Artikel
Trending

Kisah Ketegaran Ibunda Nabi Musa: Puncak Tawakal Saat Melepaskan yang Paling Dicintai

Kisah Wanita Mulia dalam Al-Quran

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursalin, wa ‘ala alihi wasahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah online rahimakumullah,

Dalam kehidupan kita saat ini, kecemasan adalah penyakit yang paling sering menghantui hati. Kita sering kali merasa khawatir tentang masa depan, cemas akan keselamatan anak-anak kita, atau takut kehilangan sesuatu yang sangat kita cintai, baik itu cita-cita, karir, maupun harta. Kita cenderung menggenggam erat apa yang kita miliki karena takut melepaskannya.

Namun, mari kita merenungkan sebuah peristiwa epik dalam Al-Qur’an tentang seorang ibu yang dipaksa oleh keadaan untuk melepaskan bayi yang baru saja dilahirkannya, bukan ke tempat yang aman, melainkan ke arus sungai yang deras. Beliau adalah ibunda Nabi Musa ‘Alaihissalam.

Kala itu, Mesir berada di bawah cengkeraman tiran Fir’aun yang mengeluarkan kebijakan kejam: setiap bayi laki-laki dari Bani Israil harus dibunuh. Di tengah teror yang mencekam tersebut, ibunda Musa melahirkan seorang bayi laki-laki. Secara logika manusia, menyembunyikan bayi yang menangis di dalam rumah terus-menerus adalah hal yang mustahil.

Di titik puncak keputusasaan inilah, Allah SWT memberikan panduan yang menguji batas maksimal keimanan seorang ibu. Allah berfirman dalam Surah Al-Qasas ayat 7:

 

وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ

 

“Dan Kami ilhamkan kepada ibu Musa; ‘Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.'” (QS. Al-Qasas: 7)

 

Ayat ini merangkum makna tawakal yang sesungguhnya. Tawakal bukanlah kepasrahan tanpa usaha. Perhatikan urutan perintah Allah: “Susuilah dia”. Ini adalah bentuk ikhtiar. Ibunda Musa memberikan nutrisi dan kasih sayang penuh, meletakkannya dalam peti yang dibuat dengan rapi, baru kemudian “jatuhkanlah dia ke sungai”. Melepaskan bayi ke Sungai Nil yang penuh buaya dan bermuara di istana Fir’aun terdengar seperti mengantarkan nyawa. Namun, karena itu adalah perintah Allah, ibunda Musa menekan rasa takutnya dan melepaskannya.

Pesan utama dari kisah ini sangatlah relevan. Terkadang, demi melindungi apa yang kita cintai, kita harus berani “melepaskannya” dalam ketaatan dan menyerahkannya kepada penjagaan Allah.

Sebagai contoh nyata dalam kehidupan sehari-hari; bagi para orang tua, ada saatnya kita harus melepaskan anak-anak kita merantau untuk menuntut ilmu di pesantren atau perguruan tinggi. Di era sekarang, lingkungan di luar sana bagaikan “Sungai Nil” yang arusnya deras dengan berbagai fitnah pergaulan dan ideologi yang merusak. Tugas kita adalah menyusui mereka—membekali mereka dengan akidah dan akhlak sedari kecil—lalu melepaskan mereka dengan doa, yakin bahwa penjagaan Allah jauh lebih hebat dari penjagaan kita.

Bagi rekan-rekan pelajar dan pemuda, kisah ini mengajarkan kita tentang melepaskan hasil dari ikhtiar kita. Kalian belajar keras untuk ujian, berusaha mencari pekerjaan, atau berusaha hijrah meninggalkan lingkungan pertemanan yang buruk. Saat kalian merasa takut gagal atau takut merasa sendirian, ingatlah janji Allah kepada ibunda Musa: “Jangan khawatir dan jangan bersedih.” Lakukan bagian kita sebaik mungkin, lalu lepaskan hasilnya ke “sungai” takdir Allah. Yakinlah, Allah akan mengembalikan kebaikan itu kepada kita dalam bentuk yang jauh lebih indah.

Kisah ibunda Musa membuktikan bahwa sesuatu yang dititipkan kepada Allah tidak akan pernah hilang. Mari kita belajar melepaskan rasa cemas yang berlebihan. Mari kita bangun ikhtiar yang maksimal, lalu sempurnakan dengan tawakal yang total.

Mari kita berdoa memohon kekuatan hati kepada Allah:

Ya Allah, karuniakanlah kepada kami keyakinan sebagaimana Engkau tanamkan keyakinan di hati ibunda Musa. Jadikanlah kami hamba-hamba-Mu yang mampu berikhtiar dengan maksimal, dan berpasrah dengan total. Lindungilah keluarga, anak-anak, dan masa depan kami dari segala fitnah. Wahai Dzat Yang Maha Menjaga, titipkanlah ketenangan di dalam hati kami saat menghadapi kerasnya arus kehidupan dunia ini.

Rabbana atina fiddunya hasanah, wafil akhirati hasanah, waqina ‘adzabannar.

Nasrum minallah wa fathun qariib, wabasyiril mu’minin.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button