Artikel

Menikah Ketika Siap: Sebuah Nasihat yang Menenangkan

Rosik Afwan Mubaroq (Mahasiswa Sekolah Tabligh)

๐Ÿ“… Sabtu, 07 Maret 2026 | 18 Ramadan 1447 H

Menikah dalam Islam bukan sekadar mengikuti usia, tren, atau desakan sosial. Ia adalah langkah besar yang memerlukan kesiapan dan tanggung jawab. Rasulullah ๏ทบ telah memberikan nasihat yang sangat jernih dan menenangkan tentang hal ini.

ูŠูŽุง ู…ูŽุนู’ุดูŽุฑูŽ ุงู„ุดู‘ูŽุจูŽุงุจูุŒ ู…ูŽู†ู ุงุณู’ุชูŽุทูŽุงุนูŽ ู…ูู†ู’ูƒูู…ู ุงู„ู’ุจูŽุงุกูŽุฉูŽ ููŽู„ู’ูŠูŽุชูŽุฒูŽูˆู‘ูŽุฌู’ุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ุฃูŽุบูŽุถู‘ู ู„ูู„ู’ุจูŽุตูŽุฑู ูˆูŽุฃูŽุญู’ุตูŽู†ู ู„ูู„ู’ููŽุฑู’ุฌูุŒ ูˆูŽู…ูŽู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุณู’ุชูŽุทูุนู’ ููŽุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ูุŒ ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ู„ูŽู‡ู ูˆูุฌูŽุงุกูŒ

โ€œWahai para pemuda, barang siapa di antara kalian telah mampu, maka hendaklah ia menikah. Sesungguhnya menikah itu lebih menundukkan pandangan dan lebih menjaga kehormatan. Dan barang siapa belum mampu, maka hendaklah ia berpuasa, karena puasa itu dapat menjadi perisai baginya.โ€
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini sering dipahami sebagai dorongan untuk segera menikah. Padahal, jika dibaca dengan tenang, Rasulullah ๏ทบ justru meletakkan satu kata kunci penting: mampu (al-bฤโ€™ah). Kesiapan menjadi syarat utama sebelum melangkah ke dalam ikatan pernikahan.

Para ulama menjelaskan bahwa kemampuan dalam hadis ini tidak hanya soal fisik, tetapi juga mencakup kesiapan mental, tanggung jawab, dan kemampuan menunaikan kewajiban dalam rumah tangga. Dengan kata lain, Islam tidak mendorong pernikahan yang tergesa-gesa, melainkan pernikahan yang dipikirkan dengan matang. Menariknya, Rasulullah ๏ทบ juga tidak menutup mata terhadap mereka yang belum siap. Tidak ada celaan atau tekanan, melainkan solusi yang bijaksana: menjaga diri, memperkuat kontrol spiritual, dan melatih kesabaran. Puasa disebut sebagai wijฤโ€™โ€”perisaiโ€”yang membantu seseorang menata hawa nafsu dan memelihara kehormatan.

Pesan hadis ini sangat relevan di tengah realitas hari ini. Menikah bukan tentang siapa yang paling cepat, tetapi siapa yang paling siap memikul amanah. Kesiapan itulah yang kelak menjadi pondasi bagi ketenangan, keadilan, dan kasih sayang dalam keluarga. Islam hadir dengan ajaran yang realistis dan penuh rahmah. Ia mendorong pernikahan bagi yang siap, sekaligus menjaga martabat mereka yang masih berproses. Sebuah keseimbangan yang menenangkan, bukan menekan.

 

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button