Semarak Peresmian Masjid At-Tanwir: Ustaz Rifky Ja’far Tholib Kupas Kunci Kebangkitan Pasca-Bencana dan Rekonsiliasi Kader

BANJARNEGARA, 20-07-2026. Suasana pengajian sekaligus peresmian Masjid At-Tanwir di Situkung, Pandanarum, berlangsung hangat dan penuh makna. Acara tersebut makin semarak dengan hadirnya penceramah asal Malang, Jawa Timur, Ustaz Rifky Ja’far Tholib. Dalam ceramah yang disampaikan secara lugas, komunikatif, dan diselingi kelakar segar khasnya, ia memberikan apresiasi mendalam kepada PDM Banjarnegara, Camat Pandanarum, PCM di tiga kecamatan, hingga kader ‘Aisyiyah dari tingkat Daerah hingga Ranting.
Ketua Panitia Kegiatan, Khoirul Anwar, menyampaikan apresiasi mendalam serta laporan pertanggungjawaban program penanganan bencana longsor Situkung yang digalang oleh MDMC dan Lazismu Banjarnegara.
Dalam sambutannya, Khoirul Anwar mengungkapkan rasa terima kasih dan penghargaan setinggi-tingginya kepada seluruh relawan MDMC yang telah mengabdi tanpa lelah selama hampir enam bulan—terhitung sejak bencana longsor terjadi pada 16 November 2025 hingga selesainya pembangunan sarana ibadah pada 11 Juni 2026.
“Selama hampir enam bulan, para relawan berjuang tanpa lelah mendampingi dan membersamai warga Situkung dan sekitarnya. Dedikasi serta pengorbanan ini sangat kami apresiasi,” ujar Khoirul Anwar mewakili unsur Panitia, MDMC, dan Lazismu Banjarnegara.
Lebih lanjut, Khoirul memaparkan rangkaian program pendampingan komprehensif yang telah dilaksanakan, meliputi:
- Respon Tanggap Darurat & Shelter: Pendampingan penuh korban bencana di tiga titik Huntara (Shelter IPHI, GOR, dan Wisma Muhammadiyah) serta pembangunan 7 unit Hunian Sementara (Huntara).
- Layanan Psikososial & Infrastruktur: Pemulihan kesehatan mental/emosional warga, serta program pipanisasi air bersih di tiga lokasi shelter (Tegalsari, Wanaraba, dan Desa Sidamulya).
- Fasilitas Keagamaan: Pembangunan dan peresmian Masjid At-Tanwir/Al-Taqwa untuk kebutuhan ibadah warga terdampak.
Terkait transparansi publik, Khoirul Anwar melaporkan perolehan total donasi terkumpul sebesar Rp677.948.000,- yang bersumber dari para donatur dan munfiq. Dari jumlah tersebut, dana yang telah disalurkan secara nyata mencapai Rp649.691.000,- untuk membiayai pemulihan Situkung dan pembangunan tempat ibadah.
Menutup sambutannya, Khoirul menyampaikan permohonan maaf yang tulus kepada seluruh warga Sidamulya, Situkung, dan sekitarnya atas segala keterbatasan tempat selama peresmian berlangsung, maupun atas pergaulan relawan di lapangan selama enam bulan masa pendampingan. Ia juga mengimbau jamaah yang berada di area jauh untuk berpindah ke dalam area masjid yang telah disediakan karpet agar dapat menyimak rangkaian acara dengan lebih nyaman.

Camat Pandanarum, Kabupaten Banjarnegara, Agung Dwi Antoko, menyampaikan apresiasi dan rasa terima kasih yang mendalam kepada jajaran Muhammadiyah, tim relawan, BPBD, serta seluruh pihak yang telah memberikan dukungan materiil dan spiritual dalam penanganan pascabencana tanah longsor di Dukuh Situkung, Desa Pandanarum.
Apresiasi tersebut disampaikannya saat menghadiri acara peresmian Masjid At-Tanwir sekaligus pengajian bersama Ustaz Rifky Ja’far Thalib yang hadir dari Malang, Jawa Timur. Acara ini juga dihadiri oleh pimpinan Muhammadiyah dari tingkat Pusat, Daerah, hingga Cabang, Kepala Kalak BPBD Banjarnegara beserta rombongan, serta jajaran Pemerintah Desa Pandanarum.
Agung Dwi Antoko mengungkapkan bahwa tepat delapan bulan tiga hari pascabencana longsor melanda Dukuh Situkung, proses pemulihan warga terdampak menunjukkan perkembangan yang sangat signifikan.
