AkhlaqArtikelIbadah

Ketika Hijrah Diuji oleh Pandangan Manusia

Oleh: Daru Nurdianna, M.Pd. (Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jateng Angkatan Ke-3)

📅 Kamis, 25 Juni 2026 | 39 Zulhijah 1447 H

Pertanyaan yang cukup familiar dikajian tema hijrah adalah “bagaimana melawan pikiran takut hijrah karena nanti dibilang ‘sok alim’, ‘sok suci’, atau ‘sok baik’?”. Untuk menjawab itu, maka perlu dipahami beberapa kondisi. Diantaranya adalah karena: pertama, takut berasal dari diri tentang penilaian manusia; dan kedua, adalah sebuah ujian dari hijrah itu sendiri.

Berikut tips untuk melawan pikiran ragu untuk ber-hijrah karena pandangan manusia:

  1. Teguhkan niat hanya untuk Allah SWT

Jika kita beramal karena Allah SWT semata, niscaya kita tidak akan peduli dengan perkataan orang lain. Ini adalah sunatullah sebab-akibat dalam Islam. Tatkala hati lurus bergantung untuk mengharapkan ridha hanya kepada Allah Azzawajalla, maka hati akan tenang untuk melangkah kepada kebaikan-kebaikan. Jika hati belum tenang untuk beramal, mungkin niatnya belum 100% ikhlas. Sebaliknya jika kita beramal karena manusia, maka akan takut untuk berbuat baik dan sangat rentan mendapatkan kekecewaan.

Niatkan amal kita, niatkan hijrah kita, niatkan perubahan kita untuk hanya kepada Allah SWT. Ini juga menjadi salah satu syarat diterimanya amal, sebagaimana hadits:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى، فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ، وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لِدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya, dan sesungguhnya setiap orang akan mendapatkan sesuai dengan apa yang ia niatkan. Maka barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya adalah kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia yang ingin ia dapatkan atau karena wanita yang ingin ia nikahi, maka hijrahnya adalah kepada apa yang ia niatkan tersebut.” (HR. al-Bukhari dan Muslim.

  1. Nabi Pernah Dicela oleh Celaan yang Buruk

Nabi kita, baginda Muhammad ﷺ yang sangat kita cintai, merupakan sosok yang mendapatkan berbagai ujian berat dari berbagai segi kehidupan. Salah satunya adalah ditentang dan dicela oleh kaumnya tatkala mendakwahkan Islam.

Dalam kitab “Ar-Raheeq Al-Makhtum” karya Safiyyur Rahman al-Mubarakfuri, diceritakan Nabi Muhammad ﷺ menghadapi ejekan, tuduhan, dan penolakan. Beliau menghadapinya dengan kesabaran dan keteguhan. Ketika dakwah Nabi mulai menarik perhatian, para pemuka Quraisy kebingungan mencari cara untuk menghentikannya. Mereka lalu melabeli Nabi dengan berbagai tuduhan gila (majnun), penyair (sya’ir), tukang sihir (sahir), dukun (kahin). Al-Qur’an merekam berbagai tuduhan ini dalam beberapa ayat di surah As-Saffat, Adz-Dzariyat, dan Al-Qalam.

Tidak hanya verbal, Nabi ﷺ juga mendapatkan ujian fisik dan publik. Dikisahkan pernah diberi kotoran ketika melakukan shalat. Tatkala sujud didepan Ka’bah, punggung beliau ﷺ diberi isi perut unta. Selain itu juga kisah perjalanan ke Thaif, beliau mendapatkan ejekan, diusir dan dilempari batu hingga terluka. Padahal juga perjalanan itu dilakukan setelah dilanda tahun kesedihan ditinggal wafat kedua orang yang sangat dicintai beliau, yakni Abu Thalib dan Khadijah. Selain itu, Nabi juga mendapatkan tuduhan pengikutnya hanyalah orang miskin karena beberapa sahabat yang masuk Islam seperti Ammar ibn Yasir dan Bilal bin Rabah.

