
Ringkasan
Hijrah Rasulullah ﷺ bukan sekadar perpindahan fisik dari Makkah menuju Madinah dan bukan pula peristiwa yang hanya dikenang pada pergantian tahun Hijriah. Secara historis, perjalanan hijrah dimulai pada bulan Safar, sedangkan Muharram ditetapkan sebagai awal kalender Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. Hakikat hijrah terletak pada transformasi menyeluruh: penguatan iman, pembentukan persaudaraan, pembangunan institusi, penegakan keadilan, dan penyusunan tata kehidupan bersama. Karena itu, bulan Safar harus menjadi momentum untuk mengubah kesalehan individual menjadi perubahan sosial dan peradaban.
Silakan download aplikasi “KHGT Times” under Windows yang berisi 39 menu ilmu falak untuk memahami hitungan KHGT. Akses, download, ekstrak dan jalankan tanpa perlu instalasi (portable) melalui link https://hisabmu.com/khgttimes/
Memasuki Bulan Safar dalam Kalender Hijriah Global Tunggal
Berdasarkan Kalender Hijriah Global Tunggal atau KHGT yang digunakan Muhammadiyah, 1 Safar 1448 H bertepatan dengan Rabu Pon, 15 Juli 2026. Dalam kalender yang sama, 27 Safar 1448 H jatuh pada 10 Agustus 2026. KHGT dikembangkan berdasarkan hisab hakiki kontemporer untuk menghadirkan kesatuan tanggal Hijriah secara global dan membantu umat Islam memiliki sistem waktu yang terencana, akurat, serta dapat digunakan secara lintas negara. KHGT
Kedatangan bulan Safar tidak semestinya berlalu sebagai pergantian tanggal semata. Bulan ini berkaitan dengan salah satu fase paling menentukan dalam sejarah Islam, yaitu dimulainya hijrah Rasulullah Muhammad ﷺ dari Makkah menuju Madinah.
Peristiwa tersebut bukan hanya mengubah tempat tinggal Rasulullah ﷺ dan para sahabat. Hijrah mengubah posisi umat Islam dari komunitas yang tertindas menjadi masyarakat yang memiliki ruang untuk membangun kehidupan beragama, pendidikan, solidaritas sosial, ekonomi, hukum, dan tata kemasyarakatan.
Dengan demikian, Safar dapat dipahami sebagai bulan dimulainya perjalanan menuju perubahan besar.
Muharram Menjadi Awal Kalender, tetapi Hijrah Dimulai pada Safar
Dalam pemahaman masyarakat, hijrah sering langsung dihubungkan dengan 1 Muharram. Hubungan tersebut tidak sepenuhnya keliru karena kalender Islam memang menggunakan peristiwa hijrah sebagai titik awal perhitungan tahunnya. Namun, perlu dibedakan antara awal tahun kalender Hijriah dan waktu keberangkatan Rasulullah ﷺ dalam perjalanan hijrah.
Menurut penjelasan Anggota Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Akhmad Arif Rifan, Rasulullah ﷺ memulai hijrah pada 27 Safar tahun ke-14 kenabian, yang diperkirakan bertepatan dengan sekitar 12 atau 13 September 622 M. Muharram baru ditetapkan sebagai awal tahun Hijriah pada masa Khalifah Umar bin Khattab r.a. Bulan tersebut dipandang sebagai awal munculnya tekad dan persiapan kaum Muslimin untuk berhijrah setelah Baiat Aqabah. Muhammadiyah
Karena itu, terdapat dua hal yang harus dibedakan:
- Muharram merupakan bulan pertama dalam sistem kalender Hijriah.
- Safar merupakan bulan dimulainya perjalanan Rasulullah ﷺ meninggalkan Makkah menuju Madinah.
Secara historiografis, penyebutan “27 Safar tahun ke-14 kenabian” lebih menggambarkan penanggalan yang dikenal pada masa terjadinya peristiwa. Adapun penyebutan “27 Safar 1 H” merupakan penempatan tanggal secara retrospektif setelah sistem kalender Hijriah dibentuk.
