Artikel
Trending

Sukses Dunia dan Akhirat: Buah dari Perjuangan dan Kesabaran

Refleksi atas Makna Ikhtiar, Sabar, dan Tawakal dalam Meraih Keberhasilan Dunia dan Akhirat

Sukses Dunia dan Akhirat: Buah dari Perjuangan dan Kesabaran
Oleh: Suratno Abu Musaddad
Pendahuluan
Kesuksesan merupakan dambaan setiap manusia. Sebagian mengukurnya dengan harta, jabatan, popularitas, atau pencapaian akademik. Namun, Islam memberikan perspektif yang lebih utuh. Kesuksesan yang hakiki bukan hanya keberhasilan di dunia, melainkan juga keselamatan dan kebahagiaan di akhirat. Karena itu, seorang muslim dituntut memiliki orientasi hidup yang seimbang antara kehidupan dunia dan kehidupan setelah kematian.
Allah Swt. mengabadikan doa yang menjadi cita-cita setiap mukmin:
«رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ»
“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, serta lindungilah kami dari azab neraka.” (QS. Al-Baqarah [2]: 201).
Menurut para mufasir, ḥasanah fid-dunyā mencakup segala bentuk kebaikan, seperti keimanan, ilmu yang bermanfaat, kesehatan, keluarga yang saleh, rezeki yang halal, dan kehidupan yang penuh keberkahan. Adapun ḥasanah fil-ākhirah adalah keselamatan dari azab Allah dan kenikmatan surga.¹
Dengan demikian, Islam tidak mengajarkan dikotomi antara dunia dan akhirat. Dunia adalah ladang untuk menanam amal, sedangkan akhirat adalah tempat menuai hasilnya.
Perjuangan sebagai Sunnatullah
Kesuksesan tidak pernah lahir dari kemalasan atau angan-angan. Allah menetapkan bahwa setiap keberhasilan harus melalui proses perjuangan.
Allah berfirman:
«أَمْ حَسِبْتُمْ أَنْ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ وَلَمَّا يَعْلَمِ اللَّهُ الَّذِينَ جَاهَدُوا مِنْكُمْ وَيَعْلَمَ الصَّابِرِينَ»
“Apakah kamu mengira akan masuk surga, padahal Allah belum nyata mengetahui siapa di antara kamu yang berjihad dan siapa yang bersabar?” (QS. Ali ‘Imran [3]: 142).
Ayat ini menegaskan bahwa perjuangan (jihad) dan kesabaran merupakan syarat menuju keberhasilan. Jihad tidak terbatas pada peperangan, tetapi mencakup seluruh ikhtiar sungguh-sungguh dalam menaati Allah, menuntut ilmu, bekerja secara profesional, berdakwah, membangun keluarga, dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Kesabaran: Kekuatan Seorang Mukmin
Perjalanan menuju keberhasilan tidak akan pernah lepas dari ujian. Kegagalan, fitnah, kehilangan, maupun kesulitan merupakan bagian dari pendidikan Allah bagi hamba-Nya.
Karena itu Allah memerintahkan:
«يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ ۚ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ»
“Wahai orang-orang yang beriman! Mohonlah pertolongan kepada Allah dengan sabar dan salat. Sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah [2]: 153).
Imam Ibn Katsir menjelaskan bahwa kebersamaan Allah (ma’iyyah) dalam ayat ini adalah kebersamaan berupa pertolongan, bimbingan, dan penjagaan-Nya kepada orang-orang yang sabar.²
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
«وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ»
“Tidaklah seseorang diberi suatu karunia yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).
Hadis tersebut menunjukkan bahwa kesabaran bukanlah tanda kelemahan, tetapi sumber kekuatan spiritual yang menjadikan seseorang mampu bertahan dan bangkit menghadapi berbagai tantangan.
Keteladanan Para Nabi
Sejarah para nabi memperlihatkan bahwa kemenangan selalu diawali dengan perjuangan yang panjang.
Nabi Nuh ‘alaihissalam berdakwah selama berabad-abad dengan pengikut yang sangat sedikit.
Nabi Ibrahim ‘alaihissalam menghadapi tekanan keluarga dan masyarakat hingga dilemparkan ke dalam api karena mempertahankan tauhid.
Nabi Yusuf ‘alaihissalam mengalami pengkhianatan saudara-saudaranya, menjadi budak, dipenjara tanpa kesalahan, sebelum akhirnya Allah mengangkat derajatnya menjadi pemimpin Mesir.
Demikian pula Nabi Muhammad ﷺ. Beliau menghadapi ejekan, boikot ekonomi, intimidasi, pengusiran, hingga peperangan. Namun, dengan kesabaran dan keteguhan iman, Allah menyempurnakan dakwah beliau dan menjadikan Islam sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Kisah-kisah tersebut mengajarkan bahwa kesulitan bukanlah tanda kegagalan, melainkan bagian dari proses menuju keberhasilan yang diridhai Allah.
Relevansi bagi Kehidupan Masa Kini
Di tengah kehidupan modern yang serba instan, banyak orang menginginkan hasil tanpa proses. Padahal Islam mengajarkan budaya kerja keras, disiplin, profesionalisme, dan istiqamah.
Pelajar harus berjuang menuntut ilmu dengan sungguh-sungguh. Guru mendidik dengan penuh keikhlasan. Orang tua bersabar membimbing anak-anaknya. Pemimpin melayani masyarakat dengan amanah. Pengusaha mencari rezeki yang halal tanpa menghalalkan segala cara. Da’i terus menyampaikan risalah Islam meskipun menghadapi tantangan.
Allah Swt. berfirman:
«وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ»
“Dan bahwa manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm [53]: 39).
Ayat ini mengandung prinsip bahwa usaha merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari ketentuan Allah. Tawakal bukan berarti meninggalkan ikhtiar, melainkan menyerahkan hasil kepada Allah setelah melakukan usaha terbaik.

