Tips Mencari Ketenangan ditengah Arus Notifikasi dan Algoritma
Oleh: Daru Nurdianna, M.Pd. * (Peserta Sekolah Tabligh MT PWM Jateng Angkatan ke-3)
Manusia dizaman ini memiliki kebiasaan hidup yang sangat berbeda dari abad sebelumnya. Dari kecil, remaja, maupun dewasa sudah biasa menghabiskan waktu untuk menatap layar. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa manusia di era modern ini menghabiskan sekitar empat hingga lima jam setiap hari menggunakan gawai, dan lebih dari enam jam sehari berinteraksi dengan layar digital.
Dalam kondisi seperti itu, sebagian besar perhatian manusia terserap oleh arus informasi yang terus mengalir tanpa henti. Ini menimbulkan masalah yang membuat mereka merasa tidak mendapatkan ketenangan, hikmah, dan arah hidup. Meskipun setiap hari menatap layar yang bercahaya, tampaknya hati kita tidak mendapatkan cahaya kehidupan. Informasi memang datang dengan cepat, tetapi kecepatan itu ternyata tidak selalu menghadirkan kejelasan.
Dari segi psikologis, ini memunculkan istilah krisis manusia modern. Diantaranya perasaan hampa, kehilangan arah, kesepian, kecemasan, atau keterasingan di tengah kemajuan teknologi. Banyak penelitian psikologi menemukan akar masalahnya bukan kurangnya kenyamanan, melainkan hilangnya makna hidup (meaning crisis) yang memicu kehilangan fokus, depresi, agresivitas, kecanduan, dan rasa hidup yang tidak berarti.
Berikut tips untuk mencari ketenangan di zaman yang dibanjiri notifikasi dan algoritma layar handphone, dari karya-karya penulis modern yang bestseller dan bagaimana Islam memandangnya:
- Beralih kepada Hal-Hal yang Benar-Benar Penting dan Bermanfaat
Dalam buku “Essentialism; The Disciplined Pursuit of Less” oleh Greg McKeown, kita bisa mengambil inspirasi, bahwa kualitas hidup tidak ditentukan oleh seberapa banyak hal yang kita lakukan, melainkan oleh kemampuan memilih sedikit hal yang paling bernilai. Dalam dunia digital, setiap notifikasi, berita, dan unggahan bersaing memperebutkan perhatian kita, padahal tidak semuanya layak mendapat ruang dalam pikiran.
Karena itu, manusia perlu bertanya secara sadar: apakah informasi ini benar-benar penting bagi tujuan hidup saya? Jika jawabannya tidak, maka informasi tersebut dapat diabaikan. Dengan membatasi penggunaan gawai pada aktivitas yang mendukung pekerjaan, pembelajaran, relasi yang bermakna, dan tujuan hidup yang jelas, seseorang dapat mengurangi kebisingan informasi, menjaga fokus, dan memperoleh ketenangan batin yang lebih besar.
Jauh sebelum Greg McKeown memperkenalkan konsep Essentialism, Islam telah mengajarkan prinsip yang serupa melalui hadis Nabi ﷺ:
مِنْ حُسْنِ إِسْلَامِ الْمَرْءِ تَرْكُهُ مَا لَا يَعْنِيهِ
“Di antara tanda baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi)
Hadis ini mengandung prinsip yang sangat mendasar, bahwa hidup yang baik bukan hanya tentang melakukan banyak hal yang baik, tetapi juga tentang meninggalkan hal-hal yang tidak membawa manfaat. Dalam konteks modern, banyak orang kelelahan bukan karena terlalu banyak bekerja, melainkan karena terlalu banyak memperhatikan hal yang tidak penting.
Banyak yang terlalu banyak melihat berita yang tidak relevan, perdebatan yang tidak produktif, notifikasi yang tidak mendesak, dan opini orang yang tidak memengaruhi kehidupannya. Dalam hadits ini mengajarkan bahwa Islam mengajarkan kita untuk menjaga fokus, adalah bagian dari kesempurnaan keislaman.
Prinsip ini juga diperkuat dengan QS. Al-Mu’minun Ayat 3,
وَالَّذِينَ هُمْ عَنِ اللَّغْوِ مُعْرِضُونَ
“Dan orang-orang yang menjauhkan diri dari perbuatan dan perkataan yang sia-sia.”
Kata ‘laghw’ mencakup segala sesuatu yang tidak memberi manfaat bagi agama maupun kehidupan. Para mufasir menjelaskan bahwa orang beriman tidak menghabiskan umur dan perhatiannya untuk hal-hal yang tidak bernilai. Mereka memilih apa yang layak mendapatkan waktu, pikiran, dan tenaga.
Krisis manusia modern sering kali bukan karena kekurangan waktu, melainkan karena terlalu banyak memberikan perhatian kepada hal-hal yang tidak penting. Setiap hari manusia dibanjiri informasi, hiburan, dan tuntutan yang berebut ruang dalam pikirannya.
Ketenangan tidak lahir dari melakukan lebih banyak hal, tetapi dari kemampuan memilih sedikit hal yang benar-benar bernilai. Karena itu, salah satu bentuk tazkiyatun nafs pada era digital adalah mendisiplinkan perhatian. Hendaknya kita meninggalkan yang sia-sia, memusatkan diri pada yang bermanfaat dan mengarahkan waktu kepada perkara yang mendekatkan manusia kepada tujuan hidupnya. Berusaha sekuat tenaga kepada hal-hal yang mendekatkan diri kepada Allah SWT adalah sebuah perjuangan besar.
