi Muhammad SAW. Rasulullah adalah penafsir Al-Qur’an terbaik dan contoh hidup (role model) bagaimana takwa itu diaplikasikan.
  2. ​Bukti Cinta kepada Allah: Kita tidak bisa mengeklaim cinta atau takwa kepada Allah jika kita mengabaikan petunjuk Rasul-Nya. Dalam Al-Qur’an ditegaskan bahwa jika kita mencintai Allah, maka syarat utamanya adalah mengikuti Nabi (QS. Ali ‘Imran: 31).
  3. ​Ketaatan yang Tanpa Ragu: Taat kepada Rasul berarti menerima sunah-sunahnya, baik dalam hal ibadah, cara berinteraksi dengan sesama manusia (muamalah), hingga akhlak sehari-hari, dengan kelapangan dada, tanpa ada rasa keberatan sedikit pun.

Lalu bagaimana Cara Mewariskannya?

Jelas tidak semudah membalikkan telapak tangan atau mentransfer sejumlah uang di bank. Ia membutuhkan proses, kesabaran, dan strategi yang tepat:

  • Metode Implementasi Nyata
    Keteladanan(Uswah Hasanah) Anak adalah peniru yang ulung. Sebelum menyuruh anak salat tepat waktu, orangtua harus terlebih dahulu menggelar sajadah saat azan berkumandang.
  • Lingkungan yang Asri secara Spiritual Hidupkan rumah dengan lantunan Al-Qur’an, diskusi keagamaan yang hangat, dan jauhkan dari tontonan atau circle yang merusak moral.
  • Doa yang Tiada Putus Jangan pernah bosan mendoakan anak. Tiru doa Nabi Ibrahim AS: “Ya Tuhanku, jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan salat.” (QS. Ibrahim: 40).

Harta warisan berupa materi sering kali memicu perebutan dan perpecahan di antara ahli waris jika tidak diiringi dengan iman. Sebaliknya, warisan ketakwaan justru akan mempersatukan kembali sebuah keluarga, tidak hanya di dunia, tetapi hingga ke dalam jannah-Nya.

​Mari kita ubah fokus kita. Tanpa mengabaikan bekal duniawi mereka, mari prioritaskan untuk mendidik anak-anak kita menjadi hamba yang bertakwa dan mencintai Rasul. Karena pada akhirnya, melihat anak tumbuh menjadi pribadi yang saleh dan taat adalah kebahagiaan tertinggi bagi setiap orangtua_

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button