“Tepat 8 bulan lebih 3 hari pascabencana tanah longsor di Dukuh Situkung, dapat kita saksikan bersama bahwa saat ini hampir 100 persen penyintas telah kembali normal dan dapat menjalani kehidupan seperti biasa,” ujar Agung Dwi Antoko mewakili Pemerintah Kecamatan Pandanarum.
Menurutnya, pemulihan yang relatif cepat ini tidak lepas dari sinergi, dukungan, dan dedikasi luar biasa para relawan serta seluruh jajaran pengurus Muhammadiyah dari tingkat Ranting hingga Pusat beserta organisasi otonomnya.
Di samping menyampaikan rasa syukur, Camat Pandanarum juga mewakili pemerintah wilayah dan para penyintas menyampaikan permohonan maaf yang sebesar-besarnya kepada para relawan jika selama masa pendampingan terdapat hal-hal yang kurang berkenan.
Ia menjelaskan bahwa kondisi emosional dan psikis para penyintas pada saat awal bencana belum stabil, sehingga mungkin memicu dinamika dan keterbatasan respons di lapangan. Kendati demikian, ia bersyukur situasi kini telah pulih dan warga dapat kembali tersenyum gembira menjalani aktivitas sehari-hari.
Menutup sambutannya, Agung Dwi Antoko berharap seluruh rangkaian bantuan dan pendampingan yang diberikan menjadi keberkahan bagi Desa Pandanarum, serta mengimbau masyarakat untuk menyimak kajian keagamaan yang digelar dengan khidmat.
Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara, H. Wahyudin, S.Ag., M.Si., menegaskan komitmen berkelanjutan Muhammadiyah dalam mendampingi masyarakat terdampak bencana, baik secara lahiriah maupun batiniah. Hal tersebut disampaikannya saat mewakili Ketua PDM Banjarnegara dalam acara peresmian sarana ibadah pascabencana di Situkung, Pandanarum.
Turut hadir mendampingi jajaran PDM Banjarnegara di antaranya Gunawan Sri Wibowo (Bidang Ekonomi), Karsono (Bidang LAZISMU), dan Mubahsyir Ali (Bidang LSBO). Acara ini juga dihadiri oleh Camat Pandanarum Agung Dwi Antoko, jajaran KUA, Kepala Desa, serta pimpinan Cabang Muhammadiyah wilayah atas.
Dalam sambutannya, Wahyudin menyampaikan bahwa Muhammadiyah tidak membatasi masa pendampingan korban bencana hanya berdasarkan batas waktu resmi dari pemerintah.
“Masya Allah, inilah komitmen Muhammadiyah: kami senantiasa mendampingi masyarakat secara lahir maupun batin. Pendampingan kami tidak sebatas batas waktu resmi pemerintah, melainkan terus berjalan hingga tuntas. Seperti halnya bencana Jemblong sejak 2015 lalu, hingga hari ini LAZISMU masih menyalurkan beasiswa pendidikan anak-anak di sana sampai jenjang perguruan tinggi,” tegas Wahyudin.
Menjawab kekaguman masyarakat terkait respons cepat dan besarnya dukungan finansial Muhammadiyah di lapangan, Wahyudin menjelaskan bahwa kekuatan gerakan Muhammadiyah bukan terletak pada besarnya simpanan kas di tingkat daerah maupun cabang, melainkan pada keikhlasan serta kepedulian umat.
“Uang tersebut sesungguhnya tidak kita simpan di kas organisasi, melainkan kita titipkan di kantong-kantong umat. Begitu ada panggilan kemanusiaan, dukungan dana akan terus mengalir,” ungkapnya disambut pekikan takbir jamaah.
Ia menambahkan, prinsip pelayanan Muhammadiyah berpegang teguh pada nilai sejarah lahirnya PKO (Penolong Kesengsaraan Umum) dan motto gerakan: “Tiada hari tanpa memberi, tiada minggu tanpa membantu, tiada bulan tanpa iuran, dan tiada tahun tanpa membangun.” Dalam menyalurkan bantuan bencana di Situkung, Muhammadiyah berprinsip membantu siapapun tanpa memandang latar belakang organisasi, semata-mata demi mengharap ridha Allah SWT.
Melalui kerja sinergis LAZISMU dan MDMC (Lembaga Resiliensi Bencana/LRB), bantuan dari seluruh penjuru Indonesia berhasil disalurkan untuk menyelesaikan sarana fisik.
