Artikel

Muhammadiyah Bersiap Hadapi Era Digital: Inovasi Dakwah dengan Sentuhan AI

Oleh : Drs. Kasmui, M.Si (Majelis Tabligh PWM Jateng)

Pekalongan – Para mubaligh atau ustadz di level Majelis Tabligh Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) dan Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) kini semestinya memiliki panduan baru dan khusus untuk berdakwah di era digital yang serbacanggih. Dokumen ini adalah bagian dari Program Kerja Bidang Riset dan Pengembangan Dakwah, yang dirancang khusus untuk menghadapi berbagai tantangan sekaligus memanfaatkan peluang dakwah di tengah kemajuan teknologi.

Mengapa Dakwah Perlu Beradaptasi?

Kita semua tahu, zaman sekarang hidup kita sudah sangat dipengaruhi digital. Mulai dari kerja, sekolah, berkomunikasi, hingga hiburan, semua tak lepas dari teknologi. Tentu saja, perubahan ini juga sangat terasa di kalangan umat Muslim di Indonesia. Sayangnya, cara-cara dakwah tradisional kini dirasa kurang pas untuk menjangkau generasi muda yang sangat akrab dengan teknologi.

Media digital, terutama media sosial, memang membuka pintu lebar bagi kita untuk menyebarkan ajaran Islam. Tapi di sisi lain, tantangan juga bermunculan, seperti mudahnya penyebaran berita bohong atau informasi yang salah, dan kadang kala, wibawa ulama tradisional jadi berkurang.

Oleh karena itu, Muhammadiyah menyusun rencana riset dan pengembangan (R&D) ini dengan beberapa tujuan utama:

Mengembangkan Kerangka Dakwah Digital: Membangun fondasi R&D dakwah yang kokoh agar bisa menjawab kebutuhan spiritual dan sosial umat di era digital yang terus berubah.

Memanfaatkan AI dan Inovasi Digital: Mempelajari dan menggunakan Kecerdasan Buatan (AI) serta inovasi digital lainnya untuk menciptakan materi dakwah yang mudah diakses, menarik, dan sesuai ajaran Islam yang sebenarnya.

Menetapkan Etika Dakwah Digital: Membuat pedoman etika dan praktik terbaik dalam berdakwah di dunia digital, agar dakwah kita selalu jujur dan memberikan dampak positif bagi masyarakat.

Mengenal Lebih Dekat Generasi Z dan Milenial

Dokumen ini secara khusus juga menyoroti Generasi Z (usia 15-25 tahun) dan milenial yang sangat terpengaruh teknologi. Mereka aktif sekali menggunakan media sosial untuk mencari tahu soal agama. Namun, tidak sedikit di antara mereka yang mengalami “krisis iman” karena seringnya terpapar konten digital yang bertentangan dengan ajaran Islam, kurangnya bimbingan spiritual, serta lebih percaya pada figur-figur populer di media digital daripada ulama.

Fenomena ini menciptakan “ladang ranjau etika” dalam berdakwah, di mana informasi yang salah, paham radikal, dan konten yang menyimpang dari nilai-nilai Islam menjadi ancaman serius.

Peluang AI dalam Dakwah, Tapi Ingat Batasannya!

Lewat inisiatif ini, kita ingin memanfaatkan potensi AI untuk membuat konten dakwah yang lebih personal, mempercepat produksi, dan menerjemahkan pesan agar jangkauan dakwah semakin luas dan efisien. AI juga sangat berpotensi untuk melawan penyebaran informasi yang salah dengan menyebarkan materi dakwah yang berkualitas tinggi.

Namun, kita juga harus paham batasan AI. AI tidak bisa sepenuhnya memahami nilai-nilai moral dan etika yang rumit, aspek spiritual dan emosional, apalagi menggantikan peran ulama dalam menafsirkan agama yang penuh nuansa. AI tidak akan bisa meniru kesadaran spiritual manusia atau menggantikan peran ulama dalam menangani masalah agama yang baru. Terlalu bergantung pada AI justru bisa mengurangi interaksi antarmanusia.

Maka dari itu, dokumen ini menekankan pentingnya “simbiosis manusia-AI”. Artinya, AI berfungsi sebagai alat yang kuat, tetapi ulama tetap punya wewenang tertinggi untuk memeriksa kebenaran konten dan mengawasi etika.

