Update Terbaru SOLUNA: Solar & Lunar Astronomy
Ilmu astronomi Islam sebagai bekal dakwah ilmiah bagi mubaligh Muhammadiyah.

SOLUNA dapat diakses melalui https://kasmui.cloud/soluna/. Aplikasi ini mempertemukan ilmu falak, data astronomi modern, dan kebutuhan praktis umat: memahami kalender Hijriah, waktu salat, arah kiblat, fase Bulan, gerhana, serta dasar penentuan awal bulan kamariah secara cepat dan akurat. Pembaruan antarmuka dan fasilitas analisisnya memberi kesempatan kepada mubaligh untuk berdakwah dengan penjelasan yang terukur, tidak sekadar menyampaikan tanggal dan angka.
SEBAIKNYA DIAKSES MENGGUNAKAN INTERNET LAPTOP SUPAYA CEPAT, MENGGUNAKAN HP/TABLET MEMBUTUHKAN WAKTU LOADING LEBIH LAMA (SAMPAI 2 MENIT)
https://kasmui.cloud/soluna/
Pertanyaan seperti “Mengapa awal Ramadan bisa berbeda?”, “Apa yang dimaksud hilal memenuhi kriteria?”, atau “Bagaimana memastikan arah kiblat masjid?” semakin sering muncul di pengajian. Jawabannya memerlukan kemampuan membedakan fakta astronomis, model visibilitas, kriteria kalender, serta keputusan kelembagaan. Di sinilah SOLUNA bermanfaat sebagai sarana belajar dan demonstrasi, sedangkan pedoman resmi organisasi tetap menjadi rujukan penetapan ibadah berjamaah.
Mengenal SOLUNA dan Landasan Ilmu Falak
Apa itu SOLUNA dan apa tujuannya?
SOLUNA adalah aplikasi Solar & Lunar Astronomy berbasis web untuk menghitung dan memvisualisasikan posisi Matahari, Bulan, serta sejumlah fenomena Tata Surya. Inti komputasinya memanfaatkan pustaka Python Skyfield, data ephemeris JPL DE440s dan lingkungan Pyodide yang memungkinkan komputasi Python dijalankan melalui browser. Menurut konfigurasi kode yang ditelaah, data ephemeris disediakan untuk rentang layanan sekitar 1850–2149 M, sedangkan cakupan konversi kalender yang ditampilkan adalah 1300–1574 H; hasil tetap bergantung pada berkas ephemeris yang tersedia untuk tahun pilihan.
Tujuan utamanya ialah membuka proses hisab agar dapat dipelajari dan diperiksa: dari lokasi pengamat, waktu, posisi geosentris dan toposentris, hingga penalaran yang mengantar pada kesimpulan kalender. Pengguna dapat memilih lokasi, lintang, bujur, elevasi, zona waktu, tanggal dan jam; kemudian membandingkan keluaran untuk beberapa tempat. Penyediaan beragam pilihan ini penting karena posisi langit yang dilihat pengamat di Semarang tidak selalu sama dengan yang dilihat di Sabang, Makkah, atau wilayah barat Benua Amerika.
Perintah membaca tanda-tanda langit
Al-Qur’an menempatkan gerak benda langit sebagai tanda keteraturan ciptaan Allah. QS. Yunus [10]: 5 mengaitkan fase Bulan dengan bilangan tahun dan perhitungan waktu; QS. Al-Baqarah [2]: 189 menyebut hilal sebagai penanda waktu bagi manusia dan ibadah haji; sedangkan QS. Ar-Rahman [55]: 5 menegaskan keteraturan Matahari dan Bulan menurut perhitungan. Ayat-ayat ini menjadi landasan penting untuk menjelaskan manfaat ilmu hisab, dengan tetap memperhatikan pembahasan fikih mengenai penerapan hasilnya.
Seorang mubaligh tidak cukup mengetahui “tanggal berapa”, melainkan perlu memahami “berdasarkan kriteria apa, dihitung untuk lokasi mana, pada waktu apa, dan bagaimana kesimpulannya diperoleh”.
