Muharram, Hijrah, dan Al-Manhiyāt: Refleksi tentang Waktu, Perubahan, dan Pembebasan Manusia
Oleh : Agus Miswanto, MA

Muharram, Hijrah, dan Al-Manhiyāt: Refleksi tentang Waktu, Perubahan, dan Pembebasan Manusia
Oleh Agus Miswanto, MA (Dewan Pengawas Syariah Lazismu Jawa Tengah & Dosen Prodi HES Universitas Muhammadiyah Magelang [UNIMMA])
Pendahuluan: Muharram dan Kesadaran tentang Keterbatasan Waktu
Tahun Baru Hijriah bukan sekadar pergantian angka dalam kalender Islam, melainkan momentum eksistensial yang mengingatkan manusia tentang hakikat kehidupannya di dalam arus waktu. Setiap tahun yang berlalu sesungguhnya membawa sebagian umur manusia pergi bersamanya. Karena itu, apa yang disebut bertambah usia pada hakikatnya adalah berkurangnya kesempatan. Manusia sering merayakan pertambahan umur sebagai simbol kematangan hidup, tetapi pada saat yang sama ia sedang bergerak mendekati batas akhir kehidupannya. Dalam perspektif ini, Muharram tidak hanya mengajarkan optimisme tentang masa depan, tetapi juga menghadirkan kesadaran ontologis bahwa hidup merupakan amanah yang terus menyusut nilainya seiring berjalannya waktu.
Kesadaran tentang waktu memiliki kedudukan yang sangat penting dalam Islam. Allah SWT bahkan bersumpah atas nama waktu untuk menunjukkan bahwa waktu bukan sekadar latar kehidupan manusia, melainkan substansi kehidupan itu sendiri. Berbeda dengan harta, jabatan, atau kekuasaan yang berada di luar diri manusia, waktu merupakan bagian dari eksistensi manusia yang tidak dapat dipisahkan darinya. Kehilangan waktu berarti kehilangan sebagian kehidupan itu sendiri.
وَالْعَصْرِ إِنَّ الْإِنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ إِلَّا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ
“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran.” (QS. Al-‘Ashr [103]: 1–3)
Ayat ini mengandung pesan yang sangat mendalam. Allah tidak mengatakan bahwa sebagian manusia berada dalam kerugian, tetapi menggunakan ungkapan “inna al-insāna lafī khusr” yang menunjukkan bahwa kerugian merupakan kondisi alamiah manusia apabila ia gagal mengubah waktu menjadi iman, amal saleh, dan kontribusi bagi kehidupan. Karena itu, Muharram sejatinya merupakan momentum muhasabah, yaitu kesempatan untuk menilai kembali apakah waktu yang telah berlalu menghasilkan pertumbuhan spiritual, intelektual, moral, dan sosial, atau justru berlalu tanpa makna.
Mengapa Kalender Islam Dimulai dengan Hijrah?
Salah satu keputusan paling visioner dalam sejarah Islam adalah menjadikan hijrah sebagai titik awal kalender umat Islam. Pilihan ini mengandung pesan filosofis yang sangat mendalam. Islam tidak memulai sejarahnya dari kelahiran Nabi Muhammad SAW, karena kelahiran adalah sesuatu yang diterima manusia. Islam juga tidak memulai sejarahnya dari turunnya wahyu pertama, karena wahyu merupakan anugerah Allah yang diberikan kepada manusia. Islam memulai sejarahnya dari hijrah, karena hijrah merupakan tindakan sadar manusia untuk berubah.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa Islam dibangun di atas spirit transformasi. Kemuliaan manusia tidak ditentukan oleh asal-usulnya, tetapi oleh keberaniannya meninggalkan keadaan lama menuju keadaan yang lebih baik. Hijrah menjadi simbol bahwa kehidupan yang ideal bukanlah kehidupan yang statis, melainkan kehidupan yang terus bergerak menuju penyempurnaan. Secara historis, hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah memang merupakan perpindahan geografis. Namun secara substantif, hijrah adalah perpindahan dari fase pembentukan iman menuju fase pembangunan peradaban, dari komunitas yang tertindas menuju masyarakat yang berdaulat, dan dari keyakinan menuju aktualisasi nilai dalam kehidupan sosial.
إِنَّ الَّذِينَ آمَنُوا وَالَّذِينَ هَاجَرُوا وَجَاهَدُوا فِي سَبِيلِ اللَّهِ أُولَٰئِكَ يَرْجُونَ رَحْمَتَ اللَّهِ ۚ وَاللَّهُ غَفُورٌ رَحِيمٌ
“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itulah yang mengharapkan rahmat Allah. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Al-Baqarah [2]: 218)
Urutan ayat ini menunjukkan bahwa iman yang sejati harus melahirkan hijrah, dan hijrah harus melahirkan jihad dalam arti perjuangan untuk mempertahankan perubahan tersebut. Dengan demikian, hijrah bukan sekadar perpindahan fisik, melainkan proses transformasi yang menghubungkan kesadaran, perubahan, dan perjuangan.
