Runtuhnya Kesombongan Manusia di Hadapan Kuasa Ilahi dari Kisah Kehancuran Pasukan Bergajah
Kisah Kaum dan Tokoh Ingkar

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahilladzi arsala rasulahu bilhuda wadinil haq, liyudh-hirahu ‘aladdini kullihi wakafa billahi syahida. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Amma ba’du.
Hadirin jamaah rahimakumullah,
Di dunia yang serba canggih ini, kekuatan sering kali diukur dari seberapa besar kekayaan, jabatan, atau persenjataan yang dimiliki seseorang atau sebuah kelompok. Ketika manusia merasa telah memiliki segalanya, backing yang kuat, fasilitas yang mewah, atau jumlah pengikut yang banyak, penyakit hati berupa kesombongan sangat mudah muncul. Mereka merasa tidak ada yang bisa mengalahkan atau menghalangi keinginan mereka. Padahal, sejarah membuktikan bahwa kekuatan material sebesar apa pun tidak ada artinya jika berhadapan dengan ketetapan Allah SWT.
Mari kita renungkan sebuah peristiwa bersejarah yang terjadi tepat pada tahun kelahiran manusia paling mulia, Baginda Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wasallam. Sebuah peristiwa yang mengabadikan kehancuran sebuah pasukan militer terkuat di masanya akibat kesombongan.
Kala itu, Abrahah, seorang penguasa Yaman, membangun sebuah gereja megah bernama Al-Qullais dengan tujuan membelokkan arah haji bangsa Arab dari Ka’bah di Makkah ke negerinya. Ketika rencananya gagal dan gerejanya dihinakan, Abrahah murka. Ia memimpin pasukan raksasa yang dilengkapi dengan hewan tempur terbesar saat itu: gajah. Abrahah sangat yakin, dengan kekuatan militer yang dimilikinya, meratakan Ka’bah adalah perkara yang sangat mudah. Penduduk Makkah pun secara hitungan matematis tidak memiliki kekuatan militer untuk melawan.
Namun, Ka’bah adalah rumah Allah. Allah sendirilah yang turun tangan menjaga kehormatannya. Peristiwa dahsyat ini diabadikan secara utuh dalam Surah Al-Fil ayat 1 sampai 5:
أَلَمْ تَرَ كَيْفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِأَصْحَٰبِ ٱلْفِيلِ (1) أَلَمْ يَجْعَلْ كَيْدَهُمْ فِى تَضْلِيلٍ (2) وَأَرْسَلَ عَلَيْهِمْ طَيْرًا أَبَابِيلَ (3) تَرْمِيهِم بِحِجَارَةٍ مِّن سِجِّيلٍ (4) فَجَعَلَهُمْ كَعَصْفٍ مَّأْكُولٍ (5)
Artinya: “Apakah kamu tidak memperhatikan bagaimana Tuhanmu telah bertindak terhadap tentara bergajah? Bukankah Dia telah menjadikan tipu daya mereka (untuk menghancurkan Ka’bah) itu sia-sia? Dan Dia mengirimkan kepada mereka burung yang berbondong-bondong, yang melempari mereka dengan batu (berasal) dari tanah yang terbakar, lalu Dia menjadikan mereka seperti daun-daun yang dimakan (ulat).” (QS. Al-Fil: 1-5).
Melalui ayat ini, Allah menunjukkan kekuasaan-Nya yang mutlak. Untuk menghancurkan pasukan gajah yang begitu besar, Allah tidak mengirimkan bencana alam raksasa atau pasukan malaikat yang terlihat wujudnya. Allah hanya mengirimkan makhluk kecil, yakni burung Ababil, yang membawa batu-batu kerikil panas. Sesuatu yang terlihat kecil dan remeh di mata manusia, namun mampu menjadikan pasukan gajah yang sombong itu hancur lebur seperti daun yang dimakan ulat.
Pesan utama dari kisah ini sangat jelas: kesombongan adalah awal dari kehancuran, dan perlindungan sejati hanyalah milik Allah. Ketika Abdul Muthalib, kakek Nabi Muhammad yang saat itu menjadi pemimpin Qurays, ditanya mengapa ia tidak melawan Abrahah dan justru memikirkan unta-untanya yang dirampas, beliau memberikan jawaban yang mencerminkan puncak tawakal: “Aku adalah pemilik unta-unta itu, sedangkan Ka’bah itu memiliki Tuhannya sendiri yang akan menjaganya.”
Dalam kehidupan kita sehari-hari, “Pasukan Gajah” ini bisa mewakili banyak hal. Bagi rekan-rekan pelajar dan pemuda, terkadang kita merasa hebat karena masuk di sekolah favorit, memiliki banyak followers di media sosial, atau punya kelompok pertemanan yang kuat. Jangan gunakan itu semua untuk merundung (bully) atau merendahkan orang lain. Ingatlah, kesombongan kalian bisa dihancurkan Allah lewat masalah yang sangat kecil, yang tidak pernah kalian duga sebelumnya.
Bagi kita semua di dunia kerja atau masyarakat, jabatan yang tinggi dan harta yang berlimpah jangan sampai membuat kita merasa kebal hukum, menindas yang lemah, atau melupakan ibadah. Belajarlah dari kehancuran Abrahah. Betapa mudahnya Allah mencabut segala fasilitas duniawi itu hanya dengan “kerikil” kecil berupa teguran penyakit, masalah keluarga, atau hilangnya kepercayaan dari orang lain.
Jadilah manusia yang senantiasa rendah hati dan bergantung penuh kepada Allah. Sebesar apa pun kekuatan yang kita miliki, kita adalah makhluk yang lemah tanpa pertolongan-Nya. Mari kita gunakan apa yang Allah titipkan, baik itu kekuatan fisik, harta, maupun kecerdasan—untuk membela agama Allah dan membantu sesama, bukan untuk membesarkan ego kita.
Mari kita memohon kepada Allah SWT agar senantiasa dijaga dari sifat takabur dan kesombongan.
Ya Allah, bersihkanlah hati kami dari sifat sombong dan membanggakan diri. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa sadar akan kelemahan diri kami, dan bertawakal sepenuhnya kepada perlindungan-Mu. Lindungilah kami, keluarga kami, dan bangsa kami dari segala bentuk kezaliman, fitnah, dan marabahaya, sebagaimana Engkau menjaga rumah-Mu yang suci.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




