
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahilladzi amarana bil itqan wal ihsan fi kulli syai’. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jamaah online rahimakumullah,
Dalam keseharian, kita mungkin sangat akrab dengan ungkapan “asal jadi”, “yang penting selesai”, atau “sudah lumayanlah”. Budaya menerabas dan meremehkan kualitas ini sering kali menjangkiti berbagai aspek kehidupan kita, mulai dari mengerjakan tugas sekolah, menyelesaikan pekerjaan di tempat kerja, hingga dalam urusan pelayanan publik. Ketika segala sesuatu dikerjakan setengah hati tanpa memedulikan detail, hasilnya adalah karya yang rapuh, mudah rusak, dan pada akhirnya merugikan banyak orang.
Islam sangat menentang mentalitas “asal-asalan” ini. Jauh sebelum dunia modern merumuskan konsep Quality Control atau manajemen mutu, Islam telah menanamkan sebuah prinsip agung yang disebut dengan Itqan.
Secara bahasa, Itqan berarti kemantapan, ketelitian, dan kesempurnaan. Secara istilah, Itqan adalah sikap profesionalisme tingkat tinggi dalam Islam; yakni mengerjakan sesuatu secara tuntas, berkualitas, presisi, dan tidak menyisakan ruang untuk kecerobohan. Seorang muslim yang memiliki sifat Itqan tidak akan puas dengan hasil yang medioker atau biasa-biasa saja. Ia selalu berusaha memberikan standar yang terbaik, bukan semata-mata untuk mendapat pujian atasan atau guru, melainkan karena ia tahu bahwa kualitas pekerjaannya dinilai langsung oleh Allah SWT.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menegaskan betapa tingginya kedudukan orang yang bekerja dengan Itqan dalam sebuah hadis yang diriwayatkan dari Sayyidah Aisyah radhiyallahu ‘anha:
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ إِذَا عَمِلَ أَحَدُكُمْ عَمَلًا أَنْ يُتْقِنَهُ
“Sesungguhnya Allah mencintai seseorang yang apabila bekerja (mengerjakan suatu perbuatan), ia mengerjakannya dengan itqan (profesional, rapi, dan tuntas).” (HR. Thabrani dan Al-Baihaqi)
Pesan utama dari hadis ini sangat luar biasa. Allah mengaitkan “cinta-Nya” dengan “kualitas pekerjaan” hamba-Nya. Jika kita ingin dicintai oleh Sang Pencipta, maka jalan utamanya adalah dengan merapikan dan menyempurnakan amal serta pekerjaan kita. Itqan mengubah status sebuah rutinitas duniawi menjadi mahakarya ibadah yang mendatangkan keridhaan Ilahi.
Mari kita lihat pengaplikasian Itqan dalam kehidupan dan profesi kita sehari-hari.
Bagi seorang mekanik atau teknisi alat berat, prinsip “asal jadi” adalah pantangan besar. Bayangkan jika saat membimbing siswa magang memeriksa sistem kelistrikan otomotif atau melakukan inspeksi baterai kendaraan, prosesnya dilakukan tanpa ketelitian. Satu kabel yang tidak presisi atau perhitungan arus yang meleset sedikit saja bisa menyebabkan korsleting fatal hingga kecelakaan kerja. Di dunia keteknikan, Itqan adalah garis batas yang menyelamatkan nyawa manusia. Bekerja dengan tingkat presisi tinggi adalah wujud nyata dari keimanan.
Begitu pula bagi seorang pendidik dan pengembang teknologi. Ketika seorang guru menyusun jobsheet lembar kerja praktik untuk siswanya, atau memprogram kode-kode untuk membuat aplikasi web dan media pembelajaran interaktif, Itqan menuntutnya untuk menata setiap instruksi dan baris kode (coding) secara rapi dan bebas dari kesalahan (bug). Guru yang ber- itqan tidak akan memberikan materi ala kadarnya hanya untuk menggugurkan kewajiban mengajar, melainkan memastikan desain pembelajarannya benar-benar mencerdaskan dan mudah dipahami oleh muridnya.
Bagi rekan-rekan pelajar, Itqan berarti tidak mencontek saat ujian dan tidak menjiplak karya orang lain saat membuat makalah. Kerjakanlah tugas-tugas kalian dengan dedikasi dan kualitas terbaik, karena kebiasaan teliti di bangku sekolah akan membentuk kalian menjadi tenaga profesional yang berintegritas di masa depan.
Kualitas peradaban umat Islam sangat ditentukan oleh kualitas individu-individunya. Umat ini tidak akan pernah maju jika kita masih memelihara budaya malas dan ceroboh. Mari kita jadikan Itqan sebagai ruh dalam setiap aktivitas kita. Jadilah pelajar yang itqan, jadilah teknisi yang itqan, jadilah pendidik yang itqan. Buktikan bahwa seorang muslim adalah jaminan mutu dan kualitas.
Mari kita tundukkan hati, memohon kepada Allah SWT agar diberikan kekuatan untuk senantiasa menyempurnakan amal perbuatan kita:
Ya Allah, Yang Maha Sempurna. Karuniakanlah kepada kami keikhlasan dalam berniat dan ketelitian dalam bekerja. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang senantiasa mengedepankan kualitas, profesionalisme, dan rasa tanggung jawab dalam setiap amanah yang kami emban. Jauhkanlah kami dari sifat ceroboh, malas, dan berkhianat pada pekerjaan. Jadikanlah setiap karya dan lelah kami sebagai jalan untuk meraih cinta-Mu.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




