
Malam itu, Jumat, 10 November 2017, udara di Dusun Magangan terasa lebih sejuk dari biasanya. Hujan gerimis yang turun sejak sore menyisakan aroma tanah basah yang menenangkan. Di sebuah rumah sederhana namun hangat milik Bapak H. Khoiruman yang beralamat di RT 03 RW 04, Petambakan, Madukara, Banjarnegara, satu per satu remaja mulai berdatangan. Jam di dinding menunjukkan pukul 18.10 WIB, waktu yang telah disepakati sebagai awal kegiatan Halaqah Remaja Tarbawy.
Di teras rumah, sandal dan sepatu sudah berjajar rapi. Terdengar suara salam, tawa kecil, dan sapaan hangat khas pertemuan rutin yang sudah sering dilakukan. Mereka datang dari berbagai penjuru dusun dan desa sekitar. Jumlah yang hadir malam itu mencapai 45 anak muda, terdiri dari siswa SMP, SMA, hingga beberapa mahasiswa. Semuanya memiliki semangat yang sama: ingin belajar, memperbaiki diri, dan menguatkan ikatan dalam dakwah.
Ruang tengah rumah Bapak H. Khoiruman telah disiapkan sejak sore. Tikar digelar rapi, sebuah meja kecil di depan ruangan berfungsi sebagai tempat kitab, buku catatan, dan Al-Qur’an. Lampu bohlam yang menggantung di langit-langit memancarkan cahaya kekuningan yang menambah kesan hangat dan akrab.
Kegiatan diawali dengan pembacaan basmalah bersama. Suara puluhan remaja itu menyatu, menciptakan getaran semangat yang berbeda. Dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an yang dibacakan oleh salah satu peserta, suaranya menggema pelan namun menyentuh relung hati yang mendengarnya. Beberapa dari mereka menundukkan kepala, meresapi setiap ayat yang dilantunkan.
Setelah itu, acara masuk ke sesi utama: pembahasan kepengurusan Halaqah Remaja Tarbawy yang baru. Seiring bertambahnya anggota dan semakin banyaknya kegiatan yang direncanakan, dipandang perlu untuk memperjelas struktur kepengurusan agar lebih terarah. Nama-nama mulai diusulkan, dibicarakan secara terbuka, dan dipertimbangkan bersama.
Diskusi berjalan dengan suasana kekeluargaan. Tidak ada paksaan, tidak ada saling meninggikan suara. Setiap pendapat dihargai. Akhirnya, terbentuklah susunan sementara yang terdiri dari ketua, wakil, sekretaris, bendahara, serta koordinator bidang, seperti bidang keilmuan, sosial, dan kerohanian. Tepuk tangan pun menggema ketika keputusan itu disepakati bersama—bukan karena kebanggaan semata, tapi karena rasa tanggung jawab yang mulai tumbuh dalam diri masing-masing.
Pembahasan berikutnya adalah mengenai pertemuan rutin satu minggu sekali. Malam itu, mereka sepakat bahwa halaqah akan terus dilaksanakan setiap Jumat malam, dengan tempat yang bergilir dari satu rumah ke rumah anggota lainnya, agar semakin mempererat silaturahmi dan rasa memiliki. Setiap pertemuan akan diisi dengan rangkaian kegiatan: tilawah, kajian keislaman, diskusi tematik, evaluasi diri, dan perencanaan kegiatan sosial.
Berbagai ide bermunculan. Ada yang mengusulkan kegiatan bakti sosial untuk membantu warga yang membutuhkan, ada pula yang mengusulkan program mengajar anak-anak kecil mengaji di sore hari. Sebagian lainnya menginginkan pelatihan kepemimpinan dan keterampilan public speaking untuk bekal masa depan. Semua gagasan itu dicatat rapi oleh sekretaris, menjadi bagian dari rencana besar Halaqah Remaja Tarbawy.
Waktu terus berjalan tanpa terasa. Jam di dinding menunjuk pukul 19.45 WIB ketika diskusi masuk ke sesi motivasi. Seorang pembina memberikan nasihat singkat namun penuh makna tentang pentingnya peran pemuda dalam perubahan umat. Ia mengingatkan bahwa halaqah bukan sekadar tempat berkumpul, melainkan wadah untuk menumbuhkan iman, ilmu, dan akhlak.
“Kelak, sejarah akan mencatat apa yang kalian lakukan hari ini,” ucapnya pelan, namun menancap dalam hati mereka semua. Kalimat itu membuat ruangan sejenak hening, masing-masing merenung tentang peran mereka di masa depan.…
Menjelang pukul 20.15 WIB, acara ditutup dengan doa bersama. Semua tangan terangkat, memohon keberkahan atas apa yang telah dibicarakan, atas persahabatan yang terjalin, dan atas cita-cita yang ingin diwujudkan. Setelah doa, mereka saling bersalaman, sebagian berpelukan, seakan tak ingin malam itu cepat berakhir.
Satu per satu mereka berpamitan kepada tuan rumah. Bapak H. Khoiruman hanya tersenyum bangga melihat halaman rumahnya menjadi saksi lahirnya semangat besar dari para remaja desa. Lampu sepeda motor menyala di kegelapan malam, mengantar langkah pulang para pejuang muda yang hatinya masih penuh dengan semangat Tarbawy.
Malam itu mungkin hanya berlangsung dua jam lima menit, dari 18.10 hingga 20.15 WIB. Namun bagi 45 anak muda yang hadir, malam itu menjadi tonggak awal sebuah perjalanan panjang—perjalanan dalam ilmu, iman, dan persaudaraan yang kelak akan mereka kenang sepanjang hayat.
Banjarnegara, 15 Desember 2025




