ArtikelDinamika PesyarikatanTokohTuntunan

Dari Anti-TBC Hingga KHGT

Kontinuitas Tajdid dan Islam Berkemajuan dalam Sejarah Gerakan Muhammadiyah

Rabu Wage, 5 Agustus 2026 22 Safar 1448 H


Pendahuluan

Sejak kecil di sebuah desa di Kabupaten Brebes, penulis memahami gerakan Muhammadiyah terutama melalui pengajian-pengajian tentang pemberantasan takhayul, bid‘ah, dan khurafat. Muhammadiyah hadir dalam kesadaran masyarakat sebagai gerakan yang mengoreksi praktik keagamaan yang dianggap tidak memiliki landasan kuat dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Karena tema inilah yang paling sering terdengar, Muhammadiyah kemudian mudah dipersepsikan seolah-olah identik dengan gerakan “anti-TBC”.

Pengalaman tersebut dapat dipandang sebagai suatu bentuk memori sosial lokal. Masyarakat tidak selalu mengenal sebuah organisasi melalui keseluruhan dokumen ideologis dan sejarahnya, melainkan melalui pesan yang paling sering disampaikan oleh mubalig, guru agama, keluarga, dan tokoh setempat. Oleh sebab itu, citra Muhammadiyah di suatu daerah dapat lebih sempit daripada cakupan historis gerakannya.

Pemurnian ajaran Islam memang merupakan bagian penting dari Muhammadiyah. Namun, menempatkan pemberantasan TBC sebagai keseluruhan identitas Muhammadiyah akan mereduksi gerakan yang sejak awal juga bergerak dalam bidang pendidikan, pelayanan sosial, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, ilmu pengetahuan, dan pembentukan pranata modern. Dalam konsep resmi Muhammadiyah, tajdid mencakup dua wilayah: purifikasi dalam persoalan akidah dan ibadah serta pembaruan atau dinamisasi dalam wilayah muamalah duniawiah. (Muhammadiyah)

Kajian Ahmad Najib Burhani bahkan menunjukkan bahwa kecenderungan puritan yang lebih kuat dalam Muhammadiyah berkembang melalui proses historis, terutama sejak dekade 1930-an. Muhammadiyah pada periode awal tidak dapat begitu saja digambarkan sebagai gerakan yang sepenuhnya konfrontatif terhadap kebudayaan lokal. (eJournal BRIN) Penjelasan resmi Muhammadiyah juga menyebut bahwa istilah dan semangat anti-TBC baru terdengar lebih kuat setelah sekitar 1927, sedangkan corak dakwah Ahmad Dahlan sebelumnya lebih moderat, kontekstual, dan tidak selalu menggunakan pendekatan konfrontatif. (Muhammadiyah)

Dengan demikian, perjalanan pemahaman dari Muhammadiyah sebagai gerakan anti-TBC menuju pengenalan terhadap pembetulan arah kiblat, pendidikan modern, pelayanan sosial, dan akhirnya KHGT bukan sekadar perubahan pengetahuan personal. Perjalanan tersebut mencerminkan kebutuhan untuk membaca kembali Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid dan Islam Berkemajuan secara lebih utuh.

Perjalanan dari anti-TBC menuju pembetulan arah kiblat, pendidikan modern, pelayanan sosial, dan KHGT mencerminkan kebutuhan untuk membaca Muhammadiyah sebagai gerakan tajdid secara lebih utuh.

Anti-TBC sebagai Bagian, Bukan Keseluruhan Muhammadiyah

Gerakan pemberantasan takhayul, bid‘ah, dan khurafat memiliki dasar penting dalam usaha Muhammadiyah untuk meneguhkan tauhid serta mengembalikan praktik keagamaan kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Gerakan tersebut diperlukan ketika kepercayaan-kepercayaan tertentu mengaburkan hubungan langsung manusia dengan Allah, menumbuhkan ketakutan irasional, atau membebani masyarakat dengan praktik yang tidak memiliki dasar keagamaan yang memadai.

Namun, masalah muncul ketika tajdid hanya diartikan sebagai kegiatan mencari kesalahan ritual masyarakat. Penyempitan seperti ini dapat menyebabkan Muhammadiyah dipahami hanya melalui daftar larangan: tidak melakukan ini, menolak itu, membid‘ahkan praktik tertentu, atau mengoreksi tradisi kelompok lain. Padahal, tajdid Ahmad Dahlan pada mulanya lebih banyak ditampilkan melalui tindakan kreatif, kelembagaan, pendidikan, dan penyelesaian persoalan sosial.