Perspektif Muhammadiyah: Perjuangan, Kesabaran, dan Islam Berkemajuan

Muhammadiyah memandang bahwa keberhasilan seorang muslim tidak hanya diukur dari capaian pribadi, tetapi juga dari kontribusinya dalam menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat. Dalam pandangan Islam Berkemajuan, iman harus melahirkan amal nyata yang mendorong kemajuan peradaban, pendidikan, kesehatan, ekonomi, dan kehidupan sosial yang berkeadilan.

Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah dalam Tafsir At-Tanwir menjelaskan bahwa manusia diperintahkan untuk menjadi khalifah di muka bumi dengan mengembangkan seluruh potensi yang dianugerahkan Allah secara optimal. Karena itu, kerja keras, penguasaan ilmu pengetahuan, inovasi, dan pengabdian kepada umat merupakan bagian dari ibadah yang bernilai di sisi Allah.

Kesabaran dalam perspektif Muhammadiyah bukanlah sikap pasif yang menerima keadaan tanpa usaha, melainkan keteguhan hati dalam menjalankan ikhtiar terbaik sesuai tuntunan syariat. Sabar berjalan beriringan dengan kerja keras, disiplin, profesionalisme, dan semangat memperbaiki keadaan.

Allah Swt. berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.”

(QS. Ar-Ra’d [13]: 11)

Ayat ini menjadi landasan penting bahwa perubahan dan kemajuan menuntut usaha yang sungguh-sungguh. Kemajuan umat tidak akan terwujud hanya dengan harapan dan doa, tetapi harus diwujudkan melalui kerja nyata yang terencana dan berkelanjutan.

Dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) ditegaskan bahwa Islam mengajarkan keseimbangan antara tawakal kepada Allah dan ikhtiar yang maksimal. Seorang muslim diperintahkan bekerja, berusaha, dan memanfaatkan seluruh potensi yang dimilikinya, sembari menyandarkan hasil akhirnya kepada Allah Swt.

Oleh karena itu, warga Muhammadiyah hendaknya menjadi pribadi yang:

  • Berakidah lurus dan beribadah sesuai tuntunan Al-Qur’an dan As-Sunnah.
  • Bersemangat menuntut ilmu sepanjang hayat.
  • Memiliki etos kerja yang tinggi dan profesional.
  • Aktif dalam dakwah dan pelayanan sosial.
  • Menjadi pelopor kemajuan yang membawa manfaat bagi umat, bangsa, dan kemanusiaan.

Dengan semangat tersebut, perjuangan dan kesabaran tidak hanya menghasilkan keberhasilan pribadi, tetapi juga melahirkan peradaban yang berkemajuan dan diridhai Allah Swt

Penutup
Sukses dunia dan akhirat merupakan cita-cita yang diajarkan Islam. Namun, keberhasilan tersebut hanya dapat diraih melalui iman yang kokoh, perjuangan yang sungguh-sungguh, kesabaran menghadapi ujian, doa yang terus dipanjatkan, dan tawakal kepada Allah Swt.
Sebagai warga Muhammadiyah, semangat berkemajuan hendaknya diwujudkan melalui etos kerja yang tinggi, kecintaan terhadap ilmu, pengabdian kepada umat, serta keteguhan dalam menjalankan ajaran Islam sesuai Al-Qur’an dan As-Sunnah.
Semoga Allah Swt. menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang sabar dalam perjuangan, istiqamah dalam amal saleh, serta memperoleh kebahagiaan di dunia dan kemenangan di akhirat.
“Kesuksesan dunia dan akhirat bukanlah hadiah bagi orang yang hanya menunggu, melainkan anugerah Allah bagi mereka yang beriman, berjuang, bersabar, dan bertawakal kepada-Nya.”
Wallaahu a’lam biṣ-ṣawaab.
Suratno Abu Musaddad
Majelis Tabligh PDM Karanganyar
Pleno PCM Jumantono
Catatan Kaki
1. Abu Ja’far Muhammad bin Jarir ath-Thabari, Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āyi al-Qur’ān, tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 201.
2. Ismail bin Umar Ibn Katsir, Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm, tafsir QS. Al-Baqarah [2]: 153.
8122601655
Daftar Pustaka
– Al-Qur’an al-Karim.
– Al-Bukhari, Muhammad bin Ismail. Ṣaḥīḥ al-Bukhārī.
– Muslim bin al-Hajjaj. Ṣaḥīḥ Muslim.
– Ath-Thabari, Abu Ja’far Muhammad bin Jarir. Jāmi’ al-Bayān ‘an Ta’wīl Āyi al-Qur’ān.
– Ibn Katsir, Ismail bin Umar. Tafsīr al-Qur’ān al-‘Aẓīm.
– Kementerian Agama Republik Indonesia. Al-Qur’an dan Terjemahannya.

Suratno Abu Musaddad

Pleno Pimpinan Cabang Muhammadiyah Jumantono, Majelis Tabligh PDM Karanganyar dan Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button