Sebagai langkah lanjutan, PDM Banjarnegara kini berfokus pada penguatan mental dan kerohanian warga. PDM telah mengamanatkan PCM Pandanarum dan PCM Kalibening, didukung Majelis Tabligh PDM Banjarnegara, untuk menyelenggarakan kajian dan pengajian rutin secara konsisten guna mewujudkan masyarakat yang sehat jasmani, rohani, serta sejahtera dunia dan akhirat.
Rangkaian acara dilanjutkan dengan prosesi simbolis penyerahan kunci Masjid At-Tanwir oleh Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Banjarnegara, H. Wahyudin, S.Ag., M.Si., kepada Ketua Takmir Masjid At-Tanwir sebagai tanda resminya penggunaan masjid untuk aktivitas keagamaan masyarakat terdampak bencana.
Momen bersejarah tersebut dirangkaikan dengan penyerahan bantuan dana sebesar Rp60.000.000,- dari LAZ MKU (Majelis Membina Keluarga Utama) Wonosobo yang disalurkan untuk mendukung operasional dan kemakmuran masjid pascapembangunan.
Dalam kesempatannya, perwakilan LAZ MKU menjelaskan bahwa dukungan ini merupakan bagian dari komitmen gerakan kemanusiaan berkelanjutan yang sebelumnya juga menjangkau berbagai wilayah bencana di Indonesia, seperti Cilacap, Pandanarum, hingga Sumatra.
“Kemarin kami sempat berdiskusi terkait pengalokasian sisa saldo dana sebesar Rp13 juta. Alhamdulillah, melalui kolaborasi erat bersama rekan-rekan MDMC dan LAZISMU, dana tersebut dapat kita genapkan dan salurkan untuk mendukung pembangunan serta operasional masjid ini,” ungkap perwakilan LAZ MKU.
Ia juga menambahkan bahwa LAZ MKU memiliki pengalaman dan rekam jejak dalam pembangunan sarana ibadah di daerah bencana, termasuk keterlibatan dalam tiga kali aksi kemanusiaan di Palu bersama Dewan Dakwah.
Ke depan, LAZ MKU dan Muhammadiyah tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik sarana ibadah, tetapi juga berkomitmen mendorong program pemberdayaan ekonomi jamaah. Langkah ini diharapkan dapat menjadikan Masjid At-Tanwir tidak hanya sebagai pusat kegiatan spiritual, tetapi juga sebagai pilar kebangkitan ekonomi warga Situkung dan sekitarnya.
Apresiasi Aksi Kemanusiaan dan Nilai Keikhlasan Muhammadiyah
Ustaz Rifky menggarisbawahi dedikasi dan keikhlasan luar biasa yang ditunjukkan oleh MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Center) dan LAZISMU saat mendampingi warga terdampak bencana.
“Prinsip Muhammadiyah sejatinya sederhana: hanya memberi, tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia. Di mana pun ada bencana—seperti yang saya saksikan sendiri di berbagai daerah termasuk Aceh—posko MDMC selalu hadir di titik terdampak paling parah,” tegasnya.
Ia juga memuji langkah Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang mendorong transformasi posko kesehatan darurat bencana menjadi klinik permanen Muhammadiyah demi pelayanan kesehatan masyarakat secara berkelanjutan.
“Merangkul, Bukan Memukul”: Menjaga Harmoni Internal Persyarikatan
Menyinggung dinamika pemikiran di internal organisasi, Ustaz Rifky mengingatkan agar keputusan Majelis Tarjih dipahami sebagai panduan yang memudahkan ibadah umat, bukan diterjemahkan secara kaku hingga menimbulkan sekat.
- Silsilah Perjuangan: Ustaz Rifky menceritakan bahwa neneknya merupakan pelopor Muhammadiyah di Kota Batu sejak tahun 1936, dan ibundanya memimpin ‘Aisyiyah.
- Muhammadiyah Ruhaniyah vs Organisatoris: Ia menekankan pentingnya mempertemukan nilai spiritual (ruhaniyah) dan aspek struktural (organisatoris) di titik tengah yang menyejukkan.
- Pujian untuk Paduan Suara ‘Aisyiyah: Secara khusus, ia memuji penampilan tim paduan suara ‘Aisyiyah Pandanarum dan mengekspresikan keinginannya untuk mengundang mereka tampil di Malang.