Haedar Nashir menyebut penggambaran Muhammadiyah semata-mata sebagai gerakan pemurnian sebagai bentuk penyempitan sejarah. Menurutnya, tajdid Ahmad Dahlan mempunyai cakupan pencerahan yang lebih luas, sedangkan penekanan berlebihan terhadap anti-TBC berkembang lebih kuat pada masa sesudah Ahmad Dahlan. (Muhammadiyah)

Temuan tersebut tidak berarti bahwa purifikasi harus ditinggalkan. Purifikasi tetap diperlukan dalam bidang akidah dan ibadah. Akan tetapi, purifikasi harus ditempatkan berdampingan dengan dinamisasi. Muhammadiyah bukan hanya membersihkan sesuatu yang dianggap menyimpang, melainkan juga membangun penggantinya dalam bentuk yang lebih maslahat. Kritik terhadap takhayul harus disertai peningkatan literasi. Kritik terhadap kemiskinan harus disertai pemberdayaan. Kritik terhadap keterbelakangan harus disertai pendidikan. Kritik terhadap ketidaktepatan praktik ibadah harus disertai penelitian ilmiah dan penyediaan instrumen yang lebih akurat.

Dengan pengertian tersebut, tajdid bukan sekadar aktivitas negatif berupa penolakan, melainkan kerja konstruktif untuk menghasilkan kebudayaan, ilmu pengetahuan, lembaga, dan tata kehidupan baru.

Tajdid bukan sekadar aktivitas negatif berupa penolakan, melainkan kerja konstruktif untuk menghasilkan kebudayaan, ilmu pengetahuan, lembaga, dan tata kehidupan baru.

Pembetulan Arah Kiblat sebagai Tajdid Epistemologis

Salah satu peristiwa penting dalam sejarah Ahmad Dahlan adalah upayanya meluruskan arah kiblat. Pada masa itu, sebagian masyarakat menganggap bahwa menghadap ke arah barat sudah mencukupi untuk salat. Ahmad Dahlan menggunakan pengetahuan ilmu falak dan pendekatan astronomi untuk menunjukkan bahwa arah Kakbah dari Yogyakarta tidak tepat berada di sebelah barat, melainkan harus disesuaikan berdasarkan posisi geografis Makkah.

Penelitian Sakirman menunjukkan bahwa pembetulan arah kiblat oleh Ahmad Dahlan menggunakan pendekatan ilmiah dan astronomi modern. Ahmad Dahlan berusaha menjelaskan bahwa arah Masjid Gedhe Kauman belum tepat menghadap posisi Kakbah, meskipun gagasan tersebut pada mulanya tidak sepenuhnya diterima masyarakat. (E-Journal Metrouniv)

Peristiwa ini penting bukan hanya karena menyangkut perubahan beberapa derajat arah bangunan masjid. Di baliknya terdapat perubahan cara memperoleh dan memvalidasi pengetahuan keagamaan. Ahmad Dahlan tidak mempertentangkan wahyu dengan ilmu pengetahuan. Perintah menghadap Kakbah berasal dari ajaran agama, tetapi penentuan azimut Kakbah membutuhkan observasi, geografi, matematika, dan astronomi.

Perintah menghadap Kakbah berasal dari ajaran agama, tetapi penentuan azimut Kakbah membutuhkan observasi, geografi, matematika, dan astronomi.

Dengan demikian, pembetulan arah kiblat merupakan tajdid epistemologis, yakni pembaruan terhadap cara umat memahami dan menjalankan ketentuan agama. Kesalehan tidak cukup hanya ditopang oleh niat baik dan kebiasaan turun-temurun. Kesalehan juga membutuhkan ketepatan pengetahuan dan kesediaan mengoreksi praktik berdasarkan bukti yang lebih kuat.

Sikap Ahmad Dahlan tersebut memperlihatkan beberapa karakter dasar tajdid Muhammadiyah:

  • berpegang teguh pada tujuan syariat;
  • terbuka terhadap temuan ilmu pengetahuan;
  • berani mengoreksi kebiasaan yang telah mapan;
  • menggunakan argumentasi rasional;
  • mengutamakan substansi ibadah daripada gengsi sosial;
  • mengubah pengetahuan menjadi tindakan nyata.