Jadi, ketika kita mendapatkan ejekan ‘sok baik’, ‘sok rajin’, ‘sok suci’, dan sejenisnya, bukankah itu ejekan yang tidak ada apa-apanya daripada apa yang telah dialami oleh Nabi kita Rasulullah ﷺ ? Atau kita mungkin cukup mengatakan terima kasih saja karena diberikan celaan yang baik ? atau justru kita aminkan saja? Artinya, perbincangan orang lain tentang kita tersebut jangan terlalu dipikirkan.

  1. Masyarakat Sejatinya Menyukai Orang Baik

Dalam budaya masyarakat yang tidak benar-benar rusak, sebenarnya masyarakat itu meyukai kebaikan dan orang baik. Fitrah manusia masih terjaga untuk cenderung kepada kebaikan. Menariknya moralitas ini sudah dibahas sejak dahulu kala.

Aristoteles, tokoh pemikir peradaban Yunani Kuno menyatakan manusia secara alami mengejar ‘eudaimonia’ (kehidupan yang baik atau berkembang secara utuh). Walaupun manusia bisa salah memilih, orientasi dasarnya adalah mencari apa yang dianggap baik. Pun pemikir modern J.J. Rousseau juga memiliki pandangan terkenal dengan bahwa manusia pada keadaan asalnya cenderung baik, sedangkan banyak kerusakan moral muncul akibat struktur sosial yang rusak. Ini senada dengan hadits tentang fitrah anak, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari).

Jangan takut menjadi baik ditengah masyarakat. Mungkin ketika diawal kita berubah diberikan celaan, namun lama kelamaan pasti akan disukai oleh masyarakat. Orang baik akan mendatangkan ketentraman, kebahagiaan dan pencerahan. Sebaliknya, orang yang jahat, berbuat dosa dan suka dengan kemaksiatan pada hakikatnya dibenci dan dijauhi oleh masyarakat. Orang jahat, dikenal mendatangkan keburukan dan kerugian.

Selain itu, jiwa manusia pada hakikatnya memiliki dua kecenderungan untuk berbuat buruk atau berbuat baik. Maka kita sebagai manusia yang menyadari, hendaknya memilih jalan yang baik. Dalam QS. Asy-Syams ayat 7–10, Allah SWT berfirman: 

“Demi jiwa serta penyempurnaannya. Maka Dia mengilhamkan kepadanya jalan kefasikan dan ketakwaannya. Sungguh beruntung orang yang menyucikannya dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.”

Ayat ini menunjukkan bahwa manusia memiliki kemampuan mengenali baik dan buruk. Dalam dirinya ada potensi menuju keduanya, tetapi keberuntungan ada pada orang yang memelihara dan menyucikan jiwanya.

Epilog

Selamat berproses. Hijrah bukanlah kisah tentang seseorang yang tiba-tiba menjadi sempurna, melainkan tentang hati yang terus pulang meski berkali-kali tersesat di perjalanan. Ada hari-hari ketika langkah terasa ringan, ada pula saat kaki gemetar oleh keraguan dan penilaian manusia. Namun Allah tidak menilai seberapa cepat kita sampai, melainkan seberapa sungguh kita berjalan menuju-Nya. “Hijrah bukan tentang berubah dalam semalam, tetapi tentang tetap melangkah meski belum sampai.

Semoga setiap niat baik yang tumbuh di dalam dada dijaga dari keletihan, setiap langkah hijrah dilapangkan jalannya, setiap jatuh diberi kekuatan untuk bangkit kembali, dan setiap usaha kecil diterima sebagai amal yang mendekatkan kepada ridha-Nya. Sebab pada akhirnya, yang paling indah bukanlah menjadi manusia yang dipuji karena kebaikannya, melainkan menjadi hamba yang diterima oleh Tuhannya.[]

ilustrasi-hijrah
ilustrasi-hijrah

Daru Nurdianna, M.Pd.

Lahir di Karanganyar-Solo. Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jawa Tengah Angkatan ke-3. Alumnus Magister Pendidikan Agama Islam Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS) dan Dosen MKDU AIK di Universitas Muhammadiyah Karanganyar (UMUKA-SOLO).

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button