
Dalam khazanah sejarah Islam, nama Uwais Al-Qarni menempati posisi yang sangat unik. Ia adalah seorang Tabi’in yang secara fisik tak pernah menatap wajah Rasulullah SAW, namun namanya disebut-sebut oleh sang Nabi dengan penuh kemuliaan. Mengapa? Bukan karena luasnya ilmu atau banyaknya harta, melainkan karena satu amalan yang ia pegang teguh hingga akhir hayat: Birrul Walidain (berbakti kepada orang tua).
Islam menempatkan bakti kepada orang tua pada posisi yang sangat tinggi, bahkan disandingkan langsung dengan perintah menyembah Allah. Hal ini ditegaskan dalam Al-Qur’an:
”Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya…” (QS. Al-Isra: 23)
Bakti ini bukan sekadar anjuran, melainkan kewajiban mutlak. Rasulullah SAW bahkan menyebutkan bahwa durhaka kepada orang tua adalah salah satu dosa besar yang paling utama. Dari Abdullah bin ‘Amr, Nabi SAW bersabda:
“Ridha Allah tergantung pada ridha orang tua dan murka Allah tergantung pada murka orang tua.” (HR. Tirmidzi)
Uwais adalah pemuda dari kabilah Murad, kemudian dari Qarn (Yaman). Ia menderita penyakit kulit yang menyisakan tanda putih di tubuhnya. Namun, di balik fisik yang penuh kekurangan, jiwanya begitu kokoh dalam mengabdi kepada ibunya yang telah renta, lumpuh, dan buta.
1. Latihan Fisik Luar Biasa demi Sang Ibu
Keinginan terbesar ibu Uwais adalah menunaikan ibadah haji. Di zaman itu, perjalanan dari Yaman ke Mekkah adalah perjalanan maut yang membutuhkan biaya besar dan fisik yang kuat. Uwais yang miskin tidak mampu membeli unta.
Namun, cinta tidak mengenal kata menyerah. Uwais membuatkan kandang lembu di puncak bukit. Setiap hari, ia menggendong lembu tersebut naik dan turun bukit. Orang-orang di sekitarnya tertawa dan menyebutnya gila. Mereka tidak tahu bahwa itu adalah strategi “latihan beban” agar otot-ototnya mampu menopang tubuh ibunya sejauh ribuan kilometer dari Yaman ke Mekkah.
2. Mendahulukan Bakti di Atas Keinginan Pribadi
Keinginan terdalam setiap Muslim saat itu adalah bertemu dengan Rasulullah SAW. Uwais sangat merindukan Nabi, namun ia tidak bisa meninggalkan ibunya yang tidak memiliki siapa-siapa untuk mengurusnya. Ia memilih tetap di Yaman demi memastikan kebutuhan ibunya terpenuhi. Inilah alasan mengapa ia tidak masuk dalam golongan Sahabat, namun derajatnya di sisi Allah melampaui banyak orang.
3. Doa yang Terkabul karena Kerendahan Hati
Saat akhirnya ia berhasil membawa ibunya haji dengan menggendongnya di pundak, ia berdoa di depan Ka’bah. Ia tidak meminta kekayaan atau kesembuhan total bagi dirinya. Ia hanya memohon: “Ya Allah, ampuni dosa ibuku.” Berkat doa tulus dan baktinya, Allah menyembuhkan penyakitnya kecuali satu titik putih di telapak tangan sebagai tanda bagi Khalifah Umar dan Ali untuk mengenalinya kelak.
Kisah Uwais memberikan kita rincian bagaimana seharusnya Birrul Walidain dilakukan:
Pengorbanan Harta dan Tenaga: Sebagaimana firman Allah: “Sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak…” (QS. An-Nisa: 36). Uwais memberikan seluruh tenaga dan waktu mudanya untuk ibunya.
Sabar dalam Perawatan: Mengurus orang tua yang sudah lanjut usia membutuhkan kesabaran ekstra. Al-Qur’an mengingatkan: “…maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan ‘ah’ dan janganlah kamu membentak mereka…” (QS. Al-Isra: 23).
Mendoakan Setelah Tiada: Bakti tidak putus saat mereka wafat. Dari Abu Hurairah, Nabi SAW bersabda bahwa salah satu amalan yang tidak terputus setelah mati adalah “anak saleh yang mendoakannya” (HR. Muslim).
Uwais Al-Qarni mengajarkan bahwa kita tidak perlu menjadi orang terkenal di media sosial atau memiliki jabatan tinggi untuk dicintai Allah. Cukup dengan memuliakan orang tua di rumah, kita bisa mendapatkan derajat yang setinggi-tingginya.
Nabi SAW pernah berpesan kepada Umar bin Khattab agar meminta doa kepada Uwais jika bertemu dengannya. Bayangkan, seorang pemimpin besar sekelas Umar bin Khattab diperintahkan meminta doa kepada seorang pemuda miskin yang tidak dikenal penduduk bumi, semata-mata karena doanya menembus langit berkat baktinya kepada sang ibu., Anggota Majelis Tabligh PWM Jateng dan Pimpinan Pondok Pesantren Modern Al-Muflihun Temanggung)




