ArtikelTuntunan

Perencanaan Ketahanan Pangan Menurut Al-Qur’an

Belajar dari Strategi 15 Tahun Nabi Yusuf untuk Menghadapi Krisis Pangan

Indonesia dianugerahi tanah yang subur, laut yang luas, keragaman hayati, dan kekayaan pangan lokal. Namun, ketahanan pangan tidak cukup diukur dari banyaknya hasil panen nasional. Pangan juga harus tersedia sepanjang waktu, terjangkau oleh setiap keluarga, bergizi, aman, serta dapat disalurkan hingga ke wilayah yang membutuhkan. Karena itu, kenaikan produksi belum otomatis menghapus kerawanan pangan.

Badan Pusat Statistik mencatat produksi beras untuk konsumsi pangan penduduk pada 2025 sekitar 34,69 juta ton, meningkat 13,29 persen dibandingkan 2024. Pada saat yang sama, Peta Ketahanan dan Kerentanan Pangan 2025 dari Badan Pangan Nasional masih menempatkan 81 kabupaten/kota atau 15,76 persen dalam kategori rentan rawan pangan. Dua fakta ini tidak bertentangan. Keduanya memperlihatkan bahwa ketahanan pangan mencakup produksi, distribusi, keterjangkauan, pemanfaatan, dan kemampuan menghadapi gangguan.

Gambar 1. Tiga fakta yang menunjukkan pentingnya perencanaan pangan terpadu. Sumber data: BPS, Badan Pangan Nasional, serta estimasi Bappenas yang dikutip FAO.

Latar Belakang Indonesia: Melimpah Belum Tentu Tahan

Sebagai negara kepulauan, Indonesia menghadapi tantangan yang berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya. Surplus di suatu sentra produksi belum tentu segera menjangkau pulau atau wilayah yang mengalami kekurangan. Gangguan cuaca, kekeringan, banjir, kerusakan jalan, keterbatasan gudang, gejolak harga, dan panjangnya rantai distribusi dapat mengubah masalah produksi menjadi masalah akses.

BMKG menegaskan bahwa informasi cuaca dan iklim merupakan fondasi penting bagi kemandirian pangan. Artinya, kalender tanam, pilihan komoditas, pengelolaan air, panen, dan distribusi harus disusun dengan membaca risiko lebih awal. Masyarakat tidak seharusnya baru bergerak setelah kekeringan atau kelangkaan terjadi.

Masalah lainnya adalah pangan yang hilang sebelum dikonsumsi. FAO, dengan merujuk estimasi Bappenas, melaporkan bahwa susut dan sisa pangan Indonesia dapat mencapai 184 kilogram per kapita per tahun, dengan kerugian ekonomi hingga Rp551 triliun per tahun. Angka ini merupakan estimasi batas atas, bukan ukuran tunggal untuk setiap daerah. Pesannya tetap jelas: memperbesar produksi tanpa memperbaiki penyimpanan, pengangkutan, pengolahan, dan perilaku konsumsi akan menyisakan kebocoran besar.

Ketahanan pangan bukan hanya kemampuan menghasilkan makanan pada musim baik, melainkan kemampuan menjaga ketersediaan, akses, mutu, dan cadangan ketika keadaan berubah.

Dalam konteks inilah kisah Nabi Yusuf memberikan pelajaran yang menakjubkan. Al-Qur’an tidak hanya menceritakan datangnya masa sulit, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pengetahuan tentang risiko harus diubah menjadi kebijakan produksi, penghematan, penyimpanan, distribusi, dan pemulihan.

1 2 3Laman berikutnya

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button