Fiqh

Keutamaan Membaca Shalawat

Oleh: KH. Wahyudi Sarju Abdurrahim, Lc, MM

 

Membaca shalawat kepada Baginda Nabi Muhammad SAW bukan sekadar rutinitas lisan yang bersifat simbolis, melainkan sebuah ibadah multidimensional yang menyentuh relasi terdalam antara hamba, Sang Pencipta, dan sang pembawa risalah. Keistimewaan ibadah ini terletak pada kedudukannya yang sangat eksklusif; shalawat adalah satu-satunya perintah ibadah di mana Allah SWT menyatakan diri-Nya sebagai pelaku pertama sebelum memerintahkan makhluk-Nya untuk turut serta. Keagungan ini tertuang secara eksplisit dalam sumber primer hukum Islam, Al-Qur’an Surah Al-Ahzab ayat 56:

إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
“Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.”

Penggunaan kata yushalluna dalam ayat tersebut, yang merupakan bentuk kata kerja masa kini dan masa depan (fi’il mudhari’), menegaskan bahwa Allah senantiasa dan terus-menerus melimpahkan rahmat serta kemuliaan kepada Nabi. Ketika seorang mukmin bershalawat, ia sejatinya sedang menyelaraskan frekuensi spiritualnya dengan aktivitas penghuni langit, menciptakan sebuah getaran cinta yang menghubungkan bumi dengan Arsy.

Keutamaan ini semakin dipertegas oleh Rasulullah SAW melalui lisan beliau yang mulia. Dalam sebuah hadits shahih yang diriwayatkan oleh Imam Muslim, beliau menjanjikan sebuah multiplikasi rahmat yang luar biasa bagi siapa saja yang bershalawat. Beliau bersabda:

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا

“Barangsiapa yang bershalawat kepadaku sekali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim)

Satu ucapan shalawat dari seorang hamba yang penuh keterbatasan dibalas dengan sepuluh kali lipat rahmat dari Allah Yang Maha Tak Terbatas. Hal ini menunjukkan bahwa shalawat adalah kunci pembuka pintu-pintu langit yang paling cepat. Bahkan, dalam riwayat Imam An-Nasa’i, efek dari shalawat ini tidak hanya mendatangkan rahmat, tetapi juga melakukan pembersihan total terhadap catatan amal seseorang melalui penghapusan sepuluh dosa dan pengangkatan derajat sebanyak sepuluh tingkat.

مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ، وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرُ خَطِيئَاتٍ، وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرُ دَرَجَاتٍ
“Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, niscaya Allah bershalawat kepadanya sepuluh kali, menghapus sepuluh dosa darinya, dan mengangkat derajatnya sepuluh tingkat.” (HR. An-Nasa’i):

Lebih dari sekadar penghapus dosa, shalawat adalah “investasi kedekatan” pada hari kiamat. Di saat setiap jiwa merasa asing dan ketakutan, mereka yang paling banyak bershalawat akan menempati posisi yang paling istimewa di sisi Nabi Muhammad SAW. Sebagaimana sabda nabi:

أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلَاةً

“Manusia yang paling berhak bersamaku (paling dekat denganku) pada hari kiamat adalah yang paling banyak bershalawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi)

Kata awla dalam hadits ini mengandung makna yang sangat dalam; yakni orang yang paling berhak, paling utama, dan paling layak mendapatkan pembelaan atau syafaat beliau. Kedekatan ini bukanlah kedekatan fisik semata, melainkan kedekatan maknawi yang lahir dari ketulusan cinta yang dipupuk selama di dunia.

Terakhir, shalawat adalah solusi bagi kebuntuan hidup. Seringkali doa-doa seorang hamba tertahan karena hijab dosa dan kelalaian. Namun, shalawat hadir sebagai wasilah yang menembus hijab tersebut. Bahkan, dalam percakapan antara Rasulullah dengan sahabat Ubay bin Ka’ab, beliau menjamin bahwa jika seseorang mencurahkan seluruh waktu doanya untuk bershalawat, maka segala kegalauan hidupnya akan dicukupkan oleh Allah dan dosa-dosanya akan diampuni sepenuhnya.

إِذًا تُكْفَى هَمَّكَ، وَيُغْفَرُ لَكَ ذَنْبُكَ
Hadits riwayat Umar bin Khattab, baginda nabi bersabda, “Sesungguhnya doa itu diam (terhenti) di antara langit dan bumi, tidak naik sedikit pun darinya sehingga engkau bershalawat kepada Nabimu.”

Dengan demikian, menjadikan shalawat sebagai nafas kehidupan berarti mengundang kehadiran Allah dan Rasul-Nya dalam setiap denyut nadi kita. Ia adalah amalan yang ringan di lisan, namun sangat berat dalam timbangan mizan, serta menjadi cahaya yang akan menerangi jalan seorang hamba melewati jembatan sirat menuju kebahagiaan yang abadi.

Berikut kami cantumkan shalawat Muhammadiyah, sebagai sebuah sastra yang berisi shalawat, doa dan harapan untuk mengikuti teladan dari baginda nabi Muhammad saw.  Selawat ini juga berisi harapan agar kita senantiasa teguh dalam mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW, baik dari segi sunnah, sirah (sejarah), maupun akhlak beliau serta agar kita ditetapkan untuk teguh dalam keimanan dan dalam membela dakwah Islam.

صلوات محمدية

يا ربِّ بالمُختارِ بلِّغْ مقاصدنا

واغفِرْ لنا تقصيرنا في السُنَّةِ المحمدية

نحمدُكَ اللهم على عَظيمِ النِّعَمْ

إذْ صِرْنا أتباعاً للسيرة  المحمدية

ونُصلِّي على النَّبيِّ صَلاة دائمة

إذْ صِرْنا نُجاهِدُ بالقُدوَةِ المحمدية

ونُعلي لواءَ الحَقِّ بالإيمانِ والاسلام

ونمضي  بخُطانا في الرّسالَةِ المحمدية

فاللَّهُ خصَّ المُصطفى بالذِّكرِ والتبشير

بالوَحيِ والتَّشريعِ والأنوارِ المحمدية

يا ربِّ ثبِّتْنا على خُلقِ الهُدى

لنكونَ حُرَّاساً للدعوة المحمدية

​Selawat Muhammadiyah

​Wahai Tuhan kami, demi Sang Al-Mukhtar (yang terpilih/nabi Muhammad), sampaikanlah hajat-hajat kami,

Dan ampunilah kelalaian kami dalam menjalankan Sunnah nabi Muhammad.

​Kami memuji-Mu, ya Allah, atas nikmat-nikmat-Mu yang agung,

Karena Engkau telah menjadikan kami pengikut Sirah (jalan hidup) nabi Muhammad.

​Kami berselawat kepada Nabi dengan selawat yang abadi,

Karena kini kami berjuang dengan mengikuti Teladan nabi Muhammad.

​Kami tinggikan panji kebenaran dengan Iman dan Islam,

Dan kami melangkah maju dalam membawa Risalah nabi Muhammad.

​Allah telah mengkhususkan Al-Mustafa dengan sebutan mulia dan kabar gembira,

Melalui wahyu, syariat, dan cahaya-cahaya nabi Muhammad.

​Wahai Tuhan kami, teguhkanlah kami di atas akhlak petunjuk-Mu,

Agar kami dapat menjadi penjaga bagi Dakwah nabi Muhammad.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button