Hasil konversi Kalender Hijriah Global Tunggal: 27 Safar 1 H.
27 Safar 1448 H = 10 Agustus 2026 M
Gambar hasil konversi kalender yang disertakan menunjukkan 27 Safar 1 H bertepatan dengan Kamis Legi, 12 September 622. Sementara itu, sumber Muhammadiyah menyebut sekitar 12 atau 13 September 622. Perbedaan satu hari dalam rekonstruksi tanggal kuno perlu dipahami secara wajar karena dapat dipengaruhi oleh metode konversi, proyeksi kalender, batas pergantian hari, dan konvensi kalender Masehi yang dipergunakan.
Hal terpenting bukan hanya memperdebatkan satu angka tanggal, melainkan memahami bahwa perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ memang dimulai pada bulan Safar.
Hijrah: Perjalanan Iman, Strategi, dan Tawakal
Hijrah sering digambarkan sebagai perjalanan spiritual. Akan tetapi, sirah Nabi memperlihatkan bahwa hijrah juga merupakan perjalanan yang penuh perencanaan, pembagian peran, pengelolaan informasi, pemilihan rute, dan pengaturan waktu.
Tawakal dalam hijrah tidak berarti menunggu pertolongan Allah tanpa ikhtiar. Rasulullah ﷺ merancang perjalanan dengan cermat, memilih pendamping, memanfaatkan penunjuk jalan, mengatur pembekalan, dan menjaga kerahasiaan rencana. Setelah semua ikhtiar dilakukan, beliau menyerahkan hasilnya kepada Allah.
Al-Qur’an mengabadikan salah satu fase paling genting dalam perjalanan tersebut ketika Rasulullah ﷺ berada di dalam gua bersama Abu Bakar r.a.:
لَا تَحْزَنْ إِنَّ اللَّهَ مَعَنَا
“Janganlah engkau bersedih. Sesungguhnya Allah bersama kita.”
Potongan QS At-Taubah ayat 40 tersebut menggambarkan ketenangan Rasulullah ﷺ di tengah ancaman. Ketenangan itu bukan lahir dari ketiadaan bahaya, melainkan dari keyakinan bahwa ikhtiar manusia berada di bawah pertolongan Allah. Quran Legacy
Dari sini terdapat keseimbangan penting dalam ajaran hijrah:
perencanaan tanpa tawakal dapat melahirkan kesombongan, sedangkan tawakal tanpa perencanaan dapat berubah menjadi kelalaian.
Hijrah Nabi menyatukan keduanya. Ada perhitungan yang matang, tetapi ada pula keyakinan yang kokoh kepada Allah.
Hijrah Bukan Pelarian, Melainkan Transformasi
Rasulullah ﷺ tidak meninggalkan Makkah karena menyerah terhadap dakwah. Beliau berhijrah untuk menyelamatkan iman, melindungi umat, dan membuka ruang bagi pembangunan masyarakat yang lebih baik.
Karena itu, hijrah tidak tepat dipahami sebagai tindakan melarikan diri dari persoalan. Hijrah merupakan langkah strategis untuk memindahkan perjuangan dari ruang yang tertutup menuju ruang yang memungkinkan nilai-nilai Islam diwujudkan secara lebih luas.
Perubahan tersebut mencakup beberapa dimensi.
Pertama, transformasi spiritual
Hijrah dimulai dari ketaatan kepada Allah. Para sahabat meninggalkan rumah, kekayaan, lingkungan, dan sebagian hubungan sosial mereka karena mempertahankan iman.
Kedua, transformasi sosial
Di Madinah, kaum Muslimin tidak dibiarkan hidup sendiri-sendiri. Rasulullah ﷺ membangun persaudaraan yang menghubungkan Muhajirin dan Anshar.
Ketiga, transformasi kelembagaan
Islam tidak hanya disampaikan melalui nasihat personal, tetapi diwujudkan melalui masjid, pendidikan, musyawarah, pelayanan sosial, dan aturan kehidupan bersama.
