Artikel

Sabar Tak Bertepi, Syukur Tak Bertapi

📅 Rabu, 04 Juni 2026 | 17 Zulhijah 1447 H

Sabar Tak Bertepi, Syukur Tak Bertapi

Oleh: Akhmad Syifa Utama (Peserta sekolah tabligh PWM angkatan ke-3)

Ada satu kenyataan yang sering terlupakan dalam hidup. Kita semua ingin hidup penuh nikmat, tetapi tidak ada yang bisa menghindari ujian. Dan ketika ujian datang kita diminta bersabar. Ketika nikmat datang kita juga diminta bersyukur.

Artinya, baik kesulitan maupun kemudahan, keduanya sama-sama ujian. Maka seorang mukmin sejatinya tidak pernah keluar dari dua keadaan: sabar atau syukur. Ketika rezeki terasa sempit, sabar. Ketika usaha belum sesuai harapan, sabar. Ketika doa terasa belum terjawab, sabar. Karena tidak semua yang kita inginkan baik untuk kita saat ini, dan tidak semua yang tertunda berarti ditolak oleh Allah.

Namun yang lebih berat terkadang bukan sabar ketika susah. Yang lebih berat justru syukur ketika senang. Sebab banyak orang mampu bersabar saat tidak punya, tetapi lupa bersyukur ketika sudah diberi.

Banyak yang rajin berdoa ketika sempit, tetapi mulai lalai ketika lapang. Banyak yang menangis ketika kehilangan, tetapi lupa bersujud ketika mendapatkan. Karena itu para ulama mengatakan bahwa nikmat juga merupakan ujian. Apakah nikmat itu mendekatkan kita kepada Allah atau justru membuat kita lupa kepada-Nya.

Sabar tidak selalu berarti diam. Sabar adalah tetap taat ketika keadaan berat. Tetap jujur ketika kesempatan berbuat curang terbuka. Tetap istiqamah ketika godaan untuk menyerah begitu besar.

Dan syukur tidak cukup hanya dengan mengucapkan “Alhamdulillah”. Syukur adalah menggunakan nikmat yang Allah berikan untuk hal-hal yang diridhai-Nya. Ilmu digunakan untuk mengajar. Harta digunakan untuk berbagi. Jabatan digunakan untuk melayani. Waktu digunakan untuk beramal.

Maka jangan sampai syukur kita selalu diikuti kata “tapi”.

Alhamdulillah sehat, tapi…

Alhamdulillah punya pekerjaan, tapi…

Alhamdulillah punya keluarga, tapi…

Padahal masih banyak orang yang sedang berdoa agar mendapatkan nikmat yang hari ini kita miliki.

Mari belajar menjalani hidup sebagaimana seorang mukmin. Jika diuji, bersabar. Jika diberi, bersyukur. Jika kehilangan, bersabar. Jika mendapatkan, bersyukur. Karena hidup tidak selalu tentang apa yang kita miliki atau yang kita kehilangan.

Hidup adalah tentang bagaimana kita tetap dekat kepada Allah dalam setiap keadaan.

Sabar tak bertepi.

Syukur tak bertapi.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk hamba-hamba-Nya yang pandai bersabar ketika diuji dan pandai bersyukur ketika diberi.

Aamiin.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button