Artikel

Mengenal Kakek Rasulullah dan Peristiwa-Peristiwa Penting Sebelum Kenabian

Seri 2 – Sirah Nabi yang Menggembirakan

Oleh: Daru Nurdianna, M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3)

Dalam pembahasan serial ini, data-datanya kami merujuk terutama pada karya Syafiyurrahman Al-Mubarakfuri, “Ar-Rahiq Al-Makhtum” (Sirah Nabawiyah), yang merupakan salah satu karya sirah paling populer dan sahih serta mendapat pengakuan luas di dunia Islam sebagai juara 1 lomba penulisan sejarah Nabi tingkat dunia yang diadakan oleh Rabithah al-Alam al-Islami (Liga Dunia Islam) pada tahun 1978.

Selain itu juga beberapa kitab Sirah lain sebagai perbandingan, seperti “Hayatu Muhammad” karya M Husein Haikal dan “Muhammad: His Life Based on the Earliest Sources” karya Martin Lings (Abu Bakr Siraj ad-Din).

Ada beberapa hal menarik dari beberapa peristiwa-peristiwa sebelum
Nabi lahir. Sekaligus ini kita bisa mengenal lingkungan dan keluarga inti Rasulullah Saw, terutama garis peristiwa yang melingkupi kakek Nabi Hasyim dan Abdul Muththalib.

1. Keluarga Nabi adalah Bani Hasyim, Kabilah Muliah Quraisy 

Rasulullah ﷺ lahir dari Bani Hasyim, salah satu keluarga paling terhormat di tengah suku Quraisy. Kemuliaan Bani Hasyim bukan karena kekayaan semata, melainkan karena pelayanan mereka kepada para jamaah haji yang datang ke Ka’bah.

Kakek-kakek Nabi dikenal memiliki sifat dermawan, menjaga kehormatan Ka’bah, dan menjadi tokoh yang dihormati oleh berbagai kabilah Arab. Melalui nasab yang mulia ini, Allah menyiapkan lingkungan yang membuat masyarakat Makkah mengenal Rasulullah ﷺ sebagai pribadi yang terpercaya jauh sebelum beliau diangkat menjadi nabi.

2. Istilah Quraiys Merujuk pada Julukan Salah Satu Kakek Nabi (Fihr) yang Menemukan Ikan Hiu Qirsy

Terdapat beberapa pendapat mengenai asal-usul nama Quraisy. Salah satu riwayat yang populer dalam kitab-kitab adab dan sejarah menyebutkan bahwa Fihr bin Malik (salah satu kakek Rasulullah ﷺ) dijuluki Quraisy. Sebagian ulama bahasa mengaitkannya dengan kata qirsy (hiu), yaitu ikan besar yang disegani di lautan.

Analogi ini digunakan untuk menggambarkan kekuatan dan kewibawaan Quraisy di Jazirah Arab. Namun perlu dicatat bahwa asal-usul nama Quraisy diperselisihkan oleh para ahli sejarah dan nasab. Yang pasti, ketika Nabi Muhammad ﷺ lahir, Quraisy telah menjadi suku yang paling berpengaruh di Makkah dan penjaga Ka’bah.

3. Hasyim Menikah di Yatsrib dan Memiliki Anak diberi Nama Syaibah, kemudian Hasyim Meninggal Dunia sehingga Syaibah tumbuh dengan Ibunya di Yatsrib

Hasyim bin Abdu Manaf, buyut Rasulullah ﷺ, melakukan perjalanan dagang mampir ke Yatsrib (Madinah). Di kota tersebut beliau menikah dengan Salma binti ‘Amr dari Bani Najjar. Dari pernikahan itu lahirlah seorang putra bernama Syaibah al-Hamd. Namun tak lama kemudian Hasyim wafat dalam perjalanan dagang di Gaza, Palestina. Karena itu, Syaibah tumbuh jauh dari Makkah bersama ibunya di Yatsrib. Peristiwa ini menarik karena menunjukkan bahwa hubungan Rasulullah ﷺ dengan Madinah sebenarnya telah terjalin melalui garis keluarga jauh sebelum peristiwa hijrah terjadi.