Keempat, transformasi peradaban
Hijrah melahirkan masyarakat yang memiliki identitas, kepemimpinan, norma, tanggung jawab sosial, dan arah pembangunan yang jelas.
Inilah alasan hijrah menjadi titik awal era Islam. Nilai pentingnya tidak hanya terletak pada jarak antara Makkah dan Madinah, tetapi pada lahirnya tatanan kehidupan baru.
Tiga Fondasi Masyarakat Islam di Madinah
Setelah tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ tidak membiarkan masyarakat berkembang tanpa arah. Beliau membangun fondasi kehidupan umat melalui tiga langkah besar.
1. Mendirikan Masjid sebagai Pusat Peradaban
Masjid Nabawi didirikan bukan hanya sebagai tempat salat. Masjid menjadi pusat ibadah, pendidikan, pembinaan akhlak, musyawarah, penerimaan tamu, penyelesaian persoalan umat, dan pelayanan sosial.
Langkah ini mengajarkan bahwa pembangunan masyarakat Islam harus dimulai dari penguatan hubungan dengan Allah, tetapi tidak berhenti pada ritual individual. Masjid harus memiliki dampak pendidikan dan sosial.
Masjid yang makmur bukan hanya masjid yang penuh ketika salat berjamaah, melainkan masjid yang:
- mendidik anak-anak dan generasi muda;
- meningkatkan literasi Al-Qur’an;
- memperkuat kepedulian terhadap kaum lemah;
- menjadi tempat musyawarah yang sehat;
- membantu penyelesaian persoalan keluarga dan masyarakat;
- serta melahirkan kader yang berintegritas.
Masjid tidak boleh terpisah dari persoalan nyata umat. Kemiskinan, kebodohan, perpecahan, kerusakan lingkungan, rendahnya literasi digital, dan lemahnya kepedulian sosial seharusnya menjadi bagian dari agenda dakwah masjid.
2. Mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar
Masyarakat Madinah tidak mungkin kuat apabila kelompok pendatang dan masyarakat setempat hidup dalam kecurigaan. Karena itu, Rasulullah ﷺ mempersaudarakan kaum Muhajirin dengan kaum Anshar.
Persaudaraan tersebut bukan sekadar ucapan. Kaum Anshar membuka ruang kehidupan, berbagi sumber daya, dan mendahulukan kepentingan saudaranya meskipun mereka sendiri tidak selalu berada dalam kelapangan.
Allah menggambarkan keutamaan mereka:
وَيُؤْثِرُونَ عَلَىٰ أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ
“Mereka mengutamakan orang lain atas diri mereka sendiri meskipun mereka juga memerlukan.”
Ayat tersebut merupakan bagian dari QS Al-Hasyr ayat 9 yang memuji sikap kaum Anshar dalam menerima dan menolong kaum Muhajirin. Quran Legacy
Ukhuwah dalam Islam dengan demikian tidak boleh berhenti pada keramahan verbal. Persaudaraan harus melahirkan solidaritas nyata, seperti:
- membantu orang yang kehilangan pekerjaan;
- mendampingi keluarga yang mengalami kesulitan;
- memberikan akses pendidikan kepada anak kurang mampu;
- mengembangkan ekonomi berbasis gotong royong;
- serta tidak membiarkan seseorang menghadapi persoalannya sendirian.
Persaudaraan yang hanya terdengar dalam ceramah tetapi tidak hadir dalam pembelaan dan pelayanan belum mencerminkan persaudaraan Muhajirin dan Anshar.
3. Menyusun Tata Kehidupan Bersama
Rasulullah ﷺ juga membangun kesepakatan dan aturan yang menata kehidupan masyarakat Madinah. Langkah ini menunjukkan bahwa masyarakat tidak cukup dibangun dengan semangat yang baik. Masyarakat juga membutuhkan norma, tanggung jawab, kepastian, dan mekanisme penyelesaian persoalan.
Kehidupan bersama harus disusun berdasarkan keadilan, penghormatan terhadap kesepakatan, perlindungan masyarakat, dan tanggung jawab setiap kelompok.
