
Seri Dakwah Kultural 2
TAFSIR ISLAMI TERHADAP FIGUR TOKOH WAYANG BIMA
Oleh: M. Danusiri
Bima adalah anak nomor dua pandawa. Dia mempunyai 3 orang adik: Arjuna, Nakula, dan Sadewa. Dia digambarkan berperawakan tinggi besar di atas rata-rata orang tinggi besar. Karena besar dan kuat fisiknya, ia sangat jagoan dan selalu menang dalam berduel dengan siapapun. Karakter kejagoannya efektif menumpas setiap keanggakaramurkaan kaum dhalimun seperti premansme hingga imperialisme (penjajah). Kejahatan Prabu Jorosandho, 100 kesatria Kurawa, dan Prabu Newatakawoco habis ditumpas oleh Bima.
Bima digambarkan tidak pernah geguyonan, melainkan hanya berbicara apa adanya dan jujur, mengandung pesan bahwa dalam kesadarannya selalu tertuju kepada yang benar dan yang dipertuhan. Menghadap Ilahi pasti dilandasi hati yang khusyu’, merupakan terapan ayat:
الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا وَتَطْمَىِٕنُّ قُلُوْبُهُمْ بِذِكْرِ اللّٰهِ ۗ اَلَا بِذِكْرِ اللّٰهِ تَطْمَىِٕنُّ الْقُلُوْبُ ۗ (Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, bahwa hanya dengan mengingat Allah hati akan selalu tenteram – QS ar- Ra’d/13: 28).
Kecintaannya terhadap kejujuran merupakan personifikasi terhadap hadis nabi: عَلَيْكُمْ بِالصِّدْقِ ، فَإِنَّ الصِّدْقَ يَهْدِيْ إِلَى الْبِرِّ ، وَإِنَّ الْبِرَّ يَهْدِيْ إِلَى الْجَنَّةِ (Hendaklah kalian selalu berlaku jujur, karena kejujuran membawa kepada kebaikan, dan kebaikan mengantarkan seseorang ke Surga – HR Bukhari: 5629, Muslim: 4719).
Sebagai anak nomor dua Pandawa, dia dimaknakan sebagai rukun Islam yang kedua, yaitu shalat. Dalam Bahasa yang hidup, orang melakukan shalat selalu diistilahkan mendirikan shalat. Penggunaan istilah ini menyerap Alquran yang berbahasa Arab, iqâmûşşalâĥ, (mendirikan shalat) atau aqĩmûşşalâĥ (dirikanlah shalat). Itulah sebabnya Bima tidak bisa duduk. Dia hanya bisa duduk kalau menemui yang dipertuhan. Makna duduk itu dilakukan totalitas jiwa-raga, yaitu melakukan shalat yang di dalamnya ada duduk attahiyyat dan diantara dua sujud sebagai simbol pasrah total kepada yang disujudi, yaitu Dewaruci, sebagai pemaknaan dari istilah ilâhun wâĥidun (Tuhan yang Maha Esa) dan memiliki nama atau sifat Mahasuci.
Untuk menemui kepada yang dipertuhan, godaan syetan sangat berat tetapi harus datasi hingga setan itu sirna darinya. Perlambangannya adalah dua raksasa yang hendak membunuhnya. Bima justru bisa membunuhnya, hingga raksasa itu musnah. Setelah itu dia masuk ke dalam samudera nan dalam. Maknanya adalah menyelam ke dalam inti qalbu. Hasil yang diperoleh adalah banyuperwitosari. Maknanya adalah kesejatian hidup. Di situlah dia bisa bertemu dengan Tuhan, Babak ini merupakan tafsir hadis palsu man ‘arafa nafsahu faqad ‘arafa Rabbahu (barang siapa mengetahui dirinya, maka ia mengetahui tuhannya). Hadis ini popular di kalangan tasawuf-thareqat.
Pertemuan dengan Tuhannya digambarkan susuh angin (sarang angin), sesuatu yang tidak mungkin ditangkap dengan pancaindra maupun akal, Artinya, Sunan Kalijaga yang mengarang lakon (babak) Dewaruci berpesan bahwa orang bertemu Tuhan (wuşûl ilallâh) tidak bisa digambarkan secara inderawi maupun rasio. Dia tidak memperkenalkan istilah yang belum bisa ditangkap oleh umat pada masanya, seperti ma’rifah, ittiĥâd, fana’, baqa’, dan waĥdatul wujûd. Dia memperkenalkan istilah manunggaling kawulo-Gusti.
Nama lain dari Bima adalah Werkudoro. Nama ini cognate dari Bahasa Arab waqtu dhahara (waktu yang nyata). Makna yang dimaksud bukan hanya waqtu luhur saja, melainkan semua waktu shalat yang lima, sudah nyata banget (ďahĩr–ďuhûr) pada posisinya masing-masing. Nama Werkudoro merupakan tafsir langsung dari ayat:
اِنَّ الصَّلٰوةَ كَانَتْ عَلَى الْمُؤْمِنِيْنَ كِتٰبًا مَّوْقُوْتًا (Sesungguhnya shalat itu merupakan kewajiban yang waktunya telah ditentukan atas orang-orang mukmin.- QS an-Nisa’/4: 103).
Makna lain dari shalat sebagaimana dijelaskan Alquran Surat al‘Angkabut ayat 19 adalah tanha ‘anil fahsya’ wal mungkar (mencegah kekejian dan kemungkaran). Keji adalah berbuat jahad yang efek kehajahatannya hanya menimpa pelaksananya umpama zina, dan mungkar adalah berbuat jahad tetapi efek kejahatannya merugikan orang lain seperti: membuli, mencuri, korupsi, dan mendiskrimani hukum terhadap rakyat kecil.
Figur Werkudoro pasti berhasil ketika menumpas kejahatan apapun yang berada di hadapannya. Senjata andalannya adalah kuku ponconoko. Ponco berarti lima noko berarti kekuatan dan yang dimaksudkan adalah rukun Islam yang lima sebagai dasar untuk menumpas segala bentuk kejahatan. Kuku itu sangat Panjang dan super tajam. Bagian kanan berwarna putih, bagian kiri berwarna merah. Makna islaminya adalah mantap menumpas kejahatan karena benar. Jika dengan kukuponconoko tidak mempan, maka senjata pamungkasnya adalah godo rujakpolo, mudah diartikan melumat otak penjahat dalam arti pecah kepala karena pukulan dahsyat senjata itu. Sebenarnya, kata itu berasal dari bahsa Arab falâ raja’a, artinya maka tidak pernah akan kemnali, maksudnya dengan pukulan itu pasti mati. Kejahatan tuntas karenanya, merupakan implementasi faďarbarriqâb, ĥatta lâ takûna fitnah (Tebaslah batang leher mereka sehingga tidak ada lagi fitnah – QS Muhammad/47: 4).




