AkhlaqAqidahArtikel
Trending

Maryam binti Imran: Teladan Kesucian dan Keteguhan Hati Sepanjang Zaman

Kisah Wanita Mulia dalam Al-Quran

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Alhamdulillahirabbil ‘alamin, washalatu wassalamu ‘ala asyrafil anbiyai wal mursalin, wa ‘ala alihi wasahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin jamaah online rahimakumullah

Di era modern yang serba digital ini, kita sering kali melihat fenomena orang-orang yang berlomba-lomba mencari popularitas. Banyak yang rela melakukan apa saja demi mendapatkan likes, pengakuan, atau sekadar ingin namanya dikenal secara luas dan viral. Namun, pernahkah kita merenung, siapakah sosok yang namanya paling abadi?

Hari ini, mari kita menengok sebuah kisah agung dalam Al-Qur’an tentang seorang perempuan yang justru memilih untuk menjauh dari keramaian dunia, mengasingkan diri di dalam mihrab untuk beribadah, dan menjaga kesuciannya dengan sangat ketat. Ia tidak mencari popularitas, namun Allah SWT justru mengabadikan namanya bukan hanya dalam lembaran sejarah, tetapi sebagai nama sebuah surah dalam Al-Qur’an. Beliau adalah Maryam binti Imran.

Maryam adalah potret wanita suci yang dididik dalam ketaatan sejak dalam kandungan. Ibunya bernazar agar kelak anaknya menjadi pelayan rumah Allah, dan pamannya, Nabi Zakariya, mengasuhnya dengan penuh kelembutan iman. Allah SWT memberikan kedudukan yang sangat istimewa kepada Maryam, sebagaimana firman-Nya dalam Surah Ali ‘Imran ayat 42:

 

وَإِذْ قَالَتِ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ يَٰمَرْيَمُ إِنَّ ٱللَّهَ ٱصْطَفَىٰكِ وَطَهَّرَكِ وَٱصْطَفَىٰكِ عَلَىٰ نِسَآءِ ٱلْعَٰلَمِينَ

 

“Dan (ingatlah) ketika Malaikat (Jibril) berkata: ‘Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, mensucikan kamu dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu).'” (QS. Ali ‘Imran: 42)

Ayat ini menegaskan dua hal utama: Ishthafaki (Allah memilihmu) dan Thahharaki (Allah mensucikanmu). Maryam dipilih bukan karena kekayaannya, bukan karena jabatannya, melainkan karena ketaatannya yang mutlak dan kemampuannya menjaga kehormatan diri (‘iffah) di tengah godaan dan ujian yang luar biasa berat.

Pesan utama dari kisah Maryam ini sangat praktis untuk kita terapkan. Maryam diuji dengan ujian yang tidak pernah dialami oleh manusia mana pun: mengandung tanpa seorang suami atas kehendak Allah. Bayangkan tekanan sosial yang ia hadapi. Tuduhan, fitnah, dan cemoohan dari masyarakat sekitarnya pasti sangat menyayat hati. Namun, apa yang dilakukan Maryam? Ia berpuasa bicara, ia menyerahkan sepenuhnya pembelaan dirinya kepada Allah SWT. Keteguhan hatinya membuktikan bahwa ketika kita berada di jalan yang benar, pembelaan Allah pasti akan datang.

Dalam kehidupan sehari-hari, kisah Maryam ini adalah cermin bagi kita semua, khususnya bagi para pemuda dan pelajar. Di tengah pergaulan zaman sekarang yang sering kali bebas dan hilangnya batasan-batasan moral, menjaga kesucian diri dan pandangan adalah sebuah tantangan besar. Terkadang, ketika seorang pemuda atau pemudi mencoba hijrah, menjaga batas pergaulan, atau menjauhi hal-hal yang tidak bermanfaat, mereka justru dianggap aneh, dikucilkan, atau di- bully oleh lingkungannya.

Jika rekan-rekan mengalami hal ini, ingatlah Maryam. Ketika kita difitnah atau dijauhi karena mempertahankan syariat, bersabarlah. Cukuplah Allah sebagai pelindung. Bagi para orang tua, kisah ini juga menjadi pengingat pentingnya menciptakan “mihrab” atau lingkungan yang baik di dalam rumah tangga kita, sebagaimana keluarga Imran mendidik Maryam, agar kelak lahir generasi-generasi suci yang tangguh imannya.

Sebagai penutup, mari kita meneladani kesucian jiwa, kemurnian niat, dan keteguhan iman Maryam binti Imran. Jangan pernah menggadaikan kehormatan dan iman kita hanya demi penerimaan manusia. Jadilah seperti Maryam, yang diam dalam ketaatan, namun namanya bergema di langit dan diabadikan oleh Allah di bumi.

Mari kita berdoa bersama, memohon kepada Allah agar kita dan keturunan kita senantiasa dijaga dari segala fitnah akhir zaman.

Rabbana atina fiddunya hasanah wa fil akhiroti hasanah waqina ‘adzabannar. Ya Allah, karuniakanlah kepada kami dan generasi penerus kami keteguhan iman, kesucian hati, dan kesabaran dalam ketaatan, sebagaimana Engkau telah menjaga hamba-Mu, Maryam.

Aqulu qawli hadza, wastaghfirullaha li walakum.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

 

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button