Pelajaran pentingnya adalah bahwa agama tidak menolak keteraturan sosial. Justru nilai-nilai agama harus melahirkan tata kelola yang:
- adil;
- transparan;
- dapat dipercaya;
- melindungi pihak yang lemah;
- mencegah penyalahgunaan kekuasaan;
- dan memungkinkan keberagaman dikelola secara damai.
Hijrah dengan demikian melahirkan masyarakat yang beriman sekaligus tertib. Kesalehan tidak dipertentangkan dengan profesionalitas, sedangkan spiritualitas tidak dipisahkan dari tata kelola yang baik.
Makna Hijrah Setelah Fathu Makkah
Setelah pembebasan Makkah, kewajiban berpindah dari Makkah menuju Madinah berakhir. Rasulullah ﷺ bersabda:
لَا هِجْرَةَ بَعْدَ الْفَتْحِ، وَلَكِنْ جِهَادٌ وَنِيَّةٌ
“Tidak ada lagi hijrah setelah pembebasan Makkah, tetapi tetap ada kesungguhan perjuangan dan niat.”
Hadis ini diriwayatkan dalam Sahih al-Bukhari. Konteksnya menunjukkan bahwa bentuk hijrah khusus dari Makkah ke Madinah telah selesai, tetapi pengabdian, kesungguhan, dan niat untuk menegakkan kebaikan tetap berlangsung. Sunnah
Dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menjelaskan:
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.”
Hadis ini memperluas pemaknaan hijrah dari perpindahan geografis menjadi perubahan moral. Sunnah
Dengan pengertian tersebut, setiap Muslim memiliki medan hijrah masing-masing:
- dari kebohongan menuju kejujuran;
- dari kemalasan menuju kedisiplinan;
- dari permusuhan menuju perdamaian;
- dari kesombongan menuju kerendahan hati;
- dari konsumtivisme menuju kesederhanaan;
- dari ketidakpedulian menuju pelayanan;
- dari penggunaan teknologi yang merusak menuju pemanfaatan teknologi yang mendidik;
- serta dari keberagamaan simbolis menuju keberagamaan yang menghadirkan kemaslahatan.
Kalender dan Kesadaran Peradaban
Peristiwa hijrah juga mengajarkan pentingnya pengelolaan waktu. Kalender bukan sekadar alat untuk mengetahui hari dan tanggal. Kalender merupakan infrastruktur peradaban.
Dengan kalender yang jelas, umat dapat merencanakan pendidikan, ibadah, kegiatan sosial, ekonomi, penelitian, perjalanan, dan agenda organisasi. Tanpa kepastian kalender, kehidupan kolektif mudah mengalami ketidakteraturan.
KHGT membawa gagasan “satu hari, satu tanggal” pada tingkat global. Upaya tersebut diarahkan untuk mengurangi disparitas penanggalan dan membangun kesatuan waktu umat Islam berdasarkan perhitungan astronomi kontemporer. KHGT
Dalam konteks ini, mengenang hijrah melalui kalender tidak cukup dilakukan dengan membuat acara seremonial. Kesadaran kalender harus mendorong umat agar lebih:
- menghargai waktu;
- menyusun program jangka panjang;
- mengembangkan ilmu falak dan astronomi;
- memperkuat literasi sejarah;
- serta membangun budaya disiplin.
Umat yang ingin membangun peradaban harus memiliki kemampuan mengelola waktu, bukan hanya mengikuti berjalannya waktu.
Safar sebagai Momentum Tindakan Nyata
Spirit hijrah dapat diterapkan melalui agenda perubahan yang terukur.
Pada tingkat pribadi
Seseorang dapat menetapkan satu kebiasaan buruk yang akan ditinggalkan dan satu kebiasaan baik yang akan dibangun selama bulan Safar. Perubahan harus jelas, realistis, dan dapat dievaluasi.
Pada tingkat keluarga
Keluarga dapat membangun jadwal salat berjamaah, tilawah, pembelajaran sirah, pengendalian penggunaan gawai, dan kepedulian kepada tetangga.
