
Sujud Sebagai Intisari Ibadah Dalam Islam
Oleh : Agus Miswanto, MA (Dosen Prodi Hukum Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Magelang (UNIMMA) dan Anggota Dewan Pengawas Syariah Lazismu Jawa Tengah)
أَفَمِنْ هَٰذَا الْحَدِيثِ تَعْجَبُونَ ﴿٥٩﴾ وَتَضْحَكُونَ وَلَا تَبْكُونَ ﴿٦٠﴾ وَأَنتُمْ سَامِدُونَ ﴿٦١﴾ فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا ۩﴿٦٢﴾
Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? (59) Dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? (60) Sedang kamu melengahkan(nya)? (61) Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia). [[۩]] (62)”(QS an-Najm: 59-62)
Dalam ayat di atas, Allah memerintahkan untuk bersujud kepada-Nya. Dan sujud merupakan bagian dari rukun shalat, walaupun sebagian aktivitas sujud dapat dilakukan diluar shalat (terlepas dari shalat).
A. Makna Sujud
Sujud (السُّجُود) adalah salah satu rukun dalam salat yang dilakukan dengan meletakkan dahi di tanah (atau tempat sujud) sebagai bentuk total ketundukan dan penghambaan kepada Allah SWT. Secara Bahasa (Lughawi), kata sujud berasal dari bahasa Arab sajada سَجَدَ – يَسْجُدُ – سُجُودًا, yang berarti: tunduk, merendah, atau patuh secara total. Secara Istilah (Syara’) Sujud adalah:Meletakkan dahi ke tanah atau tempat sujud sebagai bentuk ibadah kepada Allah, disertai dengan menempelkan tujuh anggota sujud (dahi, dua telapak tangan, dua lutut, dan dua ujung kaki).
Sujud juga merupakan posisi paling dekat antara seorang hamba dengan Tuhannya. Sehingga sujud memiliki makna terdalam dari ibadah karena sebagai simbol penghinaan diri, wujud penghambaan tertinggi, dan titik kedekatan spiritual maksimal dengan Allah.
B. Macam-Macam Sujud
Berikut adalah macam-macam sujud dalam Islam yang dikenal dalam fikih:
1) Sujud dalam Shalat (سُجُود الصَّلَاة)
Sujud yang merupakan rukun dari shalat. Dalam setiap rakaat, dilakukan dua kali sujud. Dan hukumnya adalah Wajib, sebagai bagian dari rukun shalat. Hal berdasarkan Dalil:“…Lalu sujud hingga tenang dalam sujudnya…”(HR. Bukhari dan Muslim)
2) Sujud Tilawah (سُجُود التِّلَاوَة)
Sujud yang dilakukan ketika membaca atau mendengar ayat sajdah dalam Al-Qur’an (ada ±15 tempat). Adapun hukumnya adalah Sunnah mu’akkadah (sangat dianjurkan), baik saat shalat maupun di luar shalat. Contoh Ayat Sajdah:
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا
Maka sujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia. (QS. An-Najm: 62)
3) Sujud Syukur (سُجُود الشُّكْر)
Sujud yang dilakukan sebagai ungkapan rasa syukur atas nikmat besar, kabar gembira, atau terhindar dari musibah. Hukumnya adalah sunnah, baik dalam shalat atau di luar shalat. Contohnya: Mendapat kabar baik (lulus ujian, sembuh dari sakit) dan terhindar dari bencana.
4) Sujud Sahwi (سُجُود السَّهْو)
Sujud yang dilakukan karena lupa atau terjadi kesalahan dalam shalat, seperti menambah rakaat, lupa tahiyat awal, dll. Hukumnya adalah wajib atau sunnah, tergantung pada sebab dan madzhab. Caranya dilakukan sebelum atau sesudah salam, tergantung madzhab dan jenis kesalahan. Contoh: Lupa jumlah rakaat atau terlupa membaca tahiyat awal
C. Dalil tentang Sujud dan Kandungan Hikmahnya
1) Perintah Sujud sebagai Wujud Ibadah
فَاسْجُدُوا لِلَّهِ وَاعْبُدُوا
Maka sujudlah kepada Allah dan sembahlah Dia.”(QS. An-Najm: 62)
Ayat ini adalah salah satu ayat sajdah yang menunjukkan bahwa sujud adalah bentuk penghambaan.