Karakter inilah yang kemudian menjadi salah satu fondasi penting gerakan Muhammadiyah. Tajdid tidak dimaksudkan untuk mengubah agama agar tunduk kepada modernitas, tetapi menggunakan perangkat ilmu pengetahuan modern agar pelaksanaan agama menjadi semakin tepat, maslahat, dan dapat dipertanggungjawabkan.

Pendidikan Modern dan Teologi Al-Ma‘un

Spirit pembaruan Ahmad Dahlan tidak berhenti pada pembetulan arah kiblat. Ia juga membangun model pendidikan yang mempertemukan ilmu agama dengan pengetahuan umum. Fanani menunjukkan bahwa Ahmad Dahlan melakukan terobosan dengan memasukkan pelajaran agama ke dalam pendidikan umum dan, sebaliknya, memasukkan pelajaran umum ke dalam pendidikan keagamaan. Pembaruan tersebut meliputi kurikulum, metode pembelajaran, dan bentuk kelembagaan sekolah.

Kajian Yasuko Kobayashi menempatkan pembaruan pendidikan sebagai bagian mendasar dari pembentukan Muhammadiyah. Ahmad Dahlan mulai memperbarui pendidikan keagamaan sekitar 1908 dan mengembangkan madrasah dengan sistem modern agar umat Islam mampu menyesuaikan diri dengan perubahan zaman. (J-STAGE)

Pendidikan tersebut memperlihatkan bahwa Islam Berkemajuan tidak dibangun melalui dikotomi antara “ilmu agama” dan “ilmu dunia”. Agama memberikan orientasi etik dan tujuan, sedangkan ilmu pengetahuan menyediakan instrumen untuk memahami alam serta menyelesaikan masalah kehidupan. Seorang muslim tidak cukup hanya mampu membaca teks keagamaan, tetapi juga harus mampu membaca realitas.

Corak yang sama tampak dalam pengajaran Surah al-Ma‘un. Ahmad Dahlan tidak membiarkan murid-muridnya berhenti pada hafalan dan penjelasan verbal. Mereka diminta mengamalkan kandungan ayat dengan membantu fakir miskin, anak yatim, dan orang-orang yang mengalami kesulitan. Dari praksis tersebut kemudian tumbuh gerakan pelayanan sosial, klinik, panti asuhan, dan Penolong Kesengsaraan Oemoem. (Muhammadiyah)

Di sini terlihat bahwa pembaruan Muhammadiyah tidak hanya bersifat intelektual, tetapi juga institusional. Ayat Al-Qur’an tidak berhenti sebagai materi ceramah, melainkan diubah menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, organisasi perempuan, pelayanan kebencanaan, dan beragam amal usaha.

Ayat Al-Qur’an tidak berhenti sebagai materi ceramah, melainkan diubah menjadi sekolah, rumah sakit, panti asuhan, organisasi perempuan, pelayanan kebencanaan, dan beragam amal usaha.

Suswandari menempatkan pembaruan pendidikan Ahmad Dahlan sebagai usaha membentuk masyarakat yang lebih realistis, demokratis, dan terbebas dari struktur sosial yang feodal. (Ejournal UPI) Adapun kajian Arifin, Mughni, dan Nurhakim memperlihatkan bahwa gagasan kemajuan dalam Muhammadiyah merupakan respons keagamaan terhadap persoalan sosial, politik, dan ekonomi masyarakat Indonesia pada masa kolonial. Ajaran al-Ma‘un dan al-‘Ashr kemudian menjadi inspirasi bagi pengembangan pendidikan, kesehatan, filantropi, ekonomi, dan aksi kemanusiaan. (Al-Jami’ah)

Karena itu, Islam Berkemajuan bukan slogan yang ditempelkan belakangan pada Muhammadiyah. Ia berakar pada cara Ahmad Dahlan membaca wahyu secara transformatif: memahami ayat, menemukan persoalan nyata, menguasai pengetahuan yang relevan, kemudian membangun institusi untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

KHGT sebagai Tajdid Astronomis dan Digital

Dalam perkembangan kontemporer, salah satu agenda penting Muhammadiyah adalah Kalender Hijriah Global Tunggal. KHGT diarahkan untuk mewujudkan prinsip satu hari dan satu tanggal bagi umat Islam di seluruh dunia. Gagasan ini dibangun di atas dua pilar, yaitu argumentasi syar‘i dan bukti ilmiah yang bersumber dari ilmu falak. (Kampus Khgt Muhammadiyah)

KHGT tidak lahir dalam ruang kosong. Ia berhubungan dengan persoalan lama dalam peradaban Islam, yaitu belum adanya kalender Hijriah global yang dapat menjalankan fungsi penjadwalan ibadah dan kehidupan sipil secara terpadu. Perbedaan awal bulan masih sering diketahui mendekati waktu pelaksanaan, bahkan dapat menghasilkan tanggal Hijriah yang berbeda antarkawasan.

