Bahaya Penyakit Malas, Melawan Musuh Tersembunyi Penghancur Masa Depan

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahilladzi hadana lihadza wama kunna linahtadiya laula an hadanallah. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jamaah online rahimakumullah,
Di zaman yang serba mudah ini, kita sering dihadapkan pada sebuah gaya hidup yang tanpa sadar sangat merusak. Ada sebuah fenomena yang sering disebut sebagai “kaum rebahan” atau budaya menunda-nunda pekerjaan (procrastination). Terkadang, kita memiliki tugas yang harus diselesaikan, ada kewajiban ibadah yang sudah masuk waktunya, atau ada target yang ingin dicapai, namun tiba-tiba muncul bisikan di dalam hati: “Nanti saja,” “Sebentar lagi,” atau “Lagi malas, besok saja.”
Perasaan “malas” ini sering kali dianggap remeh. Padahal, jika dibiarkan, kemalasan adalah penyakit kronis yang akan melumpuhkan masa depan kita, baik di dunia maupun di akhirat.
Dalam pandangan Islam, kemalasan bukanlah sekadar kebiasaan buruk biasa, melainkan sebuah penyakit hati dan kelemahan jiwa yang sangat berbahaya. Saking berbahayanya, manusia paling mulia yang dijamin masuk surga, yaitu Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, senantiasa berdoa setiap pagi dan petang agar dijauhkan dari sifat ini.
Mari kita perhatikan doa yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dalam hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, dari sahabat Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَعُوذُ بِكَ مِنَ الْعَجْزِ وَالْكَسَلِ، وَالْجُبْنِ وَالْهَرَمِ وَالْبُخْلِ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ عَذَابِ الْقَبْرِ، وَمِنْ فِتْنَةِ الْمَحْيَا وَالْمَمَاتِ
“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari kelemahan (al-‘ajz) dan kemalasan (al-kasal), dari sifat pengecut, kepikunan, dan kebakhilan (kikir). Dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa kubur, serta dari fitnah kehidupan dan kematian.” (HR. Bukhari no. 6367 dan Muslim no. 2706)
Pesan utama dari hadis ini sangatlah mendalam. Ulama membedakan antara Al-‘Ajz (kelemahan) dan Al-Kasal (kemalasan). Al-‘Ajz adalah kondisi di mana seseorang memiliki niat dan kemauan untuk melakukan sesuatu, namun fisiknya tidak mampu, misalnya karena sakit atau cacat. Sedangkan Al-Kasal (malas) adalah kondisi di mana fisik seseorang sehat, tenaganya kuat, waktunya luang, namun ia tidak memiliki kemauan untuk melakukan kebaikan.
Artinya, orang yang malas adalah orang yang menyia-nyiakan nikmat sehat dan waktu luang yang telah Allah berikan. Islam adalah agama amal (tindakan), agama yang “berkemajuan”. Bagaimana mungkin umat Islam bisa maju dan memimpin peradaban jika generasi mudanya kalah oleh selimut dan layar handphone?
Mari kita lihat dampaknya dalam kehidupan sehari-hari.
Bagi rekan-rekan pelajar dan pemuda, kemalasan adalah pencuri cita-cita. Saat alarm Subuh berbunyi, fisik Anda mampu untuk bangun, tetapi sifat malas berbisik, “Tidur lagi lima menit.” Akhirnya shalat Subuh terlewat. Saat ada tugas sekolah atau kuliah, kalian memilih menghabiskan waktu berjam-jam untuk scroll media sosial. Akibatnya, tugas dikerjakan asal-asalan, nilai hancur, dan masa depan terancam.
Bagi kita para orang tua, pekerja, dan masyarakat umum, sifat malas juga sering menjadi penghalang ibadah. Saat mendengar azan, kita malas melangkah ke masjid dengan alasan lelah. Saat ada waktu luang, kita malas membuka lembaran Al-Qur’an. Jika Rasulullah SAW saja yang sudah dijamin surga selalu berlindung dari sifat malas, lalu siapakah kita yang penuh dosa ini, berani bersantai-santai dan malas beribadah?
Kemalasan tidak bisa dilawan hanya dengan niat, ia harus dilawan dengan paksaan. Paksakan diri untuk bangun. Paksakan diri untuk melangkah. Jangan tunggu motivasi datang, tapi mulailah bergerak maka motivasi itu akan menyusul. Jadikan doa dari Rasulullah tadi sebagai wirid harian kita, agar Allah senantiasa memberikan energi pada jiwa dan raga kita.
Mari kita akhiri ini dengan memanjatkan doa bersama:
Ya Allah, kami berlindung kepada-Mu dari sifat lemah dan malas. Karuniakanlah kepada kami semangat yang membara untuk senantiasa menuntut ilmu, bekerja mencari rezeki yang halal, dan beribadah kepada-Mu. Jauhkanlah kami dari godaan yang membuang-buang waktu. Jadikanlah kami umat yang produktif, yang sisa umurnya penuh dengan amal shaleh.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




