AkhlaqArtikelBuletin
Trending

Menuntut Ilmu Bukan Sekadar Mengejar Gelar, Melainkan Membangun Peradaban

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahilladzi allama bil qalam, allamal insana ma lam ya’lam. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah onliine rahimakumullah,

Jika kita mengamati fenomena di sekitar kita, terutama pada musim kelulusan sekolah atau wisuda perguruan tinggi, kita akan melihat betapa besarnya kebanggaan seseorang ketika sebuah gelar akademik disematkan di belakang namanya. Memang, merayakan pencapaian akademik adalah hal yang wajar. Namun, sering kali kita terjebak pada sebuah pemikiran yang dangkal: menganggap bahwa pendidikan hanyalah sebuah pabrik untuk mencetak pekerja, dan tujuan akhir dari sekolah hanyalah untuk mendapatkan ijazah, mencari kerja, lalu mengumpulkan kekayaan.

Pola pikir “orientasi gelar” ini telah membuat banyak orang kehilangan esensi dari ilmu itu sendiri. Mereka belajar keras hanya demi angka di atas kertas, bukan untuk memecahkan masalah umat. Hari ini, mari kita renungkan kembali fondasi dasar kita sebagai seorang pembelajar: Apakah kita menuntut ilmu hanya untuk meraih gelar, atau untuk membangun sebuah peradaban?

Dalam Islam, menuntut ilmu adalah ibadah yang sangat mulia. Layaknya ibadah yang lain, nilainya sangat bergantung pada niat yang ada di dalam hati. Menuntut ilmu demi kemajuan umat, demi menegakkan kebenaran, dan demi mencari keridhaan Allah adalah niat yang akan melahirkan peradaban (kemajuan). Sebaliknya, jika niatnya semata-mata untuk kemegahan duniawi, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan peringatan yang sangat keras.

Mari kita resapi sabda Nabi Muhammad SAW yang diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

 

مَنْ تَعَلَّمَ عِلْمًا مِمَّا يُبْتَغَى بِهِ وَجْهُ اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ لَا يَتَعَلَّمُهُ إِلَّا لِيُصِيبَ بِهِ عَرَضًا مِنَ الدُّنْيَا لَمْ يَجِدْ عَرْفَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ

 

“Barangsiapa menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari wajah Allah ‘Azza wa Jalla, namun ia tidak menuntutnya melainkan hanya untuk mendapatkan sedikit dari kenikmatan dunia, maka ia tidak akan mencium bau surga pada hari kiamat.” (HR. Abu Daud no. 3664, Ibnu Majah no. 252, dan Ahmad no. 338)

Pesan utama dari hadis ini sungguh menampar kesadaran kita. Ilmu pengetahuan—baik itu ilmu agama, kedokteran, teknik, maupun pendidikan, seharusnya dipelajari untuk mencari “wajah Allah”, yang wujud praktisnya adalah untuk memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi kemanusiaan. Jika ilmu-ilmu tersebut dipelajari semata-mata demi jabatan, pujian, atau memperkaya diri sendiri (‘aradlan minad dunya), maka keberkahan ilmu itu akan dicabut, dan pelakunya diancam tidak akan mencium bau surga.

Lalu, apa bedanya belajar untuk gelar dengan belajar untuk membangun peradaban dalam kehidupan sehari-hari?

Bagi rekan-rekan pelajar, mahasiswa, dan pemuda, mari kita evaluasi niat kita. Jika seorang mahasiswa kedokteran belajar siang malam hanya agar kelak menjadi dokter yang kaya raya dan dihormati, maka ia hanya sedang mengejar gelar. Namun, jika ia belajar keras dengan niat, “Ya Allah, jadikanlah ilmu medis ini alat agar hamba bisa menyembuhkan saudara-saudara hamba yang sakit dan memajukan kesehatan umat,” maka ia sedang membangun peradaban.

Jika seorang pelajar SMK atau mahasiswa teknik belajar mesin dan teknologi hanya untuk pamer kepintaran, ia hanya akan mendapat pujian sesaat. Tapi jika ia meniatkan ilmunya untuk menciptakan teknologi yang memudahkan hajat hidup orang banyak, ia sedang membangun peradaban. Begitu pula para calon guru, jika mengajar hanya demi gaji, ia hanya menjadi pekerja. Namun jika ia mengajar untuk mencerdaskan anak bangsa dari kebodohan, ia adalah pahlawan peradaban.

Bagi Bapak/Ibu dan masyarakat umum, mari kita dukung generasi muda kita dengan tidak mendewakan gelar. Jangan tanya kepada anak-anak kita, “Nanti kalau lulus mau kerja apa dan gajinya berapa?” Tapi tanyalah, “Nanti kalau lulus, ilmu kamu mau digunakan untuk memberikan manfaat apa bagi masyarakat?”

Peradaban Islam yang gilang-gemilang di masa lalu, seperti di era Andalusia dan Baghdad, tidak dibangun oleh orang-orang yang gila gelar. Ia dibangun oleh para cendekiawan yang ikhlas, yang memandang ilmu sebagai amanah dari Allah. Mari kita perbaiki niat kita. Raihlah gelar akademiknya, kuasai ilmunya, dan gunakan keduanya sebagai batu loncatan untuk membangun umat dan meraih keridhaan-Nya.

Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon kepada Allah SWT agar diberikan ilmu yang bermanfaat:

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu ilmu yang bermanfaat, rezeki yang halal, dan amal yang diterima. Luruskanlah niat di dalam hati kami saat menuntut ilmu. Jauhkanlah kami dari niat yang sombong, riya, dan cinta dunia. Jadikanlah setiap lembar buku yang kami baca dan setiap huruf yang kami pelajari sebagai cahaya yang akan membimbing kami dan umat ini menuju peradaban yang Engkau ridhai.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button