
TAHLILAN ALA MUHAMMADIYAH
(Masyhuda Darussalam,S.Pd, M.P.d, Bidang Dakwah Pimpinan Cabang Pemuda Muhammadiyah Muntilan )
Saat mendengar kata Muhammadiyah banyak orang langsung mengaitkannya dengan satu hal, yaitu tidak mau tahlilan. Padahal kesimpulan itu belum sepenuhnya tepat. Sebab Muhammadiyah tidak pernah menolak tahlil, yang dibedakan adalah antara tahlil dan tahlilan. Tahlil adalah dzikir dengan mengucapkan kalimat Lailahaillallah ini adalah kalimat tauhid. Kalimat yang menegaskan bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. Karena itu Muhammadiyah menganjurkan umat Islam untuk memperbanyak membaca tahlil.
Kemudian yang menjadi pembahasan adalah “”Tahlilan” yaitu sebuah acara yang dikaitkan dengan hari ketiga, ketujuh, keempat puluh, hingga keseratus setelah seseorang meninggal dunia. Dalam Manhaj Tarjih Muhammadiyah setiap Ibadah mahdhah harus memiliki landasan yang jelas dari Alquran dan Sunnah yang shahih. Karena itu Muhammadiyah tidak menetapkan ritual kematian berdasarkan hitungan hari tertentu sebagai bagian dari ajaran agama. Namun, perbedaan ini tidak boleh menjadi alasan untuk saling menyalahkan. Pada dasarnya tujuan semua umat Islam adalah sama yaitu mengharapkan rahmat dan ampunan Allah bagi orang yang telah meninggal. Lalu, jika Muhammadiyah menganjurkan tahlil, mengapa tahlil tidak selalu dibaca dalam acara kematian?
Bagi Muhammadiyah tahlil adalah dzikir bukan sekedar rangkaian bacaan tetapi sebuah peneguhan iman. Ketika seseorang muslim mengucapkan Lailahaillallah Sesungguhnya ia sedang memperbarui janjinya kepada Allah bahwa tidak ada yang lebih pantas disembah selain Dia Yang Maha Agung. Alquran sendiri berulang kali memerintahkan kaum beriman untuk memperbanyak zikir Allah berfirman dalam surat Al Ahzab ayat 41 :
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱذْكُرُوا۟ ٱللَّهَ ذِكْرًا كَثِيرًا :
“Ya ayyuhalladzina amanutzkurullaha zikran katsira”, yang artinya “Wahai orang-orang yang beriman, ingatlah Allah dengan mengingat-Nya sebanyak-banyaknya. Oleh karena itu membaca tahlil tidak harus menunggu ada musibah kematian.
Tahlil bisa dibaca setelah salat, saat berdoa, dalam perjalanan atau ketika hati membutuhkan ketenangan. Inilah yang menjadi penekanan Muhammadiyah, dzikir bukan hanya untuk satu momen tertentu melainkan menjadi bagian dari kehidupan seorang muslim setiap hari. Sebab tauhid yang kuat tidak hanya terucap dari lisan saja tetapi juga tercermin dalam sikap akhlak dan perbuatan. Jadi, ketika Muhammadiyah mengajak umat untuk memperbanyak Tahlil, yang dimaksud bukan memperbanyak ritual melainkan memperbanyak mengingat Allah dan menjadikan tauhid sebagai landasan dalam menjalankan kehidupan.
Ketika ada seorang muslim meninggal dunia apa yang paling dibutuhkan olehnya?. Menurut Muhammadiyah yang paling utama adalah doa. Doa memohonkan ampunan rahmat dan kelapangan bagi almarhum atau almarhumah ini memiliki landasan yang jelas dalam Alquran dan sunnah. Rasulullah juga mengajarkan agar umat Islam mendoakan jenazah melalui salat jenazah dan memohonkan ampunan baginya setelah pemakaman. Bahkan dalam hadis riwayat Muslim dijelaskan ketika manusia sudah meninggal dunia amalnya terputus kecuali tiga perkara salah satunya adalah doa anak yang sholeh inilah yang menjadi pegangan Muhammadiyah yang dianjurkan bukan membuat ritual berulang melainkan memperbanyak doa yang ikhlas Doa yang dipanjatkan kapan saja setelah salat, ada dirumah di pemakaman atau dalam setiap kesempatan ketika mengingat orang yang telah mendahului kita terutama oleh anak-anaknya yang sholeh. Sebab, akan sampai kepada mereka bukan kemewahan acara, melainkan keikhlasan doa yang keluar dari hati.Namun, menghibur keluarga yang ditinggalkan tidak cukup hanya dengan doa Islam juga mengajarkan kepedulian sosial. Lalu, bagaimana pandangan Muhammadiyah tentang hal itu?
Apabila doa adalah hadiah terbaik untuk orang yang telah wafat, maka kepedulian adalah hadiah terindah bagi keluarga yang ditinggalkan. Dalam pandangan Muhammadiyah takziah bukan sekedar hadir untuk melayat lebih dari itu takziah adalah wujud empati menghibur hati yang berduka dan meringankan beban mereka yang sedang kehilangan. Rasulullah pernah memerintahkan kepada para sahabat untuk menyiapkan makanan bagi keluarga Ja’far bin Abi Thalib karena mereka sedang dilanda musibah. Dari sinilah Muhammadiyah memahami yang seharusnya memberi jamuan adalah tetangga dan kerabat, bukan justru keluarga yang sedang berduka.
Karena itu, warga Muhammadiyah didorong untuk hadir membawa manfaat, membantu mengurus jenazah, menyiapkan makanan, memberikan dukungan moral atau sekadar menemani agar keluarga tidak merasa sendiri. Intinya sederhana, jangan menambah beban orang yang sedang berduka tapi jadilah orang yang mengurangi beban mereka. Sebab dalam Islam bukan hanya mengajarkan ibadah kepada Allah tetapi juga kepedulian kepada sesama. Jadi, ketika berbicara tentang tahlil menurut Muhammadiyah yang diutamakan bukanlah bentuk ritualnya melainkan kemurnian tauhid, keikhlasan doa dan kepedulian sosial yang nyata, itulah esensi ajaran yang terus dijaga hingga hari ini.
Dari pembahasan hari ini kita belajar, Muhammadiyah tidak menolak kalimat tahlil, yang dibedakan adalah antara tahlil sebagai dzikir dan tahlilan sebagai ritual kematian yang dibakukan. Bagi Muhammadiyah, mengingat Allah adalah kalimat Lailahaillallah adalah amalan yang mulia, mendoakan orang yang telah wafat adalah sunah, dan membantu keluarga berduka adalah bentuk nyata ukhuwah islamiyah. Karena pada akhirnya Islam tidak hanya mengajarkan bagaimana kita beribadah kepada Allah tetapi juga bagaimana kita menghadirkan rahmat bagi sesama manusia.
Semoga perbedaan cara beramal tidak menjadi alasan untuk terpecah belah melainkan menjadi jalan untuk saling memahami saling menghormati dan terus berpegang teguh pada Alquran dan Sunah.