Hakikat Hijrah: Gerak Menuju Kesempurnaan Fitrah
Pada hakikatnya, hijrah adalah gerakan. Seluruh alam semesta bergerak sesuai dengan sunnatullah. Planet bergerak dalam orbitnya, sungai mengalir menuju lautan, dan waktu terus bergerak menuju masa depan. Kehidupan yang berhenti bergerak adalah kehidupan yang kehilangan vitalitasnya. Karena itu, hijrah sesungguhnya merupakan manifestasi dari hukum kehidupan yang paling mendasar: bahwa manusia harus terus bertumbuh dan berkembang menuju kesempurnaan dirinya.
Dalam perspektif Islam, manusia diciptakan dalam keadaan fitrah, yaitu kondisi dasar yang cenderung kepada kebenaran dan ketuhanan. Namun dalam perjalanan hidupnya, manusia sering menjauh dari fitrah tersebut karena pengaruh lingkungan, hawa nafsu, dan godaan setan. Oleh karena itu, hijrah bukan sekadar bergerak menuju sesuatu yang baru, melainkan kembali kepada fitrah yang telah Allah tanamkan dalam dirinya. Hijrah adalah perjalanan pulang menuju jati diri manusia yang sejati.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا
“Hadapkanlah wajahmu kepada agama yang lurus; itulah fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah tersebut.” (QS. Ar-Rum [30]: 30)
إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ
“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d [13]: 11)
Ayat pertama menjelaskan arah perubahan, yaitu kembali kepada fitrah. Ayat kedua menjelaskan mekanisme perubahan, yaitu dimulai dari revolusi batin sebelum revolusi sosial. Karena itu, hijrah sejati bukanlah perubahan kosmetik yang hanya tampak pada aspek lahiriah, tetapi transformasi mendalam yang mengubah cara berpikir, cara memandang kehidupan, dan orientasi keberadaan manusia.
Al-Manhiyāt: Mengapa Manusia Tertarik kepada Apa yang Merusaknya?
Jika hijrah merupakan gerakan menuju kesempurnaan fitrah, maka al-manhiyāt adalah segala sesuatu yang menghambat perjalanan tersebut. Menariknya, manusia sering kali tidak masuk ke dalam al-manhiyāt karena ketidaktahuan, tetapi karena merasa tertarik kepada apa yang sebenarnya membahayakan dirinya. Di sinilah paradoks besar kehidupan manusia. Sesuatu yang paling merusak sering kali hadir dalam bentuk yang paling menarik. Dosa tidak selalu tampak mengerikan, tetapi sering kali dibungkus dengan kenikmatan, keuntungan, dan kesenangan yang memikat.
Padahal setiap larangan Allah pada hakikatnya bukanlah pembatasan terhadap kebebasan manusia, melainkan bentuk perlindungan terhadap martabat kemanusiaan. Sebagaimana seorang dokter melarang racun demi keselamatan pasiennya, demikian pula Allah melarang berbagai bentuk kemaksiatan demi menjaga agama, jiwa, akal, harta, dan kehormatan manusia. Oleh karena itu, al-manhiyāt sesungguhnya bukan sekadar daftar larangan, tetapi pagar keselamatan yang menjaga manusia dari kehancuran yang dibuat oleh tangannya sendiri.
وَمَا آتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا
“Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al-Hasyr [59]: 7)
وَلَا تَقْتُلُوا أَنْفُسَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُمْ رَحِيمًا
“Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah Maha Penyayang kepadamu.” (QS. An-Nisa’ [4]: 29)
Ayat pertama menegaskan kewajiban meninggalkan larangan Allah. Ayat kedua menunjukkan bahwa seluruh larangan Allah sesungguhnya berorientasi pada perlindungan manusia. Dengan demikian, setiap pelanggaran terhadap al-manhiyāt pada hakikatnya merupakan bentuk penganiayaan manusia terhadap dirinya sendiri.
Hawa Nafsu dan Setan: Arsitek Penyimpangan Manusia
Persoalan terbesar manusia bukan terletak pada kurangnya petunjuk, tetapi pada kecenderungannya untuk mengikuti hawa nafsu. Hawa nafsu menjadi berbahaya ketika ia tidak lagi menjadi dorongan yang dikendalikan akal dan wahyu, melainkan berubah menjadi pusat orientasi hidup. Ketika itu terjadi, manusia tidak lagi bertanya apakah sesuatu itu benar atau salah, tetapi hanya bertanya apakah sesuatu itu menyenangkan atau menguntungkan dirinya.