Pada tingkat masjid
Takmir dapat mengevaluasi apakah masjid telah berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pelayanan umat atau baru berfungsi sebagai tempat pelaksanaan ibadah ritual.
Pada tingkat organisasi
Organisasi Islam perlu mengubah semangat hijrah menjadi pembenahan tata kelola, kaderisasi, digitalisasi pelayanan, transparansi keuangan, dan program pemberdayaan masyarakat.
Pada tingkat pendidikan
Sekolah dan perguruan tinggi dapat menjadikan hijrah sebagai tema pembelajaran lintas disiplin: sejarah, agama, sosiologi, kepemimpinan, manajemen, geografi, bahkan astronomi dan ilmu kalender.
Dengan demikian, sirah Nabi tidak hanya dibaca sebagai cerita masa lalu. Sirah menjadi sumber nilai, kerangka berpikir, dan inspirasi dalam menyelesaikan persoalan masa kini.
Kesimpulan
Bulan Muharram merupakan awal tahun dalam kalender Hijriah, tetapi perjalanan hijrah Rasulullah ﷺ dari Makkah menuju Madinah dimulai pada bulan Safar. Rasulullah ﷺ memulai perjalanan tersebut pada 27 Safar tahun ke-14 kenabian, sekitar September 622 M. Muhammadiyah
Peristiwa itu mengajarkan bahwa hijrah bukan sekadar perpindahan tempat. Hijrah adalah perubahan menyeluruh yang mempertemukan iman, ikhtiar, tawakal, persaudaraan, institusi, keadilan, dan tata kehidupan bersama.
Setelah tiba di Madinah, Rasulullah ﷺ membangun masjid, mempersaudarakan Muhajirin dan Anshar, serta menyusun tata kehidupan masyarakat. Ketiga langkah tersebut menunjukkan bahwa perubahan pribadi harus dilanjutkan menjadi perubahan sosial dan kelembagaan.
Karena itu, memasuki bulan Safar hendaknya tidak hanya ditandai dengan pergantian tanggal. Safar perlu dijadikan momentum untuk bertanya:
Keburukan apa yang harus kita tinggalkan? Kebaikan apa yang harus kita bangun? Institusi apa yang harus kita perbaiki? Dan kemaslahatan apa yang harus kita hadirkan bagi masyarakat?
Hijrah yang sejati bukan hanya dikenang. Hijrah harus dikerjakan.
Rekomendasi Praktis
- Menyelenggarakan kajian sirah hijrah selama bulan Safar.
- Menguatkan fungsi masjid sebagai pusat pendidikan dan pelayanan sosial.
- Membuat program persaudaraan dan pendampingan keluarga yang membutuhkan.
- Menetapkan target perubahan pribadi yang dapat dievaluasi.
- Meningkatkan literasi KHGT, astronomi Islam, dan sejarah kalender Hijriah.
- Mengintegrasikan nilai hijrah dalam pendidikan, dakwah, organisasi, dan pelayanan masyarakat.
Daftar Rujukan
- Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah, Kalender Hijriah Global Tunggal 1448 H. KHGT
- Muhammadiyah.or.id, Memasuki Bulan Safar, Inilah Bulan Dimulainya Hijrah Rasulullah ke Madinah. Muhammadiyah
- Muhammadiyah.or.id, Hijrah pada Bulan Safar: Dari Peristiwa Sejarah ke Spirit Transformasi Kehidupan. Muhammadiyah
- Al-Qur’an, QS At-Taubah [9]: 40 dan QS Al-Hasyr [59]: 9. Quran Legacy
- Sahih al-Bukhari, hadis tentang berakhirnya hijrah setelah Fathu Makkah dan makna seorang muhajir. Sunnah
Catatan Verifikasi Historis
Tanggal keberangkatan Rasulullah ﷺ pada 27 Safar memiliki beberapa hasil konversi Masehi, terutama 12 atau 13 September 622. Karena itu, penulisan akademik yang paling aman adalah menggunakan ungkapan “sekitar 12–13 September 622 M”, sambil tetap mencantumkan metode atau sumber konversi yang dipergunakan.