KHGT: dari angka 5° dan 8° menuju kesatuan kalender global
Salah satu fungsi utama SOLUNA ialah komputasi Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT). Pendekatan yang dipakai Muhammadiyah menganggap seluruh dunia sebagai satu kesatuan matlak. Parameter Kalender Global (PKG) 1 merujuk pada tinggi Bulan geosentris sekurang-kurangnya 5° dan elongasi geosentris sekurang-kurangnya 8° pada saat Matahari terbenam di suatu lokasi dunia sebelum batas 00.00 UTC. Jalur PKG 2 memuat ketentuan penyelarasan tambahan yang melibatkan daratan Benua Amerika dan syarat waktu ijtimak sebelum fajar di Selandia Baru. Karena itu, KHGT bukan semata-mata rumus 5°/8°, melainkan sistem kalender yang juga melibatkan matlak global, urutan ijtimak, batas hari, dan aturan keputusan. Rujukan kelembagaannya tersedia pada portal resmi KHGT Muhammadiyah.
Pada menu KOMPUTASI, SOLUNA menampilkan ijtimak, parameter Matahari–Bulan, pemeriksaan H0, H1 dan H2, lokasi yang memenuhi syarat, serta jalur keputusan PKG. Menu JUMLAH HARI KHGT menyajikan awal dan akhir bulan, panjang bulan 29 atau 30 hari, statistik tahunan, dan ekspor CSV. Dengan melihat urutan hitungan tersebut, mubaligh dapat menjelaskan mengapa Ramadan, Syawal, dan Zulhijah memiliki arti utama dalam pengaturan puasa, Idulfitri, wukuf Arafah, Iduladha, serta hari Tasyrik.
Mengapa Neo-MABIMS dapat menghasilkan tanggal berbeda?
SOLUNA turut menyediakan menu JUMLAH HARI NEO MABIMS untuk perbandingan. Dalam modul tersebut, simulasi menggunakan Sabang sebagai markas tetap dengan ambang tinggi hilal 3° dan elongasi 6,4°; ini berbeda dari pemindaian global pada KHGT. Modul ANALISIS HILAL secara eksplisit menyediakan pilihan kriteria Neo-MABIMS berbasis posisi toposentris. Kriteria nasional MABIMS ditetapkan melalui kerangka hisab-rukyat dan mekanisme sidang isbat, sehingga hasil simulasi Sabang tidak boleh disamakan begitu saja dengan keputusan resmi pemerintah. Perbedaan tanggal dapat timbul karena wilayah acuan, basis koordinat, metode keputusan, dan kesepakatan fikih yang berbeda, bukan selalu akibat kesalahan hitung.
Pembedaan geosentris (posisi dilihat dari pusat Bumi) dan toposentris (posisi dari tempat pengamat) merupakan materi dakwah yang bernilai. Begitu pula ijtimak tidak sama dengan hilal yang pasti dapat diamati: ijtimak merupakan peristiwa geometris, sedangkan keterlihatan sabit Bulan juga dipengaruhi geometri pengamatan dan keadaan atmosfer.
Rumus astronomi sebagai alat memahami, bukan sekadar menghafal
Contoh hubungan dasar dalam astronomi bola untuk menghitung tinggi geometris benda langit ialah: sin(h) = sin(phi) × sin(delta) + cos(phi) × cos(delta) × cos(H). Di sini h adalah tinggi benda langit terhadap horizon, phi adalah lintang pengamat, delta adalah deklinasi benda langit, dan H adalah sudut jam. Persamaan ini adalah hubungan geometri bola; penerapan presisi memerlukan definisi posisi pengamat, sistem waktu, data ephemeris, serta perlakuan terhadap paralaks dan refraksi sesuai tujuan hitungan.
Untuk memahami umur bulan kamariah secara kalender, dapat digunakan hubungan teks: jumlah hari suatu bulan Hijriah = tanggal awal bulan berikutnya − tanggal awal bulan berjalan, dengan selisih dihitung dalam satuan hari kalender. Inilah prinsip yang memungkinkan SOLUNA memeriksa panjang bulan dari dua penentuan awal bulan berturutan, bukan memaksakan pola 29 dan 30 hari secara bergantian.




