
Oleh: Fatkhul Amin (Kepala KL Lazismu Adiwerna)
Ada satu kalimat yang hampir selalu muncul ketika membahas kesejahteraan guru dan ustadz:
” Harus ikhlas .”
Kalimat itu benar, bahkan sangat benar. Sebab pendidikan dan dakwah tidak akan pernah kokoh tanpa fondasi keikhlasan. Keikhlasan adalah ruh yang menguatkan langkah para guru dan ustaz dalam mendidik generasi.
Namun, pada sebagian keadaan, makna keikhlasan kerap dipahami secara kurang proporsional. Keikhlasan yang semestinya menjadi kekuatan batin, perlahan bergeser menjadi alasan untuk mengabaikan kesejahteraan mereka yang mengabdi.
Padahal, keikhlasan adalah urusan hati seseorang, sedangkan memperhatikan kesejahteraan para pendidik adalah tanggung jawab kita bersama.
Allah SWT berfirman
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللَّهُ عَمَلَكُمْ
> “Dan katakanlah: Bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian.” (QS. At-Taubah: 105)»
Di sisi lain, Islam juga mengajarkan agar setiap orang mendapatkan haknya secara layak. Rasulullah SAW bersabda:
«أَعْطُوا الْأَجِيرَ أَجْرَهُ قَبْلَ أَنْ يَجِفَّ عَرَقُهُ
> “Berikanlah upah pekerja sebelum kering keringatnya.” (HR. Ibnu Majah)»
Karena itu, *keikhlasan dan penghargaan bukanlah dua hal yang saling bertentangan. Justru keduanya harus berjalan beriringan*.
Guru dan ustadz tetap menjaga keikhlasan dalam perjuangannya, sementara masyarakat, orang tua, dan para pimpinan lembaga berkewajiban menghadirkan penghargaan yang layak atas pengabdian mereka.
Guru dan ustadz juga manusia. Mereka memiliki keluarga yang harus dinafkahi, kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, serta tanggung jawab yang tidak sedikit. Memenuhi hak mereka bukan berarti mengurangi nilai keikhlasan, tetapi merupakan bentuk penghormatan terhadap kemuliaan profesi yang mereka emban.
Pendidikan yang sehat tidak hanya dibangun oleh semangat pengorbanan, tetapi juga oleh budaya menghargai orang-orang yang mengabdikan tenaga, waktu, pikiran, dan doa demi lahirnya generasi yang berilmu dan berakhlak.
Sebab, terkadang yang paling melelahkan bukanlah perjuangannya, melainkan ketika pengorbanan dianggap sebagai sesuatu yang wajar tanpa pernah disertai penghargaan yang pantas.
Di sinilah peran kita semua.
Kepada para orang tua, mari kita tanamkan rasa hormat kepada guru, dukung setiap ikhtiar sekolah, dan jika Allah memberikan kelapangan rezeki, jangan ragu ikut berkontribusi dalam meningkatkan kesejahteraan para pendidik. Anak-anak kita belajar dari keteladanan kita dalam memuliakan guru.
Kepada para pimpinan, mari terus berikhtiar membangun sistem yang lebih baik. Keikhlasan para guru hendaknya tidak menjadi alasan untuk menunda perhatian terhadap kesejahteraan mereka. Sekecil apa pun bentuk penghargaan yang diberikan, akan menjadi energi besar untuk menjaga semangat pengabdian.
Pada akhirnya, yang perlu kita jaga adalah keseimbangan . Keikhlasan tetap hidup di hati para pejuang pendidikan, sementara penghargaan tumbuh dalam budaya masyarakat dan kebijakan para pemimpin. Ketika keduanya berjalan bersama, pendidikan tidak hanya bertahan karena pengorbanan, tetapi juga berkembang karena saling memuliakan.
Mereka tak pernah banyak meminta.
Namun, apakah kita hanya akan menutup mata?
Mereka memikul amanah yang begitu mulia.
Lalu, sudahkah kita menunaikan hak mereka dengan sebaik-baiknya?
Mari bersama memuliakan guru dan ustadz kita. Karena memuliakan mereka sejatinya adalah investasi untuk masa depan generasi dan peradaban .
#LazismuPeduliGuru




