BeritaDinamika Pesyarikatan

Idul Adha di Kota Tegal: Khatib Tegaskan Millah Ibrahim, Haji, dan Martabat Kemanusiaan

📅 Rabu, 28 Mei 2026 | 10 Zulhijah 1447 H

Tegal — Peringatan Idul Adha 1447 H di halaman SMK Muhammadiyah Satu Kota Tegal, Jawa Tengah, Rabu (27/5/2026), berlangsung khidmat dengan pesan yang menegaskan kembali hubungan antara tauhid, ibadah haji, dan penghormatan terhadap martabat manusia. Dalam khutbahnya, Alvin Qodri Lazuardy, S.Ag., M.Pd., dari Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah, mengajak jamaah menelusuri makna Idul Adha bukan hanya sebagai ritual penyembelihan kurban, melainkan sebagai perayaan kemanusiaan yang berakar pada keteladanan Nabi Ibrahim a.s.

Pada khutbah bertema “Millah Ibrahim, Ibadah Haji, dan Martabat Kemanusiaan” itu, khatib menegaskan bahwa Millah Ibrahim bukan sekadar identitas formal keagamaan, tetapi jalan primordial manusia untuk kembali kepada perjanjian asal dengan Allah Swt. Ia menjelaskan bahwa Nabi Ibrahim a.s. mewariskan jalan ketundukan total kepada Tuhan Yang Maha Esa, sebuah kesadaran tauhid yang membebaskan manusia dari penghambaan terhadap apa pun selain Allah.

“Millah Ibrahim” dalam pandangan yang disampaikan khatib, adalah jalan hanif yang mengembalikan manusia kepada fitrah dan adab. Di hadapan jamaah, ia mengaitkan ajaran itu dengan krisis manusia modern yang menurutnya kerap kehilangan adab karena tidak lagi memahami posisi dirinya di hadapan Tuhan. Dari sini, khutbah menempatkan Islam sebagai penyempurna risalah Ibrahim, bukan pemutus tradisi kenabian sebelumnya.

Khatib juga menguraikan bahwa ibadah haji tidak dapat dipahami secara utuh tanpa menelusuri jejak spiritual Nabi Ibrahim bersama keluarganya. Seluruh rangkaian haji, menurutnya, menyimpan pelajaran tauhid, pengorbanan, dan kesetaraan manusia. Ia menekankan bahwa saat jamaah mengenakan ihram, mereka sejatinya sedang belajar menanggalkan simbol-simbol kebesaran dunia dan berdiri sama di hadapan Allah.

Dalam bagian lain khutbah, disampaikan bahwa Islam melalui keteladanan Nabi Ibrahim membatalkan tradisi pengorbanan manusia yang dahulu dikenal sebagai sesaji atau tumbal. Dari situ, Idul Adha diposisikan sebagai ajaran yang memuliakan nyawa manusia dan menumbuhkan kepedulian sosial. Penyembelihan hewan kurban, kata khatib, adalah sarana meneguhkan kasih sayang, solidaritas, dan keberpihakan kepada fakir miskin.

Khutbah itu juga menyoroti makna persamaan derajat manusia. Melalui haji, semua orang berdiri sejajar tanpa membedakan ras, bangsa, warna kulit, maupun status sosial. Yang membedakan, tegasnya, hanyalah ketakwaan. Pesan itu diperkuat dengan seruan agar semangat Idul Adha tidak berhenti pada ritual, melainkan berlanjut dalam perilaku sosial yang adil, santun, dan penuh kasih sayang.

Menjelang penutup khutbah, Alvin Qodri Lazuardy menyampaikan pesan reflektif tentang hubungan tauhid dan martabat kemanusiaan dengan meminjam pandangan Ali Syari’ati serta gagasan H.O.S. Tjokroaminoto. Seruannya kepada generasi muda menekankan pentingnya menjadi pribadi yang berpaksi tauhid, berilmu, beradab, dan berjuang dengan kehormatan di hadapan Allah serta sesama manusia.

Sholat Idul Adha yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang Muhammadiyah Tegal Timur II itu kemudian ditutup dengan doa bersama untuk kaum muslimin dan muslimat, serta harapan agar Allah menerima ibadah kurban dan memperkuat persaudaraan di tengah umat. Dalam suasana yang penuh kekhusyukan, Idul Adha di Tegal tahun ini meninggalkan pesan yang kuat: bahwa pengorbanan sejati bukan hanya menyembelih hewan kurban, tetapi juga menundukkan ego, kebencian, dan kesombongan demi tegaknya martabat kemanusiaan.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button