AkhlaqArtikelTuntunan

Menumbuhkan Sabar di Tengah Safar

Oleh:  Dr. Hermawan, M.Pd.I

📅 Ahad, 19 April 2026 | 2 Zulkaidah 1447 H

Safar jika diartikan ke Bahasa Indonesia berarti perjalanan. Sebuah perjalanan yang ditempuh oleh seseorang memang melatih dan menguji kesabarannya. Hal ini sesuai dengan Sabda Nabi Muhammad SAW:  Dari Abu Hurairah r.a. bahwasanya Rasulullah s.a.w. bersabda: “Berpergian itu sepotong -yakni sebagian- dari siksaan. Seseorang akan terhalang untuk makannya, minumnya serta tidurnya -sebab tidak dapat tertib dan mudah seperti di rumah-. Maka dari itu, apabila seseorang diantara engkau semua telah menyelesaikan maksud tujuannya, hendaklah segera kembali ke tempat keluarganya.” (Muttafaq ‘alaih)

Perjalanan dikatakan sebagai latihan bersabar karena dalam perjalanan itu seseorang berada di dalam kondisi yang tidak sewajarnya, semua aktifitas harian dikerjakan secara terbatas. Oleh karenya, Nabi Muhammad SAW menyebut perjalanan itu bagian kecil dari siksa. Sebaliknya, ketika seseorang tidak dalam perjalanan tentu merasa nyaman dan enjoy beraktifitas, makan, minum, bekerja, beribadah dan sebagainya. Itulah sebabnya, saat seseorang sedang dalam perjalanan sesungguhnya tengah melatih kesabarannya, tengah melatih bertahan dalam zona tidak nyaman. Sedekat atau sejauh apapun perjalanan tetap memberikan dampak ketidaknyamanan seseorang, dari ketidaknyamanan ini melatih dan menguji kesabaran.

Jika safar dapat melatih sabar, maka ketika seseorang ingin mengetahui karakter dan akhlak teman atau saudaranya dapat diteliti saat melakukan perjalanan bersamanya. Safar melatih seseorang sabar dalam zona ketidaknyamanan, maka ketika teman atau saudara diajak dalam sebuah perjalanan pasti akan nampak karakter (watak) ‘original’ dari seseorang itu. Tentunya perjalanan yang ditempuh tidak hanya sekali atau dua kali, tapi sesering mungkin agar karakter seseorang itu dapat diketahui dengan valid.

Safar dalam konteks ini tidak hanya berarti perjalanan dari satu tempat menuju tempat lain, akan tetapi bermakna juga safar yang berarti ‘perjalanan hidup’. Ya, kehidupan seseorang di dunia ini adalah sebuah ‘perjalanan’ yang sedang menuju ke tujuan selannjutnya. Maka, menjalani perjalanan kehidupan ini mutlak dibutuhkan kesabaran ekstra dibanding perjalanan dalam konteks lain.  Dari segi waktu perjalanan kehidupan lebih lama disbanding perjalanan biasa, dari sisi ujian dan beban juga lebih banyak dalam perjalanan kehidupan, maka kesabaran wajib terpatri dalam menjalani perjalanan kehidupan. Buah kesabaran dalam perjalanan kehidupan ini akan dinikmati ketika seseorang sampai pada ‘tujuan’ perjalanan kehidupan, yaitu Syurga. Sebagaimana Firman Allah Q.S Ar-Ra’du ayat 24: “keselamatan atasmu berkat kesabaranmu, maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu”. Ayat tersebut menjelaskan bahwa ketika seseorang bersabar dalam perjalanan hidupnya, maka saat di akhirat kelak, mereka disambut oleh para Malaikat di surga seraya dikatakan “selamat atas kesabaran kalian menjalani perjalanan kehidupan di dunia”.

Penulis:  Dr. Hermawan, M.Pd.I (Wakil Ketua Majelis Tabligh PWM Jateng dan Dosen Universitas Muhammadiyah Purworejo)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button