4. Syaibah berhasil dibawa ke Mekah Kembali dan Mendapatkan Julukan Budaknya Muththalib

Ketika Syaibah beranjak besar, pamannya yang bernama Al-Muththalib datang ke Yatsrib untuk menjemputnya dan membawanya ke Makkah. Dalam perjalanan pulang, Syaibah duduk di belakang tunggangan Al-Muththalib. Saat memasuki Makkah, masyarakat yang tidak mengenal anak tersebut mengira bahwa Al-Muththalib baru saja membeli seorang budak. Mereka berkata, “Itu adalah Abdul Muththalib,” yang berarti “hamba milik Al-Muththalib.

Meskipun sebenarnya Syaibah adalah keponakannya, julukan itu terlanjur populer dan terus melekat hingga dewasa. Kelak, Abdul Muththalib menjadi pemimpin Quraisy yang sangat dihormati dan merupakan kakek yang mengasuh Rasulullah ﷺ setelah wafatnya Aminah.

5. Abdul Muththalib: Kakek Nabi yang Banyak Mengalami Peristiwa Besar

Abdul Muththalib bukan hanya dikenal sebagai kakek Rasulullah ﷺ, tetapi juga sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh di Makkah sebelum Islam. Banyak peristiwa besar yang terjadi dalam hidupnya. Menariknya, kisah dari kecilnya pun seorang yatim hidup di Yatsrib. Ia kehilangan sosok ayah saat sebelum lahir. Dari kesederhanaan itulah kehidupan berjalan dan tumbuh menjadi tokoh besar di Mekkah kelak.

Setelah mendapatkan warisan jabatan dari pamannya (Muththalib), salah satu kisah yang paling terkenal adalah ditemukannya kembali sumur Zamzam. Pada masa itu, lokasi sumur Zamzam telah hilang dan terlupakan selama beberapa generasi. Abdul Muththalib kemudian bermimpi beberapa kali agar menggali di suatu tempat dekat Ka’bah. Meskipun menghadapi ejekan dan penolakan dari sebagian Quraisy, ia tetap melaksanakan perintah tersebut hingga akhirnya ditemukan kembali sumur Zamzam. Penemuan ini semakin mengukuhkan kedudukannya sebagai pemimpin yang dihormati sekaligus penjaga Ka’bah dan para jamaah haji.

Ketika proses penggalian Zamzam berlangsung, Abdul Muththalib menyadari bahwa ia belum memiliki banyak anak laki-laki yang dapat membantunya menghadapi berbagai tantangan. Karena itu ia bernazar, apabila Allah menganugerahkan kepadanya sepuluh orang putra yang telah dewasa dan mampu melindunginya, maka salah seorang di antara mereka akan dipersembahkan sebagai kurban. Seiring berjalannya waktu, Allah mengabulkan harapannya hingga ia memiliki sepuluh putra.

Saat tiba waktu untuk menunaikan nazarnya, dilakukanlah pengundian di antara anak-anaknya. Nama yang keluar ternyata adalah Abdullah, putra yang paling dicintainya dan kelak menjadi ayah Rasulullah ﷺ. Abdul Muththalib berusaha memenuhi nazarnya, tetapi masyarakat Quraisy menentangnya. Mereka khawatir tradisi tersebut akan menjadi kebiasaan yang diikuti banyak orang.

Setelah meminta pendapat seorang kahin (peramal) yang lazim dijadikan rujukan masyarakat Arab saat itu, dilakukan pengundian antara Abdullah dan sejumlah unta. Pengundian terus diulang dengan penambahan jumlah unta hingga akhirnya undian jatuh pada seratus ekor unta. Abdullah pun selamat dan seratus unta disembelih sebagai pengganti. Peristiwa ini sering disebut oleh para ulama sebagai salah satu bentuk penjagaan Allah terhadap nasab Rasulullah ﷺ sebelum beliau dilahirkan.