Panduan Strategis untuk Pimpinaan Muhammadiyah

Secara keseluruhan, dokumen ini adalah panduan strategis bagi para pengurus atau pimpinan Muhammadiyah dari tingkat PDM, PWM, bahkan sampai Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) dan Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM). Tujuannya adalah membangun umat yang tangguh secara spiritual, melek digital, dan terhubung secara inklusif di tengah dinamika digital yang kompleks.

Ini ibarat seorang arsitek yang merancang bangunan kokoh di tengah badai digital. Setiap fondasi riset dan pengembangan dakwah diletakkan dengan cermat, memanfaatkan teknologi terbaru namun tetap berpegang teguh pada prinsip-prinsip Islam yang abadi, demi kenyamanan dan keselamatan umat.

Langkah Strategis ke Depan untuk Dakwah Berkemajuan

Agar dakwah di era digital bisa berkelanjutan dan berdampak, diperlukan beberapa langkah strategis:

Membentuk “Pusat Riset dan Pengembangan Dakwah Digital Berbasis AI” yang melibatkan ulama, ahli teknologi, dan pendidik.

Mengembangkan “Kerangka Etika AI Islam” yang komprehensif, berdasarkan tujuan hukum Islam (maqāṣid syariah) dan prinsip kemaslahatan umum (maslahah), untuk memandu penggunaan AI yang bertanggung jawab.

Berinvestasi pada infrastruktur digital yang kuat, terutama di daerah pedesaan, untuk mengatasi kesenjangan digital dan memastikan akses yang adil.

Mendorong kerja sama dengan lembaga pendidikan, perusahaan teknologi, dan organisasi masyarakat sipil untuk menciptakan konten dakwah yang inovatif, mudah diakses, dan asli.

Mengembangkan kurikulum literasi digital jangka panjang untuk semua usia, fokus pada berpikir kritis dan verifikasi sumber, agar umat menjadi konsumen konten keagamaan yang cerdas.

Cahaya Penuntun di Lanskap Digital

Intinya, era digital dan AI menawarkan potensi luar biasa untuk dakwah agar bisa memenuhi kebutuhan umat yang terus berkembang. Namun, semua ini harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan antara memanfaatkan inovasi teknologi dan menjunjung tinggi keaslian, integritas etika, serta sifat kemanusiaan ajaran Islam.

Dakwah yang efektif di era digital adalah dakwah yang didukung teknologi canggih, namun tetap berpusat pada nilai-nilai kemanusiaan, bimbingan spiritual yang otentik, dan komitmen pada kebenaran. Ini seperti seorang nahkoda yang pandai menyeimbangkan layar dan kemudi di lautan internet yang luas; memanfaatkan angin kencang inovasi untuk melaju pesat, namun tetap berpegang teguh pada kompas etika dan peta keaslian ajaran, demi membawa bahtera umat menuju dermaga hidayah yang aman dan kokoh.

Program Kerja Bidang Riset dan Pengembangan Dakwah

Rencana Tahun Ketiga Bidang Riset dan Pengembangan Dakwah Majelis Tabligh PWM Jawa Tengah.

Bidang Riset: a) pendataan melalui survei di tingkat PRM dan PCM untuk mengetahui jenis materi dan kegiatan dakwah yang dibutuhkan oleh “grassroot” umat Muhammadiyah yang harus disiapkan oleh para pimpinan, khususnya yang berkaitan dengan bidang dakwah digital, b) pendataan melalui analisis dokumentasi jenis materi dan kegiatan dakwah melalui program kerja yang disiapkan dalam jangka waktu tertentu, khususnya yang berkaitan dengan materi dan kegiatan bidang dakwah digital dan penggunaan teknologi informatika dn komunikasi, termasuk dakwah melaluii sosmed, dilevel  PRM, PCM, PDM dan PWM.

Pengembangan materi dakwah secara umum sesuai kebutuhan “grassroot” dan khususnya materi dakwah digital melalui berbagai sarana teknologi informatika dn komunikasi dan sosmed.

Pengembangan metode dan strategi dakwah yang berkaitan dengan pengggunaan teknologi informatika dn komunikasi dan sosmed, misal membangun sistem berbasis AI yang memeudahkkan warga dan pengurus (ustadz atau mubaligh) Muhammadiyah mendapatkan informasi ke-Islaman dan kemuhammadiyahan, termasuk chatbot untuk berdiskusi, meresum, mereview materi dan menyusun naskah aartikel ke_islaman, baik untuk ceramah umum maupun khutbah secara khusus.

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button