- Merancang Perubahan yang Sedikit demi Sedikit dan Konsisten
Inspirasi datang dari karya “Atomic Habits; An Easy & Proven Way to Build Good Habits & Break Bad Ones” karya James Clear. Buku ini mengajak memahami perubahan diri dapat dimulai dari hal yang kecil. Perubahan besar tidak lahir dari keputusan besar yang sesekali diambil, melainkan dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten. Kita tidak perlu langsung meninggalkan media sosial sepenuhnya, tetapi cukup membangun kebiasaan kecil yang lebih baik.
Prinsip perubahan kecil yang konsisten sesungguhnya juga telah lama diajarkan Islam. Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
أَحَبُّ الْأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهَا وَإِنْ قَلَّ
“Amalan yang paling dicintai Allah adalah amalan yang dilakukan secara terus-menerus (konsisten), meskipun sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini menunjukkan bahwa keberhasilan tidak selalu lahir dari langkah besar yang sesekali dilakukan, tetapi dari kebiasaan baik yang dipelihara setiap hari. Seperti setetes air yang jatuh terus-menerus mampu melubangi batu. Demikian pula amalan kecil yang istiqamah perlahan membentuk karakter, mengubah kehidupan, dan mendekatkan manusia kepada tujuan hidupnya.
Seseorang yang ingin mengurangi dampak buruk media sosial tidak harus langsung menghapus semua aplikasinya. Ia dapat memulai dengan mematikan notifikasi yang tidak penting, meletakkan ponsel di luar kamar saat akan tidur, atau menetapkan lima belas menit pertama setelah bangun pagi untuk membaca Al-Qur’an. Mendengarkan kajian yang utuh setiap seminggu sekali di youtube, atau mengurangi gawai dengan niat untuk tidak melihat silaunya dunia dan aurat yang terlihat bebas di media sosial.
Kebiasaan-kebiasaan kecil ini mungkin tampak sepele, tetapi ketika dilakukan secara konsisten setiap hari, perlahan-lahan ia merebut kembali kendali atas perhatian, waktu, dan pikirannya dari algoritma yang terus berusaha memikatnya.
- Menghadirkan Fokus dan Kekhusyu‘-an
Kali ini karya yang menarik zaman ini selain Esesialism, Atomic Habit, adalah karya Cal Neport berjudul “Deep Work; Rules for Focused Success in A Distracted World”. Menurut Newport, dunia digital telah menciptakan budaya distraksi yang membuat manusia semakin sulit berkonsentrasi secara mendalam. Akibatnya, seseorang sibuk sepanjang hari, tetapi sedikit pekerjaan bermakna yang benar-benar terselesaikan.
Manusia modern jarang kehabisan tenaga karena pekerjaan yang berat, tetapi sering kehabisan tenaga karena perhatian yang tercerai-berai. Setiap notifikasi, pesan, dan informasi yang muncul memaksa pikiran berpindah dari satu arah ke arah lain. Perpindahan yang terus-menerus ini membuat otak bekerja tanpa jeda, meskipun tubuh tampak diam. Akibatnya, banyak orang merasa lelah bahkan sebelum menyelesaikan pekerjaan yang penting. Mereka tidak kehilangan energi karena kedalaman kerja, melainkan karena dangkalnya perhatian.
Ini berdampak pada hilangnya kemampuan khusyu‘. Dalam Islam, Khusyu‘ pada hakikatnya adalah keadaan ketika hati, pikiran, dan anggota badan tertuju kepada Allah tanpa terpecah oleh hal-hal lain. Namun budaya digital modern melatih manusia untuk melakukan kebalikannya. Notifikasi, media sosial, video pendek, dan arus informasi yang terus berganti membiasakan pikiran berpindah-pindah dengan cepat dari satu objek ke objek lain.
Akibatnya, ketika berdiri dalam shalat, banyak orang masih membawa kebiasaan mental yang sama, yakni tubuh berada di masjid, tetapi pikiran berkelana ke pekerjaan, pesan yang belum dibalas, atau informasi yang baru saja dilihat. Dengan kata lain, distraksi yang terus-menerus tidak hanya melemahkan produktivitas, tetapi juga melemahkan kemampuan jiwa untuk hadir sepenuhnya di hadapan Allah.
Masalah ini telah dibahas oleh para Ulama tazkiyatun nafs. Mereka menjelaskan bahwa hati yang terlalu sibuk dengan urusan dunia akan sulit mencapai khusyu‘ karena perhatian merupakan pintu masuk bagi hati. Ibn al-Qayyim menjelaskan bahwa kekhusyukan lahir dari hadirnya hati (hudhūr al-qalb), sedangkan hati yang dipenuhi berbagai kesibukan dan lintasan pikiran (khawathir) akan sulit merasakan kedekatan dengan Allah.
Penutup
Ketenangan hati adalah kekhusyu‘-an. Jalan ikhtiar menuju kekhusyu‘an diantaranya menyederhanakan perhatian, mengurangi hal-hal yang tidak bermanfaat, menjaga pikiran dari kebisingan yang berlebihan, memperbanyak dzikir, serta melatih diri untuk hadir secara utuh dalam setiap aktivitas.
Islam mengajarkan agar teknologi ditempatkan pada kedudukannya yang tepat. Teknologi untuk melayani tujuan hidup manusia, bukan manusia dikuasai teknologi dan informasi. Ketika makna hidup berakar pada penghambaan kepada Allah, manusia tidak lagi menjadi tawanan algoritma, tren, atau arus informasi yang terus berubah.