2) Ciri Orang Beriman
إِنَّمَا يُؤْمِنُ بِآيَاتِنَا ٱلَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا۟ بِهَا خَرُّوا۟ سُجَّدًۭا وَسَبَّحُوا۟ بِحَمْدِ رَبِّهِمْ
Sesungguhnya orang-orang yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya, mereka menyungkur sujud dan bertasbih memuji Rabb mereka.”(QS. As-Sajdah: 15)
Menunjukkan bahwa sujud adalah respon keimanan terhadap wahyu Allah.
3) Sujud adalah Ciri Khusyuk dan Ketaatan
وَكُن مِّنَ ٱلسَّـٰجِدِينَ
Dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud.”(QS. Al-Hijr: 98)
Perintah langsung dari Allah agar seorang hamba termasuk golongan yang suka bersujud.
4) Sujud adalah Saat Paling Dekat dengan Allah
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ، فَأَكْثِرُوا الدُّعَاءَ
Keadaan paling dekat antara seorang hamba dengan Rabb-nya adalah saat ia sujud. Maka perbanyaklah doa.”(HR. Muslim no. 482)
Menunjukkan keistimewaan sujud sebagai waktu mustajab doa.
5) Larangan Sujud kepada Selain Allah
فَلَا تَسْجُدُوا۟ لِلشَّمْسِ وَلَا لِلْقَمَرِ وَٱسْجُدُوا۟ لِلَّهِ ٱلَّذِى خَلَقَهُنَّ
Maka janganlah kamu bersujud kepada matahari dan jangan pula kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah yang menciptakannya…”(QS Fushilat: 37)
عن أنس بن مالك قال دخل النَّبيُّ ﷺ حائِطًا للأنصارِ ومعه أبو بَكرٍ وعُمَرُ ورِجالٌ مِنَ الأنصارِ، قال: وفي الحائِطِ غَنَمٌ فسجَدَت له، قال أبو بَكرٍ: يا رَسولَ اللهِ إنّا نحن أحَقُّ بالسُّجودِ لك من هذه الغَنَمِ! فقال: إنَّه لا ينبغي أن يَسجُدَ أحَدٌ لأحَدٍ، ولو كان ينبغي أن يَسجُدَ أحَدٌ لأحَدٍ لأَمَرْتُ المرأةَ أن تَسجُدَ لِزَوْجِها». رواه أحمد, الضياء المقدسي، الأحاديث المختارة (٢١٢٩) • أورده في المختارة وقال [هذه أحاديث اخترتها مما ليس في البخاري ومُسلِم]
Dari Anas bin Malik berkata: Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memasuki sebuah kebun kaum Anshar, ditemani oleh Abu Bakar, Umar, dan beberapa orang dari kaum Anshar. Beliau (Anas) berkata: Di dalam kebun itu ada seekor kambing, maka mereka bersujud kepadanya. Abu Bakar berkata: Wahai Rasulullah, kami lebih berhak bersujud kepadamu daripada kambing-kambing ini! Beliau berkata: Janganlah seorang pun bersujud kepada orang lain. Jika seseorang harus bersujud kepada orang lain, niscaya aku akan memerintahkan wanita itu untuk bersujud kepada suaminya. (HR Ahmad. Al-Dhiya’ Al-Maqdisi, Al-Ahadith Al-Mukhtara (2129). Beliau memasukkannya ke dalam Al-Mukhtara dan berkata: [Ini adalah hadits-hadits yang telah aku pilih dari yang tidak ada dalam Al-Bukhari dan Muslim.]
Kedua dalil di atas menegaskan bahwa sujud hanya untuk Allah dan tidak boleh kepada makhluk.
6) Sujud Menghapus Dosa
إِذَا سَجَدَ الْعَبْدُ كَفَّرَ اللَّهُ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةً وَرَفَعَهُ بِهَا دَرَجَةً
Setiap kali seorang hamba sujud, Allah akan menghapus satu kesalahan darinya dan mengangkat satu derajat baginya.”(HR. Muslim no. 488)
Ayat ini menunjukkan bahwa sujud adalah sarana pembersih jiwa dan peningkat derajat.
7) Sujud sebagai Tanda Orang Beriman
سِيمَاهُمْ فِي وُجُوهِهِم مِّنْ أَثَرِ السُّجُودِ
Tanda sujud terlihat di wajah mereka akibat bekas sujud.”(QS. Al-Fath: 29)
Dalam konteks ayat, dijelaskan bahwa bekas sujud adalah tanda ketaatan yang tampak. Sujud menunjukkan ketundukan total kepada Allah, merupakan doa dan permohonan yang paling dalam, menghapus dosa dan meningkatkan derajat, dan melatih hati untuk tawadhu’ (rendah hati).
