ArtikelMu'amalahTuntunan

Bijak Mengelola Rezeki di Era Belanja Online

Di zaman yang terus berkembang seperti sekarang ini, kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi telah menghadirkan berbagai kemudahan dalam kehidupan manusia. Hampir seluruh aktivitas dapat dilakukan secara cepat dan praktis, termasuk dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Saat ini, hanya dengan sebuah telepon genggam, seseorang dapat membeli hampir semua barang yang dibutuhkan. Beragam aplikasi belanja menawarkan berbagai kemudahan, mulai dari potongan harga, promo menarik, gratis ongkos kirim, hingga fasilitas pembayaran secara cicilan. Semua itu memang memberikan kenyamanan. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul pertanyaan yang patut kita renungkan bersama. Apakah kemudahan itu benar-benar membawa kebaikan, atau justru secara perlahan membentuk kebiasaan hidup yang semakin konsumtif?

Realitas yang kita jumpai menunjukkan bahwa banyak orang membeli suatu barang bukan karena benar-benar memerlukannya, melainkan karena tergiur diskon, takut kehilangan kesempatan saat promo berlangsung, atau sekadar ingin memiliki barang yang sama dengan orang lain. Bahkan tidak sedikit yang rela berutang demi memenuhi gaya hidup dan menjaga gengsi di hadapan manusia.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Keadaan ekonomi dewasa ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Harga berbagai kebutuhan pokok terus berubah, biaya hidup semakin meningkat, kebutuhan keluarga bertambah, sementara penghasilan tidak selalu mengalami kenaikan yang sebanding. Dalam kondisi seperti ini, Islam mengajarkan umatnya agar mampu mengelola rezeki dengan penuh tanggung jawab dan kebijaksanaan.

Allah Swt berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 26–27:

وَلَا تُبَذِّرْ تَبْذِيْرًا ۝٢٦ اِنَّ الْمُبَذِّرِيْنَ كَانُوْٓا اِخْوَانَ الشَّيٰطِيْنِۗ وَكَانَ الشَّيْطٰنُ لِرَبِّهٖ كَفُوْرًا

“Dan janganlah engkau menghambur-hamburkan hartamu secara boros. Sesungguhnya orang-orang yang boros itu adalah saudara-saudara setan.”

Dalam Tafsir Al-Misbah dijelaskan bahwa ayat tersebut merupakan larangan menggunakan harta secara berlebihan dan tanpa manfaat. Membelanjakan rezeki pada sesuatu yang tidak diperlukan termasuk bentuk pemborosan yang sangat dibenci Allah Swt. Orang yang melakukan hal tersebut diserupakan dengan setan karena memiliki sifat yang sama, yaitu tidak mensyukuri nikmat Allah dan tidak menggunakan harta sesuai tuntunan-Nya.

Salah satu penyebab utama seseorang terjerumus ke dalam perilaku konsumtif adalah ketidakmampuan membedakan antara kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan merupakan sesuatu yang memang harus dipenuhi agar kehidupan berjalan dengan baik, seperti makanan, pakaian yang layak, tempat tinggal, pendidikan anak, kesehatan, dan kebutuhan keluarga lainnya. Sementara itu, keinginan lebih banyak dipengaruhi oleh hawa nafsu dan dorongan untuk mengikuti tren.

Sebagai contoh, seseorang merasa harus mengganti telepon genggam, kendaraan, atau barang lainnya hanya karena telah muncul model terbaru, padahal barang yang dimiliki masih berfungsi dengan baik. Ada pula yang membeli sesuatu secara spontan hanya karena melihat potongan harga, meskipun sebelumnya tidak pernah berencana untuk memilikinya. Oleh sebab itu, sebelum memutuskan membeli suatu barang, biasakan bertanya kepada diri sendiri, “Apakah ini benar-benar saya perlukan, atau sekadar saya inginkan? Apakah saya membelinya karena manfaatnya, atau hanya karena mengikuti tren dan merasa iri terhadap orang lain?”

