Tokoh

Kisah Ma’iz, Yang Mengaku Berzina Dan Minta Dibersihkan

Oleh : Didi Eko Ristanto

📅 Rabu, 22 April 2026 | 5 Zulkaidah 1447 H

Ada orang yang terlihat baik, padahal tersembunyi dosa di balik wajahnya.
Ada pula yang dicaci karena dosanya, padahal di sisi Allah, ia telah bersih.
Salah satunya adalah Ma’iz bin Malik radhiyallahu ‘anhu.

Namanya tak sebesar Abu Bakar. Tak setenar Umar. Tapi keberaniannya menghadap Rasulullah ﷺ membawa dosa besar, adalah langkah orang yang takut pada Tuhan.

Ia datang, bukan dipanggil. Ma’iz datang sendiri. Tak dipergoki. Tak ditangkap.
Dengan tubuh gemetar, ia berkata:

“Wahai Rasulullah, aku telah berzina. Maka sucikanlah aku.”

Rasulullah ﷺ bukan seorang penghukum yang keras. Bukan pula pencari aib. Bahkan sebisa mungkin tidak menghukum. Beliau adalah rahmat yang hidup di bumi. Maka beliau menjawab dengan hati-hati:

“Barangkali engkau hanya mencium?”
“Atau menyentuh?”
“Atau hanya melihat?”
“Apakah engkau mabuk?”
“Apakah engkau gila?”

Tapi Ma’iz tetap menjawab: “Tidak.”
Lalu ia mengulang pengakuannya empat kali, agar tidak ada keraguan.

Rasulullah ﷺ lalu bertanya dengan bahasa yang halus dan sopan:

“Apakah engkau melakukannya seperti tongkat masuk ke dalam celak?”
(كَالْمِيلِ فِي الْمَكْحَلَةِ)

“Seperti ujung tali masuk ke dalam sumurnya?”
Ma’iz menjawab: “Ya.”

Itu bukan pertanyaan vulgar. Itu perumpamaan dalam bahasa Arab untuk menegaskan bahwa hubungan tersebut benar-benar terjadi secara utuh, bukan setengah, bukan bayangan.

Nabi ﷺ ingin menyelamatkannya dari hudud, kecuali ia benar-benar yakin dan sadar. Tapi Ma’iz tak goyah.

Setelah semua jelas, sadar, baligh, telah menikah, dan pengakuannya utuh — maka Nabi ﷺ pun bersabda:
“Bawalah dia, dan rajamlah.”
(HR. Muslim no. 1691)

Maka para sahabat melaksanakan. Batu demi batu menghantam tubuh Ma’iz. Ia rebah, dan nyawanya lepas. Dunia melepasnya dengan darah dan aib,
tapi langit menyambutnya dengan rahmat dan ampunan. Darah membasahi tanah, tapi Allah membersihkan jiwanya. Ia memilih jalan yang berat di dunia agar ringan di akhirat.

Sebagian sahabat tak tahan, mereka mencela: “Mengapa ia tidak cukup bertaubat? Mengapa ia membinasakan dirinya?”

Rasulullah ﷺ menegur mereka: “Jangan kalian berkata begitu. Sungguh, ia telah bertaubat dengan taubat yang jika dibagikan kepada seluruh penduduk Madinah, niscaya mencukupi mereka.”
(HR. Muslim no. 1695)

Bahkan Rasulullah ﷺ bersabda: “Aku melihatnya sedang mandi di sungai-sungai surga.”
(رَأَيْتُهُ يَنْغَمِسُ فِي أَنْهَارِ الْجَنَّةِ)
(HR. Ahmad dan disebutkan oleh Ibn Hajar dalam Fath al-Bari)

Bayangkan,
Ia dilempari batu oleh manusia, tapi dimandikan dengan air surga oleh Rabbnya.

Mencela orang yang telah bertaubat adalah ghibah, dan bahkan lebih buruk dari itu jika dilakukan kepada orang yang kini telah diampuni oleh Allah.

Firman Allah dalam Surah Al-Hujurat: “Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain. Sukakah salah seorang di antara kalian memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentu kalian merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.”
(QS. Al-Hujurat: 12)

Hikmah indah dari kisah zina Ma’iz. Ia berdosa, tapi berani menanggungnya di dunia demi pengampunan akhirat.
Kita? berbeda dengan kita. Sering menyimpan dosa, tersenyum di depan orang, tapi terus menunda taubat.

Ma’iz telah bertaubat dan kini bermandi di sungai surga.
Kita? Kita bahkan belum sempat menangis karena dosa. Jangan tunda taubat dan selalulah setiap hari istighfar dan taubat.

“Katakanlah: Wahai hamba-hamba-Ku yang telah melampaui batas atas diri mereka sendiri, janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni semua dosa.”
(QS. Az-Zumar: 53)
Cilacap, 12 Juli 2025

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button