D. Sujud Sebagai Inti Shalat
Sujud sebagai Inti Shalat adalah konsep penting dalam pemahaman spiritual dan teknis ibadah. Dalam banyak hadis dan pendapat ulama, sujud dianggap sebagai bagian paling agung dalam shalat, baik dari sisi kedekatan kepada Allah, penghambaan, maupun kerendahan diri. Ada beberapa alasan Mengapa Sujud Disebut Inti Shalat?
1) Perintah pertama shalat adalah perintah sujud
Perintah pertama tentang shalat dalam Al-Qur’an secara eksplisit ternyata berupa perintah sujud, bukan langsung perintah mendirikan shalat secara lengkap. Ini menunjukkan bahwa sujud adalah inti dari ibadah dan shalat, dan merupakan bentuk pertama penghambaan yang diperintahkan Allah. Dalam urutan turunnya wahyu, ayat yang pertama kali menunjukkan ibadah shalat adalah:
كَلَّا لَا تُطِعْهُۥ ۖ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب۩
Sekali-kali jangan! Jangan engkau (wahai Muhammad) taati dia! Sujudlah dan dekatkanlah dirimu kepada Allah.”(QS. Al-‘Alaq: 19)
- Al-‘Alaq adalah surah pertama yang diturunkan. Ayat 19 ini merupakan ayat terakhir dari surah tersebut, sekaligus salah satu ayat sajdah. Ayat ini memuat perintah langsung untuk sujud dan mendekat kepada Allah, sebagai simbol awal ibadah formal. Makna Simbolik: Sujud Sebagai Awal dan Inti Shalat. Perintah pertama berupa sujud, bukan “dirikanlah shalat”, menunjukkan bahwa: Sujud adalah inti dari ibadah shalat. Kedekatan dengan Allah dimulai dengan kerendahan total di hadapan-Nya (melalui sujud). Penghambaan dimulai dari menundukkan wajah ke tanah, bukan hanya berdiri atau membaca.
2) Tempat Paling Dekat dengan Allah
أَقْرَبُ مَا يَكُونُ الْعَبْدُ مِنْ رَبِّهِ وَهُوَ سَاجِدٌ
Keadaan paling dekat seorang hamba dengan Rabb-nya adalah saat ia sujud. (HR. Muslim no. 482)
Ini menunjukkan bahwa sujud adalah momen paling intim dan istimewa dalam shalat.
3) Simbol Penghambaan dan Ketundukan Total
Dalam sujud, manusia meletakkan bagian paling mulia dari tubuhnya (wajah) ke tempat yang paling rendah (lantai/tanah). Hal ini menggambarkan kerendahan hati yang sempurna, inti dari seluruh makna ibadah.
4) Sujud Diulang Dua Kali Tiap Rakaat
Dalam satu rakaat, sujud dilakukan dua kali, berbeda dari gerakan lain (ruku’, berdiri, duduk). Ini menandakan keistimewaan sujud di antara rukun-rukun shalat lainnya.
5) Banyak Doa Mustajab dalam Sujud
“… Maka perbanyaklah doa di dalam sujud, sebab sangat layak untuk dikabulkan.”
(HR. Muslim)
Saat sujud, seseorang boleh berdoa dengan doa apa pun (di luar shalat fardhu), karena doa sujud memiliki keutamaan yang tinggi.
6) Tempat shalat dinamakan masjid
Tempat untuk melaksanakan shalat disebut masjid (مَسْجِد). Kata “masjid” berasal dari akar kata Arab س-ج-د (sajada) yang berarti sujud, sehingga masjid secara harfiah berarti “tempat untuk bersujud”. Masjid merupakan bentuk isim makan (kata benda tempat), artinya: tempat melakukan sujud.
وَأَنَّ ٱلْمَسَٰجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا۟ مَعَ ٱللَّهِ أَحَدًا
Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah milik Allah, maka janganlah kamu menyembah apa pun di dalamnya selain Allah. (QS. Al-Jinn: 18)
Ayat ini menegaskan bahwa masjid adalah tempat ibadah murni hanya untuk Allah, bukan untuk selain-Nya. Penamaan masjid sebagai tempat shalat (ibadah) dalam Islam menunjukan bahwa sujud menunjukan bagian inti dari shalat itu sehingga disebut secara khusus.