أَفَرَأَيْتَ مَنِ اتَّخَذَ إِلَٰهَهُ هَوَاهُ
“Maka pernahkah engkau melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya?” (QS. Al-Jatsiyah [45]: 23)
Ayat ini menunjukkan bahwa bentuk penyembahan yang paling halus bukanlah penyembahan kepada berhala, melainkan penyembahan kepada keinginan diri sendiri. Ketika hawa nafsu menjadi standar kebenaran, manusia secara perlahan telah menggantikan otoritas wahyu dengan otoritas dirinya sendiri. Keadaan tersebut diperparah oleh peran setan yang bekerja melalui manipulasi kesadaran. Setan tidak memaksa manusia berbuat dosa, tetapi memperindah dosa sehingga tampak wajar dan menarik. Ia mengubah cara manusia memandang realitas sehingga yang batil terlihat benar dan yang merusak tampak menguntungkan.
وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَا لِكُلِّ نَبِيٍّ عَدُوًّا شَيَاطِينَ الْإِنْسِ وَالْجِنِّ يُوحِي بَعْضُهُمْ إِلَىٰ بَعْضٍ زُخْرُفَ الْقَوْلِ غُرُورًا
“Demikianlah Kami jadikan bagi setiap nabi musuh-musuh dari golongan setan manusia dan setan jin yang saling membisikkan perkataan-perkataan indah sebagai tipu daya.” (QS. Al-An’am [6]: 112)
وَزَيَّنَ لَهُمُ الشَّيْطَانُ أَعْمَالَهُمْ
“Dan setan menjadikan mereka memandang indah perbuatan-perbuatan mereka.” (QS. An-Nahl [16]: 63)
Ayat-ayat ini menjelaskan bahwa strategi utama setan adalah menciptakan ilusi moral. Setan tidak mengubah hakikat keburukan, tetapi mengubah persepsi manusia terhadap keburukan tersebut. Akibatnya, dosa dinormalisasi, kesalahan dibenarkan, dan penyimpangan dianggap sebagai bagian dari gaya hidup. Pada titik inilah manusia terjebak dalam al-manhiyāt tanpa menyadari bahwa dirinya sedang bergerak menuju kehancuran.
Hijrah sebagai Pembebasan dan Jalan Kesempurnaan
Di sinilah relevansi hijrah menemukan makna terdalamnya. Hijrah bukan sekadar perpindahan ruang, tetapi proses pembebasan manusia dari segala bentuk perbudakan selain Allah. Hijrah membebaskan manusia dari dominasi hawa nafsu, dari ilusi yang diciptakan setan, dan dari berbagai al-manhiyāt yang menggerus kemuliaan dirinya. Karena itu, hijrah bukan hanya perubahan perilaku, tetapi rekonstruksi kesadaran dan orientasi hidup.
وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ
“Orang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa yang dilarang Allah.” (HR. al-Bukhari)
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ…
“Sesungguhnya setiap amal bergantung pada niatnya. Barang siapa hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya…” (HR. al-Bukhari dan Muslim)
Hadis pertama mendefinisikan hijrah sebagai keberanian meninggalkan seluruh larangan Allah. Hadis kedua menjelaskan bahwa nilai hijrah ditentukan oleh orientasinya. Dengan demikian, hijrah bukan hanya soal bergerak, tetapi soal bergerak menuju Allah. Semakin jauh seseorang meninggalkan al-manhiyāt, semakin dekat ia kepada fitrahnya. Dan semakin dekat ia kepada Allah, semakin dekat pula ia kepada kesempurnaan dirinya sebagai manusia.
Penutup: Hijrah sebagai Proyek Seumur Hidup
Pada akhirnya, Muharram mengajarkan bahwa waktu terus berkurang, hijrah mengajarkan bahwa manusia harus terus bertumbuh, dan al-manhiyāt mengingatkan bahwa setiap perjalanan menuju kebaikan selalu memiliki jebakan. Karena itu, kehidupan seorang Muslim pada hakikatnya adalah proyek hijrah yang tidak pernah selesai. Ia adalah perjalanan panjang untuk membebaskan diri dari dominasi hawa nafsu, melepaskan diri dari tipu daya setan, meninggalkan al-manhiyāt, dan kembali kepada fitrah yang telah Allah tanamkan dalam dirinya. Dalam perspektif ini, Tahun Baru Hijriah bukan sekadar peristiwa pergantian tahun, tetapi panggilan untuk memulai kembali perjalanan menuju Allah SWT. Sebab yang akan ditanyakan pada akhir kehidupan bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan sejauh mana ia berhijrah: dari kebodohan menuju ilmu, dari kemaksiatan menuju ketakwaan, dari egoisme menuju kemanfaatan, dan dari dirinya yang lama menuju dirinya yang lebih dekat kepada Allah SWT.




