
Bismillaahirrahmaniirrahiim
Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh
الْحَمْدُ لله رَبِّ الْعَالَمِيْنَ، وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى أَشْرَفِ الْأَنْبِيَاءِ وَالْمُرْسَلِيْنَ، وَعَلَى أله وَأَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ، أَمَّا بَعْدُ
Hadirin kaum muslimin muslimat rahimakumullah.
Marilah kita sanjungkan kesyukuran atas semua ni’mat yang telah Allah anugrahkan kepada kita sehingga di waktu yang baik ini kita bisa bersama-sama melaksanakan kegiatan di kesempatan ini.
Shalawat salam semoga tercurah kepada Rasulullah Saw, keluarga, sahabat dan pengikutnya hingga akhir zaman. Beliaulah uswah khasanah kita baik dalam berperilaku, beribadah dan uswah dalam semua aspek kehidupan kita, semoga kitab isa mengikuti sunah-sunah beliau dan semoga kita beruntung di akhirat mendapatkan syafaat beliau Rasulullah Saw, Aamin.
Hadirin kaum muslimin muslimat rahimakumullah.
Dikesempatan yang baik ini kami akan menyampaikan Materi Maulid Nabi dengan judul “SIFAT DAKWAH NABI MUHAMMAD SAW ”
Kenapa Judul ini menarik untuk diulas, karena bagaimana mungkin kita akan mencontoh akhlaq beliau tanpa kita mengetahui sifat dan akhlaq beliau, bagaimana mungkin kita bisa mengikuti sunah-sunah sedangkan kita tidak tahu ajaran-ajarannya, bagaimana mungkin kita mengaku cinta kepada beliau padahal kita tidak tahu orang yang kita cintai. Dan bagaimana mungkin kita berharap syafaatnya tanpa mengikuti petunjuk dan ajarannya.
Rasulullah adalah uswah disemua aspek kehidupan ?
لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًاۗ
“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah”. ( QS. Al Ahzab : 21 )
Aspek kehidupan pribadi, beliau seorang jujur, amanah, sabar, pemaaf, sederhana, lemah lembut
Aspek kepemimpinan, beliau seorang yang adil, bijaksana, cerdas
Aspek sosial, beliau seorang yang kasih sayang, toleran dan peduli sesama
Aspek Ibadah, beliau seorang yang dekat dengan Allah dan tekun beribadah.
Aspek keluarga beliau seorang suami yang sayang istri dan anak dan suka membantu istri, tidak suka bersikap kasar.
Aspek dakwah beliau seorang yang mempunyai sifat keteguhan, sabar, pemaaf, lembut dan kasih sayang, serta memiliki keteladanan yang sempurna.
Hadirin kaum muslimin muslimat rahimakumullah.
Di waktu yang terbatas ini saya akan menyampaikan aspek sifat dakwah Rasulullah SAW, Allah Swt telah mensifat sifat dakwah Rasulullah Saw di Surat At-taubah ayat 128 yang berbunyi :
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
“Sungguh, telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, (dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman.” (At-Taubah/9:128)
Ayat ini menyebutkan 5 sifat Nabi Muhammad SAW yang sangat penting untuk dimiliki oleh siapa saja yang hendak berdakwah. Dengan memiliki sifat-sifat ini, maka insyaAllah tujuan dakwah akan berhasil dan diterima.
Pembahasan secara ringkas tentang lima sifat itu adalah sebagai berikut.
Pertama, obyek dakwahnya مِّنْ اَنْفُسِكُمْ ( kaumnya sendiri )
Makna kaumnya sendiri bangsa Arab, kenapa Allah Swt memilih bangsa arab, tentu Allah atas kebijaksanaan lebih tahu tentang hikmahnya, tapi paling tidak kita bisa mecoba menggali hal itu,
Pertama secara geografis arab terletak di tengah peta dunia, yang menghubungkan romawi dengan perabadan barat dan Persia dengan peradaban timur serta menghubungkan benua asia dan afrika.
Kedua secara sosial budaya bangsa arab adalah masyarakatnya masih murni, bangsa yang ummi, dan bangsa yang merdeka
Dalam terjemahan di atas disebutkan “telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri”. Terjemahan ini penulis ambil dari terjemah Kemenag RI tahun 2002. Dalam kitab tafsir Marah Labid dijelaskan bahwa ada yang membaca kata min anfusikum bisa dibaca dengan min anfasikum. Ini adalah bacaan Sayyidatina Fathimah dan Sayyidatina ‘Aisyah. Yang pertama (dhummah fa’) bermakna “dari jenismu sendiri, yakni manusia, orang Arab, Quraish”. Sedangkan yang kedua (fathah fa’) bermakna “dari golongan orang yang mulia di antara kalian”.
Dari yang pertama kita bisa mengambil pelajaran bahwa hendaknya seorang pendakwah berasal dari golongan obyek dakwahnya, bukan dari orang lain. Mengapa demikian? Obyek dakwah tidak akan ragu dalam menerima si pendakwah, karena pendakwah merupakan golongan/bagian dari mereka sendiri.
Atau jika merujuk kepada pendapat yang kedua, maka hendaknya pendakwah itu berasal dari golongan orang-orang mulia atau memiliki sifat-sifat mulia dengan memiliki kedudukan yang mulia dan sifat-sifat mulia, maka obyek dakwahnya akan menaruh rasa hormat yang tinggi dan akan mudah dicontoh berbeda jika pendakwah berasal dari golongan orang biasa. Terlepas dari perbedaan pendapat di atas, keduanya memiliki tujuan yang sama: agar dakwahnya mudah diterima.