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Rasulullah Saw telah memberikan pedoman agar kita selalu bersyukur dalam urusan dunia. Beliau mengajarkan supaya kita melihat kepada orang yang kehidupannya berada di bawah kita sehingga tumbuh rasa syukur, sedangkan dalam urusan ibadah kita dianjurkan melihat kepada orang yang lebih baik agar termotivasi meningkatkan amal.

Beliau bersabda:

“Lihatlah orang yang berada di bawahmu dan jangan melihat orang yang berada di atasmu, karena yang demikian itu lebih patut agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah yang telah diberikan kepada kalian.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Kesederhanaan Rasulullah Saw juga tampak dalam kehidupan sehari-hari. Beliau tidak terbiasa mengganti barang hanya karena mengalami kerusakan ringan. Ketika gelas milik beliau pecah, Rasulullah memilih memperbaikinya dengan tambalan dari perak sebagaimana diriwayatkan oleh Anas bin Malik:

“Gelas Nabi saw pecah, kemudian beliau menambal bagian gagangnya dengan perak.” (HR. Al-Bukhari).

Demikian pula tempat tidur Rasulullah Saw yang sangat sederhana. Aisyah r.a. meriwayatkan bahwa tempat tidur beliau terbuat dari kulit yang diisi sabut atau serat tumbuhan.

“Tempat tidur Rasulullah saw terbuat dari kulit yang diisi dengan sabut.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Teladan Rasulullah Saw tersebut sangat relevan bagi kehidupan kita saat ini. Kemajuan teknologi memang memudahkan kita memperoleh berbagai barang, tetapi jika tidak disikapi dengan bijaksana, kemudahan itu justru dapat menumbuhkan sifat boros dan berlebihan. Jangan sampai kehidupan ekonomi keluarga terganggu hanya karena lebih mengutamakan keinginan daripada kebutuhan. Pepatah mengatakan, “Besar pasak daripada tiang”, yaitu ketika pengeluaran melebihi pendapatan sehingga menimbulkan kesulitan di kemudian hari.

Oleh karena itu, marilah kita membiasakan hidup hemat dan sederhana. Kelola keuangan dengan membuat perencanaan yang baik. Dahulukan kebutuhan daripada keinginan. Kurangi membuka aplikasi belanja apabila memang tidak ada keperluan yang mendesak. Sisihkan sebagian penghasilan untuk ditabung sebagai bekal menghadapi kebutuhan di masa depan. Selain itu, jangan lupa memperbanyak sedekah, karena harta yang kita keluarkan di jalan Allah Swt itulah yang akan menjadi investasi terbaik bagi kehidupan akhirat.

Jangan pernah merasa rendah diri karena hidup sederhana. Tidak perlu memaksakan diri mengikuti gaya hidup orang lain apabila kemampuan kita berbeda. Justru yang patut dihindari adalah memaksakan penampilan hingga terjerat utang hanya demi memperoleh pengakuan manusia. Sebab, hakikat kekayaan bukanlah banyaknya harta yang dimiliki, melainkan hati yang selalu merasa cukup (qana’ah) atas nikmat yang Allah karuniakan.

Marilah kita menjadikan kemajuan teknologi sebagai sarana untuk mempermudah kehidupan, bukan sebagai penyebab lahirnya pemborosan. Gunakan setiap rezeki yang Allah titipkan dengan penuh tanggung jawab, syukuri nikmat-Nya, dan jadikan kesederhanaan Rasulullah Saw sebagai teladan dalam menjalani kehidupan sehari-hari.

Semoga Allah Swt menjadikan kita hamba-hamba yang pandai bersyukur, mampu mengelola rezeki dengan amanah, dijauhkan dari sifat boros dan berlebih-lebihan, serta diberikan keberkahan dalam kehidupan dunia dan keselamatan di akhirat kelak. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button