Dalam perspektif sejarah Muhammadiyah, KHGT dapat dibaca sebagai kelanjutan dari tradisi pembetulan arah kiblat Ahmad Dahlan. Keduanya memiliki struktur epistemologis yang serupa.

Pembetulan arah kiblat Pengembangan KHGT
Berangkat dari ketentuan syariat Berangkat dari kebutuhan penanggalan Islam
Menggunakan ilmu falak dan geografi Menggunakan astronomi, matematika, dan geodesi
Mengoreksi kebiasaan lama berdasarkan perhitungan Mengoreksi sistem kalender lokal dan fragmentaris
Menghadapi resistensi masyarakat Menghadapi perbedaan metode dan otoritas
Bertujuan meningkatkan ketepatan ibadah Bertujuan membangun kesatuan tanggal Hijriah
Memerlukan alat bantu ilmiah Memerlukan komputasi dan perangkat lunak

Tokoh Majelis Tarjih dan Tajdid, Hamim Ilyas, secara eksplisit menghubungkan KHGT dengan tradisi pembaruan Ahmad Dahlan, terutama pelurusan arah kiblat. Menurutnya, KHGT bukan hanya instrumen penyatuan awal bulan, tetapi juga simbol keberlanjutan pembaruan Islam dalam Muhammadiyah. (Muhammadiyah)

Dalam konteks inilah keterlibatan penulis sejak sekitar 2025 dalam tim pengembang perangkat lunak KHGT memperoleh makna yang lebih luas. Keterlibatan tersebut bukan terutama penting sebagai perjalanan pribadi, melainkan sebagai ilustrasi bagaimana tajdid diwariskan dan diterjemahkan dalam bentuk baru. Pada masa Ahmad Dahlan, alat pembaruan dapat berupa peta, globe, tabel astronomi, ruang kelas, papan tulis, dan organisasi modern. Pada masa sekarang, alat pembaruan juga berupa algoritma, efemeris digital, basis data astronomi, antarmuka perangkat lunak, pemetaan global, serta sistem komputasi.

Perangkat lunak dalam kerangka ini bukan sekadar produk teknis. Ia dapat disebut sebagai infrastruktur ijtihad digital, yaitu sarana untuk:

Perangkat lunak bukan sekadar produk teknis, melainkan dapat menjadi infrastruktur ijtihad digital yang menghubungkan kriteria keagamaan dengan data ilmiah yang terukur.

  1. menerjemahkan kriteria fikih dan astronomi ke dalam prosedur komputasi;
  2. menghitung posisi Matahari dan Bulan secara konsisten;
  3. menguji penerapan kriteria pada berbagai wilayah bumi;
  4. menyajikan hasil ilmiah secara terbuka dan dapat diperiksa;
  5. membantu sosialisasi kalender kepada masyarakat;
  6. mengurangi kesalahan perhitungan manual;
  7. menghubungkan keputusan keagamaan dengan data ilmiah yang terukur.

Tentu saja perangkat lunak tidak menggantikan ulama, musyawarah, atau metodologi tarjih. Perangkat lunak menjalankan fungsi instrumental: memperluas kemampuan manusia untuk menghitung, membandingkan, memvisualisasikan, dan mengevaluasi data. Keputusan keagamaan tetap membutuhkan integrasi antara dalil, metode ijtihad, kemaslahatan, dan pengetahuan ilmiah.

Dari Tajdid Reaktif Menuju Tajdid Produktif

Pembacaan historis tersebut menunjukkan perlunya perubahan orientasi dakwah Muhammadiyah. Gerakan anti-TBC tetap memiliki tempat, tetapi tidak boleh menjadi satu-satunya wajah tajdid. Muhammadiyah perlu bergerak dari tajdid yang hanya tampak reaktif menuju tajdid yang semakin produktif.