Bagaimana jika nyatanya pendakwah bukan orang yang berasal dari golongan obyek dakwahnya atau bukan merupakan orang yang mulia? dalam berdakwah, hal demikian bukan syarat, namun hanya sekadar anjuran agar dakwah semakin mudah. Masih ada solusi bagi yang bukan termasuk dua golongan di atas, yakni sebagaimana diuraikan di bawah ini.
Kedua, sangat merasakan penderitaan umat عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ
Sifat ini terambil dari (terjemah) ayat “berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami”. Al-Maraghi dalam tafsirnya menyebutkan bahwa penderitaan yang dimaksud adalah bertemu dengan hal-hal yang dibenci (makruh), baik di dunia (disengsarakan oleh para musuh lewat kekuasaan) atau di di akhirat (menjadi penghuni neraka). Nabi merasakan demikian karena ia adalah juga bagian dari masyarakatnya.
Pendakwah hendaknya selalu memiliki sifat khawatir dan takut manakala masyarakatnya mengalami hal yang tidak mengenakkan, baik di dunia maupun di akhirat. Keadaan seperti ini akan mengantarkan kepada kesungguh-sungguhan dalam berdakwah dan mengajak mereka kepada jalan yang benar.
Ketiga, selalu mengharapkan keselamatan umat حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ
ketiga yang dimiliki Nabi adalah “(dia) sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu”. Al-Qasimi mengatakan bahwa keinginan Nabi ini agar umatnya mendapat hidayah. Sehingga tak ada satu pun dari umatnya yang tidak mengikuti jalan yang telah ia tempuh.
Orang yang berdakwah hendaknya memiliki semangat dan keinginan yang kuat agar umatnya senantiasa mendapat petunjuk (mendapatkan kebahagiaan). Agaknya ini merupakan penegasan dari poin sebelumnya (menghindarkan keburukan). Dengan demikian, pendakwah akan selalu berusaha dan berdoa untuk kebaikan umatnya.
Keempat dan kelima, penyantun dan penyayang terhadap orang beriman بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Ini terambil dari “penyantun dan penyayang terhadap orang-orang yang beriman”. Wahbah al-Zuhaili menjelaskan bahwa yang dimaksud dengan penyantun (rauf) adalah sangat lemah lembut, sedang penyayang (rahim) adalah sangat memiliki kasih sayang. Sedangkan dalam tafsir Jalalin disebutkan bahwa yang dimaksud dengan rauf adalah sangat memiiliki kasih sayang (rahmat) sedangkan rahim adalah menginginkan kebaikan bagi mereka.
Untuk mempertegas sifat Rauf dan Rahim ini dipertegaskan dengan surat Al Anbiya’ ayat 107 :
وَمَآ اَرْسَلْنٰكَ اِلَّا رَحْمَةً لِّلْعٰلَمِيْنَ
“Dan tiadalah Kami mengutus engkau, kecuali untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.
Ayat ini menegaskan bahwa Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah bukan hanya untuk kaum Muslim, tetapi sebagai rahmat dan kasih sayang bagi seluruh alam semesta, baik yang beriman maupun yang tidak, yang mengandung makna mendalam berupa spiritual, moral, sosial, dan persatuan.
Contoh sifat Rauf Rahimnya Rasulullah Saw :
- Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mendoakan kemudahan bagi umatnya saat sakaratul maut, bahkan ia memohon agar sakitnya sakaratul maut yang akan menimpa umatnya dialihkan kepadanya, meskipun dirinya sedang merasakan sakitnya kematian.
- Keringanan shalat 50 waktu menjadi 5 waktu
- Syafaat Rasulullah Saw kepada umatnya di hari Yaumul Kiyamah :
Demikian seperti yang terungkap dalam sebuah hadits:
لِكُلِّ نَبِيٍّ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ، فَتَعَجَّلَ كُلُّ نَبِيٍّ دَعْوَتَهُ، وَإِنِّي اخْتَبَأْتُ دَعْوَتِي شَفَاعَةً لِأُمَّتِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ، فَهِيَ نَائِلَةٌ إِنْ شَاءَ اللهُ مَنْ مَاتَ مِنْ أُمَّتِي لَا يُشْرِكُ بِاللهِ شَيْئًا
Artinya: “Setiap nabi memiliki doa mustajab. Hanya saja, setiap nabi sudah menyegerakannya di dunia, sedangkan aku menyimpan doaku sebagai syafaat bagi umatku pada hari Kiamat. Syafaat itu akan didapatkannya, insya Allah, oleh siapa saja dari umatku yang meninggal tanpa menyekutukan Allah dengan apa pun.” (HR. Muslim).
Dari akhir ayat 128 tersebut terbaca dengan jelas bahwa hendaknya seorang pendakwah itu memiliki sifat kasih sayang yang sangat besar kepada umatnya. Ini agaknya akan mengantarkan kepada sikap legowo manakala dakwahnya belum diterima (ditolak) atau berhasil. Juga, dengan sifat ini, seorang pendakwah akan selalu melakukan dakwah dengan semangat kasih sayang.
Demikian lima sifat Nabi yang hendaknya selalu dimiliki setiap pendakwah dalam setiap aktifitasnya. Dan yang juga penting adalah pendakwah yang maksud tidak saja mereka yang ahli ceramah di atas panggung, namun siapa saja yang menginginkan dan mengajak orang lain untuk melaksanakan kebaikan. Semoga kita bisa meneladani sifat-sifat Rasulullah Saw. Aamiin.
Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.