“Jangan sampai perbedaan pandangan justru berujung pada saling coret atau pecat yang dapat menghilangkan roh perjuangan Muhammadiyah itu sendiri. Muhammadiyah hadir untuk merangkul dan membawa kemaslahatan bagi seluruh umat,” pesan Ustaz Rifky.
Hakikat Syukur, Kedermawanan, dan Sifat Qana’ah
Ustaz Rifky menjelaskan bahwa rasa syukur sejati tidak cukup diucapkan dengan lisan, melainkan diwujudkan melalui perbuatan (syukur bil arkan) dan kepedulian sosial. Ia mencontohkan praktik baik PDM Kabupaten Malang yang menggalang iuran sukarela saat pengajian berkala untuk membantu PCM dan warga yang tertimpa kesulitan.
Ia juga mengajak jamaah meneladani sikap qana’ah (merasa cukup) serta meneladani kedermawanan pendiri Muhammadiyah, KH. Ahmad Dahlan:
- Bagi Yang Kurang Mampu: Qana’ah melahirkan kekayaan hati (ghinan-nafs) sehingga tidak mudah iri pada kenikmatan duniawi orang lain.
- Bagi Yang Berkelimpahan: Qana’ah diwujudkan dengan membagikan kelebihan harta untuk membantu sesama, menjauhi gaya hidup pamer (hedonisme) di media sosial, dan menyisihkan rezeki untuk kemakmuran umat.
Makna Musibah: Azab, Peringatan, atau Ujian Derajat?
Masuk pada materi inti, Ustaz Rifky mengajak warga terdampak bencana untuk senantiasa bermuhasabah (introspeksi diri). Ia membagi kategori musibah menjadi tiga:
- Bencana sebagai Azab/Hukuman: Turun ketika terjadi penyimpangan moral, sosial, dan agama yang melampaui batas (seperti maraknya kemaksiatan dan LGBTQ) tanpa ada upaya pencegahan.
- Bencana sebagai Peringatan (Teguran): Diturunkan kepada orang beriman yang tergelincir—misalnya akibat merusak lingkungan dan membabat hutan. Ustaz Rifky mengutip kisah Khalifah Umar bin Khattab yang memperingatkan penduduk Madinah saat terjadi gempa bumi berturut-turut.
- Bencana sebagai Ujian Derajat: Ditujukan bagi hamba-hamba yang taat dan bertauhid lurus guna meninggikan kedudukan rohani mereka (HR. Tirmidzi).
Sikap Menghadapi Bencana:
- Warga Terdampak: Fokus bermuhasabah, meningkatkan doa, dan mengevaluasi kualitas ibadah.
- Masyarakat Luar: Haram menghakimi atau menuding warga terdampak. Pihak luar wajib bersikap husnudzon (berbaik sangka) dan mengulurkan bantuan kemanusiaan.
4 Perkara Utama Penolak Musibah dan Azab
Mengakhiri tausiahnya, Ustaz Rifky memaparkan empat amalan penolak bala yang dijamin di dalam Al-Qur’an:
| No | Amalan Penolak Bala | Landasan Dalil | Keterangan & Implementasi |
| 1. | Bersyukur (In Syakartum) | QS. An-Nisa: 147 | Gemar bersedekah atas nikmat hasil panen/rezeki untuk menepis iri dengki dan mempererat silaturahmi. |
| 2. | Jujur dalam Beriman (Wa Aamantum) | QS. An-Nisa: 147 | Menjaga kemurnian tauhid dan memberantas TBC (Tahayul, Bid’ah, Khurafat) serta menjauhi syirik/pawang hujan. |
| 3. | Menghidupkan Sunnah & Selawat | QS. Al-Anfal: 33 | Menjalankan ajaran Rasulullah SAW dalam kehidupan sehari-hari dan membasahi lidah dengan bacaan selawat. |
| 4. | Memperbanyak Istigfar | QS. Al-Anfal: 33 | Memohon ampunan Allah SWT secara istikamah agar daerah terhindar dari azab dan marabahaya. |
Pengajian ditutup dengan doa bersama. Ustaz Rifky berharap warga Situkung, Pandanarum, dan jemaah Banjarnegara dapat menjadikan musibah masa lalu sebagai cermin introspeksi, seraya menguatkan empat amalan tersebut agar wilayahnya senantiasa dilindungi, dimakmurkan, dan diberkahi oleh Allah SWT.
Oleh: Mister Kismadi, SE MPI PCM Kalibening KMM PDM Banjarnegara




