
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Alhamdulillahilladzi allama bil qalam, allamal insana ma lam ya’lam. Asyhadu alla ilaha illallah wahdahu la syarikalah, wa asyhadu anna muhammadan ‘abduhu wa rasuluh. Allahumma shalli ‘ala sayyidina Muhammad, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.
Hadirin jamaah online rahimakumullah,
Di zaman kemajuan teknologi saat ini, kita hidup di era banjir informasi. Apa pun yang ingin kita ketahui, cukup mengetiknya di mesin pencari atau bertanya pada kecerdasan buatan, maka jawabannya akan muncul dalam hitungan detik. Fenomena ini, di satu sisi, sangat memudahkan kita. Namun di sisi lain, kemudahan ini memunculkan sebuah krisis baru yang cukup memprihatinkan, yaitu luncurnya adab dan rasa hormat kepada sumber ilmu yang sesungguhnya: para guru, dosen, dan pendidik kita.
Kita sering melihat fenomena pelajar yang meremehkan gurunya karena merasa bisa belajar sendiri dari internet. Kita mendengar kisah mahasiswa yang mengirim pesan kepada dosennya dengan bahasa yang tidak sopan, atau murid yang membantah gurunya di kelas tanpa etika. Hal ini terjadi karena banyak yang mengira bahwa pendidikan sekadar proses “transfer data” dari buku ke otak.
Dalam Islam, menuntut ilmu bukanlah sekadar mengumpulkan informasi, melainkan mencari keberkahan (barakah). Dan keberkahan sebuah ilmu sangat bergantung pada adab seorang murid kepada gurunya. Secerdas apa pun seseorang, jika ia tidak menghormati orang yang mengajarkannya, ilmunya tidak akan memberikan kebaikan dalam kehidupannya.
Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam memberikan peringatan yang sangat tegas terkait etika menghormati orang yang berilmu. Mari kita renungkan hadis yang diriwayatkan dari sahabat ‘Ubadah bin ash-Shamit radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah SAW bersabda:
لَيْسَ مِنْ أُمَّتِي مَنْ لَمْ يُجِلَّ كَبِيرَنَا، وَيَرْحَمْ صَغِيرَنَا، وَيَعْرِفْ لِعَالِمِنَا حَقَّهُ
“Bukan dari golongan umatku orang yang tidak menghormati yang lebih tua, tidak menyayangi yang lebih muda, dan tidak mengetahui hak orang yang berilmu (ulama/guru).” (HR. Ahmad)
Pesan utama dari hadis ini sangatlah tajam. Menghormati guru dan dosen bukanlah sekadar aturan tata tertib sekolah atau kampus, melainkan standar apakah kita diakui sebagai umat Nabi Muhammad SAW atau tidak. “Mengetahui hak orang yang berilmu” berarti kita menyadari bahwa guru bukan sekadar penyedia informasi, melainkan orang tua ruhani yang membimbing moral, akal, dan jiwa kita. Internet dan mesin pencari bisa memberikan jawaban matematika atau sejarah, tapi mereka tidak bisa mengajarkan kebijaksanaan, kesabaran, dan keteladanan yang lahir dari keikhlasan seorang guru.
Bagaimana kita mengaplikasikan pesan ini dalam kehidupan sehari-hari?
Bagi rekan-rekan pelajar dan mahasiswa, mulailah dari hal-hal yang sederhana. Saat dosen atau guru sedang menerangkan di depan kelas, simpanlah handphone kalian. Dengarkan dengan saksama meskipun kalian mungkin sudah membaca materinya. Jika ingin menghubungi mereka via pesan singkat, ucapkanlah salam terlebih dahulu, gunakan bahasa yang sopan, perkenalkan diri, dan jangan mendesak mereka untuk membalas saat itu juga. Etika-etika kecil inilah yang mengundang turunnya rahmat Allah atas ilmu yang kalian pelajari.
Bagi Bapak/Ibu orang tua, mari kita ajarkan anak-anak kita untuk memuliakan guru mereka. Jika anak kita ditegur di sekolah karena melakukan kesalahan, janganlah terburu-buru marah dan membela anak kita secara membabi buta, apalagi sampai merendahkan harkat martabat sang guru. Ingatlah, ketika orang tua merendahkan guru di depan anaknya, saat itulah hancur rasa hormat sang anak, dan hilang pulalah keberkahan ilmunya.
Ketinggian derajat seseorang di sisi Allah bukan dinilai dari seberapa panjang gelar akademiknya, melainkan dari seberapa baik adab dan ketawadhuannya. Jangan biarkan kecerdasan membuat kita sombong. Mari kita doakan para guru dan dosen kita, yang dengan sabar telah membimbing kita dari ketidaktahuan menuju cahaya ilmu.
Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon kepada Allah SWT:
Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dosa kedua orang tua kami, serta dosa para guru dan pendidik kami. Balaslah setiap tetes keringat kesabaran mereka dengan surga-Mu. Karuniakanlah kepada kami dan anak-anak kami adab yang luhur, hati yang tawadhu’, dan ilmu yang bermanfaat. Jauhkanlah kami dari sifat sombong dan meremehkan orang lain.
Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.
Subhanakallahumma wa bihamdika, asyhadu alla ilaha illa anta, astaghfiruka wa atubu ilaik.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)