Tidak lama setelah itu, Abdul Muththalib kembali menghadapi peristiwa yang jauh lebih besar. Sebagai pemimpin Makkah, ia berhadapan dengan ancaman Abrahah, penguasa Yaman yang datang membawa pasukan gajah untuk menghancurkan Ka’bah. Ia iri akan kemasyhuran rumah tua (Kabah) yang dibangun Ibrahim As dan Ismail As. Diriwayatkan dia pernah membuat kuil yang megah di Yaman, dengan tujuan mengungguli Kabah, namun usahanya gagal.

Ketika pasukan Abrahah mendekati Makkah, Abdul Muththalib memilih menyerahkan urusan Ka’bah kepada pemiliknya, yaitu Allah سبحانه وتعالى. Dengan penuh keyakinan ia berkata bahwa Ka’bah memiliki Tuhan yang akan menjaganya.

Benar saja, Allah menggagalkan rencana Abrahah dengan mengirimkan burung-burung yang melempari pasukan tersebut dengan batu-batu dari tanah yang terbakar. Peristiwa besar ini kemudian diabadikan dalam Surah Al-Fil dan terjadi pada tahun yang sama dengan kelahiran Rasulullah ﷺ, sehingga dikenal sebagai ‘Am al-Fil (Tahun Gajah). Sebagian riwayat, Abrahah dan tentaranya terkena wabah cacar dan meninggal.

***

Dari rangkaian kisah ini, kita dapat melihat bahwa kisah sebelum  Rasulullah ﷺ lahir, bukanlah sebuah peristiwa yang baik semuanya. Terdapat dinamika, konflik, ketegangan, juga kesedihan.

Dari rangkaian kisah ini, kita dapat melihat bahwa kisah sebelum Rasulullah ﷺ lahir, bukanlah sebuah peristiwa yang baik semuanya. Terdapat dinamika, konflik, ketegangan, juga kesedihan. Kita bisa mengambil pelajaran bahwa Allah menyiapkan hamba-hamba pilihan-Nya melalui proses yang panjang dan tidak selalu mudah. Namun pada akhirnya, setiap peristiwa tersebut mengarah pada kebaikan yang lebih besar.

Karena itu, seorang mukmin tidak perlu tergesa-gesa menilai sebuah kejadian sebagai keburukan. Bisa jadi di balik kesulitan, kehilangan, atau ketidakpastian yang kita alami hari ini, Allah sedang menyiapkan jalan terbaik yang belum mampu kita lihat. Sebagaimana Allah menyiapkan kelahiran Rasulullah ﷺ melalui rangkaian peristiwa yang panjang, demikian pula setiap takdir dalam hidup kita selalu berada dalam ilmu, hikmah, dan kasih sayang-Nya.

Kabar yang lebih menggembirakan bagi kita adalah bahwa Allah yang mengatur perjalanan dan keluarga Nabi adalah Allah yang sama yang mengatur kehidupan kita hari ini. Jika Allah mampu merangkai peristiwa-peristiwa besar selama puluhan tahun untuk menghadirkan cahaya kenabian, maka tidak ada alasan bagi seorang mukmin untuk berputus asa terhadap takdirnya.

Bisa jadi ada hikmah yang belum kita pahami, ada pertolongan yang sedang dipersiapkan, dan ada kebaikan yang sedang Allah susun di balik peristiwa-peristiwa yang tampak biasa. Karena itu, mempelajari sirah bukan hanya mengenang masa lalu, tetapi juga belajar mempercayai bahwa rencana Allah selalu lebih indah daripada yang mampu kita bayangkan. []

Daru Nurdianna, M.Pd.

Lahir di Karanganyar-Solo. Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3. Alumnus Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Dosen MKDU AIK di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA-SOLO).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button