Artikel

​Sejarah Kalender Masehi: Perpaduan Romawi dan Tradisi Kristiani

Oleh: KH. Wahyudi Sarju Abdurrahim, Lc. MM

📅 Sabtu, 07 Maret 2026 | 18 Ramadan 1447 H

Sistem penanggalan Masehi yang kita gunakan saat ini tidak terlepas dari sejarah panjang bangsa Romawi dan pengaruh agama Kristen. Nama-nama bulan yang kita kenal (seperti Januari dari Dewa Janus) berasal dari tradisi Romawi Kuno.

​Awalnya, Romawi menggunakan Kalender Julian (ditetapkan oleh Julius Caesar). Namun, pada tahun 1582, Paus Gregorius XIII dari Vatikan melakukan reformasi kalender untuk menentukan tanggal Paskah yang lebih akurat. Kalender inilah yang kemudian dikenal sebagai Kalender Gregorian atau Kalender Masehi.

​Perayaan Tahun Baru pada 1 Januari sendiri secara historis berkaitan dengan penghormatan kepada dewa-dewa Romawi dan kemudian diserap dalam tradisi keagamaan Kristen sebagai bagian dari rangkaian perayaan hari raya mereka. Oleh karena itu, merayakan tahun baru pada dasarnya merupakan praktik yang berakar dari budaya dan keyakinan di luar Islam.
​Larangan “Latah” dan Mengikuti Tradisi Non-Muslim

​Dalam Islam, umat Muslim diajarkan untuk memiliki identitas yang kuat (izzah) dan tidak sekadar ikut-ikutan (latah) terhadap tradisi yang tidak memiliki dasar dalam syariat, apalagi yang mengandung maksiat, unsur tabdzir, atau hura-hura seperti pesta kembang api.

​1. Dalil Tentang Tasyabbuh (Menyerupai Suatu Kaum)
​Rasulullah SAW dengan tegas melarang umatnya untuk menyerupai kebiasaan ibadah atau tradisi khas kaum kafir agar jati diri umat Islam tetap terjaga.

​مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ

​”Barangsiapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud).

​2. Peringatan Tentang Mengikuti Jejak Yahudi dan Nasrani
​Rasulullah SAW juga telah memperingatkan bahwa akan datang suatu masa di mana umat Islam kehilangan arah dan mengikuti gaya hidup orang Yahudi dan Nasrani secara membabi buta.

​لَتَتَّبِعُنَّ سَنَنَ مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ شِبْرًا بِشِبْرٍ وَذِرَاعًا بِذِرَاعٍ حَتَّى لَوْ دَخَلُوا جُحْرَ ضَبٍّ لَتَبَعْتُمُوهُمْ. قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللَّهِ الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى؟ قَالَ: فَمَنْ؟

​”Sungguh, kalian akan mengikuti jalan orang-orang sebelum kalian sejengkal demi sejengkal dan sedepa demi sedepa, sampai jika mereka masuk ke lubang biawak pun, kalian akan mengikuti mereka.” Kami (para sahabat) bertanya: “Wahai Rasulullah, apakah mereka itu orang-orang Yahudi dan Nasrani?” Beliau menjawab: “Lalu siapa lagi?” (HR. Bukhari dan Muslim).

​Mengapa Muslim Harus Menghindari Perayaan Tahun Baru?
​Masalah Aqidah: Merayakan tahun baru masehi berarti turut menyemarakkan syiar yang secara historis dan religius milik kaum lain.

​Tabzir (Pemborosan): Membeli kembang api dan meniup terompet adalah bentuk membuang-buang harta (tabzir) untuk sesuatu yang tidak bermanfaat.

​Waktu yang Sia-sia: Malam tahun baru seringkali diisi dengan kegiatan yang menjauhkan diri dari dzikir kepada Allah, seperti ikhtilat (percampuran pria-wanita) dan kemaksiatan lainnya.

​Sebagai Muslim, kita sudah memiliki kalender sendiri, yaitu Kalender Hijriah, yang dimulai dari peristiwa agung Hijrahnya Rasulullah SAW. Alangkah baiknya jika pergantian waktu digunakan untuk bermuhasabah (evaluasi diri), bukan dengan pesta pora yang menyerupai kaum kafir.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button