Artikel
Trending

Mengubah Lelah Menjadi Lillah, Hakikat Bekerja dan Berkarya sebagai Ibadah

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahilladzi amarana bil ‘amali was sa’yi fil ardh. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah online rahimakumullah,

Setiap hari, kita menyaksikan denyut perjuangan yang tak kenal lelah. Di pagi buta, stasiun-stasiun kereta sudah dipenuhi oleh para pejuang nafkah yang rela duduk di gerbong kereta kelas ekonomi antarkota demi menjemput rezeki. Di tempat lain, ruang-ruang kelas mulai didatangi oleh para pendidik dan pelajar yang bersiap mengarungi samudra ilmu. Setelah seharian memeras keringat dan pikiran, tubuh kita terasa begitu penat. Keluhan seperti “Saya lelah sekali hari ini” sering kali terucap tanpa sadar.

Rasa lelah adalah fitrah kemanusiaan kita. Namun, Islam mengajarkan sebuah cara pandang yang luar biasa untuk merespons rasa lelah tersebut. Dalam Islam, bekerja mencari nafkah dan menuntut ilmu bukanlah sekadar rutinitas duniawi yang membebani, melainkan sebuah jalan panjang menuju rida Allah. Pertanyaannya, sudahkah kita mengubah kata “lelah” itu menjadi “Lillah” (karena Allah)?

Paradigma bahwa ibadah hanyalah shalat, puasa, dan haji adalah pemahaman yang sempit. Bekerja, berkarya, dan berinovasi adalah ibadah sosial yang sangat dicintai oleh Allah, asalkan dilandasi dengan niat yang ikhlas dan cara yang halal.

Allah SWT secara tegas memerintahkan kita untuk menjadi hamba yang produktif. Mari kita renungkan firman Allah dalam Surah At-Taubah ayat 105:

 

وَقُلِ ٱعْمَلُوا۟ فَسَيَرَى ٱللَّهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُۥ وَٱلْمُؤْمِنُونَ ۖ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَٰلِمِ ٱلْغَيْبِ وَٱلشَّهَٰدَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ

 

“Dan katakanlah: ‘Bekerjalah kamu, maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.'” (QS. At-Taubah: 105)

Pesan utama dari ayat ini sangatlah indah sekaligus menjadi pengingat bagi kita. Allah menggunakan kata I’malu! (Bekerjalah kalian!). Ayat ini menegaskan “fasayarallahu ‘amalakum” (maka Allah akan melihat pekerjaanmu). Ini berarti, setiap tetes keringat dan inovasi kita dipantau, dicatat, dan dihargai oleh Sang Pencipta. Menyadari hal ini, seorang muslim yang bekerja tentu pantang bermalas-malasan.

Mari kita lihat wujud nyata keikhlasan ini dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi para pendidik, khususnya yang mengabdi di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), dedikasi yang diberikan adalah bentuk jihad peradaban. Ketika seorang guru rela memeras pikiran untuk menulis buku panduan teknis alat berat, merumuskan puluhan soal evaluasi kompetensi akademik, hingga berinovasi menciptakan game edukasi interaktif berbasis web agar siswanya antusias belajar mesin diesel, itu semua bukanlah sekadar tugas administratif. Keringat dan waktu yang tercurah adalah ibadah mulia yang akan mengalirkan pahala jariyah tanpa henti.

Bagi seorang kepala keluarga yang baru saja membangun bahtera rumah tangga, melangkah keluar rumah di pagi hari adalah sebuah kehormatan. Rasa kantuk dan lelah saat menempuh perjalanan jauh demi menafkahi istri dan keluarga akan bernilai setara dengan perjuangan di jalan Allah, asalkan sebelum melangkah keluar pintu, ia meniatkannya untuk menjaga kehormatan diri dan keluarga dari meminta-minta.

Jangan biarkan energi yang terkuras hari ini menguap begitu saja menjadi rasa capek tanpa makna. Mari kita perbarui niat kita. Jadikan setiap inovasi yang kita buat, setiap ilmu yang kita bagikan, dan setiap rupiah yang kita cari sebagai tabungan akhirat. Ketika kita mampu menata niat, maka tidak ada lagi beban pekerjaan yang terasa menyiksa, sebab lelahnya dunia akan tergantikan dengan manisnya rida ilahi.

Mari kita akhiri tulisan ini dengan menundukkan hati, memohon kepada Allah SWT:

Ya Allah, Yang Maha Pemberi Rezeki. Karuniakanlah kepada kami kelapangan rezeki yang halal dan penuh keberkahan. Bimbinglah hati kami agar senantiasa meluruskan niat dalam setiap aktivitas. Jadikanlah setiap lelah kami dalam mendidik generasi bangsa, menuntut ilmu, dan bekerja mencari nafkah sebagai ibadah murni di hadapan-Mu (Lillah). Lindungilah keluarga kami, dan jadikanlah rumah tangga kami sebagai rumah tangga yang sakinah, mawaddah, wa rahmah.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar. Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button