Artikel

Tips Menghadapi Overthinking di Tengah Tuntutan Angka-Angka Pencapaian

Oleh: Daru Nurdianna, M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3)

📅 Kamis, 10 Juli 2026 | 53 Zulhijah 1447 H

Hidup kita hari ini seolah dikelilingi oleh angka. Misalnya di sekolah, nilai rapor, berat dan tinggi badan anak, jumlah followers, jumlah likers, jumlah yang melihat status WA, jumlah pendaftar sekolah, jumlah nilai akreditasi dan lain-lain.

Sayangnya, tidak sedikit orang yang akhirnya terlalu larut memikirkan angka-angka itu. Pikiran dipenuhi rasa khawatir, tidur menjadi tidak tenang, dan hati mudah gelisah. Bahkan semangat menjalani hari ikut menurun. Angka yang seharusnya menjadi petunjuk justru berubah menjadi sumber tekanan.

Lalu, bagaimana kita menyikapi berbagai angka atau diagram agar tidak terjebak dalam overthinking? Berikut beberapa tipsnya:

Bagaimana Islam Memandang Keberhasilan

Islam mengembalikan manusia kepada ukuran yang lebih mendasar. Allah berfirman, dalam QS. Al-Hujurat Ayat 13,

يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنثَىٰ وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا ۚ إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِندَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

“Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa. Sungguh, Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti.”

Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh nilai ujian, kekayaan, popularitas, atau ukuran-ukuran duniawi lainnya, melainkan oleh ketakwaan yang hanya Allah mengetahui hakikatnya. Karena itu, Islam mengajarkan agar manusia berusaha dengan sungguh-sungguh, tetapi tidak menggantungkan harga dirinya pada hasil yang dapat dihitung. Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda bahwa Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.

Selain itu, Allah tidak berfirman akṯaru ʿamalan (yang paling banyak amalnya), tetapi aḥsanu ʿamalan (yang paling baik amalnya). Islam lebih menekankan kualitas daripada kuantitas. Sebagaimana dalam QS. Al-Mulk Ayat 2,

الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا

Yang menciptakan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa di antara kamu yang paling baik amalnya.”

Lalu Islam mengajarkan untuk fokus kepada usaha dan proses. Islam mengajarkan bahwa fokus seorang mukmin adalah ikhtiar, bukan terobsesi pada angka hasil yang kadang berada di luar kendalinya. Sebagaimana dalam QS. An-Najm ayat 39,

وَأَنْ لَيْسَ لِلْإِنْسَانِ إِلَّا مَا سَعَىٰ

“Dan bahwa manusia hanya memperoleh apa yang telah diusahakannya.”

Dalam Muamalah, Ada Bagian yang Tidak Mutlak Pasti dan Benar

Salah satu sebab ketidakpastian yang mudah ditemui adalah karena teknisnya yang sering tidak disiplin. Contoh kasus nyata dalam kegiatan posyandu, terkadang para relawan ataupun kader desa bekerja dengan prinsip kebersamaan. Aspek yang ditonjolkan adalah kerja bersama guyup rukun dan sekadar menjalankan agenda rutinan dalam menjalankan tugas. Hasil pengukuran terkadang tidak benar-benar merepresentasikan hasil seperti jika kita ke rumah sakit dan mendapatkan hasil laboratorium.

Pun terkadang dalam kasus dokter obgyn (kandungan) modern yang lebih disiplin serta sudah memakai alat dan profesional, hasil pemeriksaan dari satu dokter ke dokter lainnya pada seorang ibu hamil yang sama, itu bisa berbeda, meskipun perbedaannya tidak banyak. Satu dokter menyimpulkan berat kandungan 26 kg, satu dokter bisa menyimpulkan 28 kg, nanti akan ketahuan berapa berat bayi pada kenyataannya saat lahir biasanya tidak jauh dari perkiraan dokter-dokter tersebut, misalnya 27 kg. Kita bisa memahami fenomena ini bisa terjadi dalam aspek apapun. Angka hasil pemeriksaan adalah alat bantu dalam memahami kehidupan, namun jangan dipahami menjadi sesuatu yang pasti dan benar.

Angka perhitungan yang mewakili makna, adalah alat bantu memahami kenyataan hidup. Posisinya untuk mewakili sebagian sisi kehidupan, bukan mewakili semuanya. Ini prinsip yang perlu kita pahami bersama.

Tetap Tenang, Hakikatnya Tidak Semua Bisa Diukur dengan Angka

Di zaman modern, memang manusia tidak hanya mengukur dunia, tetapi juga mengukur dirinya sendiri. Kebahagiaan sering dicari melalui angka-angka yang muncul di layar. Tanpa disadari, kehidupan berubah menjadi sebuah dashboard besar yang dipenuhi grafik dan indikator.

Kita merasa tenang ketika angkanya naik, dan cemas ketika angkanya turun. Padahal tidak semua yang berharga dapat dihitung. Persahabatan tidak bisa diringkas menjadi statistik interaksi. Kekhusyukan tidak dapat ditampilkan dalam diagram batang.

Cinta seorang ibu kepada anaknya tidak pernah dapat diwakili oleh persentase. Di sinilah letak keterbatasan cara pandang modern. Ia sangat piawai menjawab pertanyaan berapa, tetapi sering kebingungan ketika harus menjawab pertanyaan mengapa.

Islam hadir dengan sudut pandang yang berbeda. Ia tidak menolak angka, tetapi menempatkannya pada tempat yang semestinya. Amal tidak dinilai dari jumlah semata, melainkan dari niat dan ketakwaan. Wallāhu aʿlam bi al-ṣawāb. []

tawakal-sabar
tawakal-sabar

 

Daru Nurdianna, M.Pd.

Lahir di Karanganyar-Solo. Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3. Alumnus Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Dosen MKDU AIK di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA-SOLO).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button