Muhammadiyah perlu bergerak dari tajdid yang hanya tampak reaktif menuju tajdid yang semakin produktif.

Tajdid reaktif lebih banyak bertanya: praktik mana yang keliru, tradisi mana yang harus ditolak, atau ibadah siapa yang perlu dikoreksi. Tajdid produktif melangkah lebih jauh dengan bertanya: sekolah seperti apa yang harus dibangun, teknologi apa yang dibutuhkan umat, bagaimana mengatasi kemiskinan, bagaimana mengembangkan energi bersih, bagaimana membangun kalender Islam global, dan bagaimana ilmu pengetahuan diarahkan untuk kemaslahatan.

Orientasi tersebut sejalan dengan konsep resmi Islam Berkemajuan. Muhammadiyah memandang dakwah dan tajdid sebagai jalan perubahan untuk mewujudkan kemajuan hidup manusia. Islam Berkemajuan tidak berhenti pada peneguhan akidah, ibadah, dan akhlak, tetapi juga mengembangkan ijtihad dalam menghadapi persoalan modern yang kompleks. (Muhammadiyah)

Dengan demikian, narasi sejarah Muhammadiyah perlu disampaikan secara lebih lengkap kepada generasi muda. Mereka perlu mengetahui bahwa Muhammadiyah:

  • tidak hanya mengoreksi ritual, tetapi juga mengoreksi arah kiblat dengan astronomi;
  • tidak hanya menolak takhayul, tetapi juga membangun budaya ilmiah;
  • tidak hanya mengkritik keterbelakangan, tetapi mendirikan sekolah;
  • tidak hanya mengajarkan al-Ma‘un, tetapi mendirikan lembaga pelayanan sosial;
  • tidak hanya membahas awal bulan, tetapi berusaha membangun kalender Islam global;
  • tidak hanya menggunakan teknologi, tetapi juga dapat menciptakan teknologi untuk kepentingan umat.

Dari sini tampak bahwa kemajuan bukan tambahan eksternal bagi Muhammadiyah. Kemajuan merupakan cara mengaktualisasikan ajaran Islam dalam perubahan zaman.

Kesimpulan

Pengalaman mengenal Muhammadiyah di sebuah desa di Kabupaten Brebes melalui pengajian anti-TBC menggambarkan bagaimana suatu gerakan besar dapat diterima masyarakat dalam bentuk yang lebih sederhana dan terbatas. Pemahaman tersebut memiliki dasar karena purifikasi merupakan bagian dari tajdid Muhammadiyah. Namun, purifikasi bukan keseluruhan Muhammadiyah.

Sejarah Ahmad Dahlan menunjukkan bahwa tajdid sejak awal diwujudkan melalui keberanian mengintegrasikan agama dengan rasionalitas, ilmu pengetahuan, pendidikan, dan tindakan sosial. Pembetulan arah kiblat memperlihatkan penggunaan astronomi untuk meningkatkan ketepatan ibadah. Pembaruan sekolah mempertemukan ilmu agama dan ilmu umum. Pengajaran al-Ma‘un melahirkan pelayanan sosial yang terlembagakan.

Dalam kesinambungan sejarah tersebut, KHGT dan pengembangan perangkat lunaknya dapat dipahami sebagai manifestasi kontemporer Islam Berkemajuan. Dari pembetulan arah masjid menuju penyatuan kalender umat terdapat satu garis tajdid yang sama: kesetiaan kepada ajaran Islam, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, keberanian mengoreksi kebiasaan, dan kesungguhan membangun sistem baru yang lebih maslahat.

Oleh sebab itu, persoalan utamanya bukan perjalanan seseorang dari desa di Brebes hingga menjadi bagian dari pengembangan perangkat lunak KHGT. Hal yang lebih penting adalah perjalanan gagasan Muhammadiyah itu sendiri—dari tajdid yang kadang dipersempit sebagai anti-TBC menuju tajdid peradaban yang melibatkan pendidikan, astronomi, organisasi, teknologi, dan kerja kemanusiaan. Inilah gerak Muhammadiyah yang berusaha menjadikan Islam bukan hanya benar dalam keyakinan, tetapi juga maju, mencerahkan, dan menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan.

Inilah gerak Muhammadiyah yang berusaha menjadikan Islam bukan hanya benar dalam keyakinan, tetapi juga maju, mencerahkan, dan menghadirkan kemaslahatan dalam kehidupan.

Daftar Pustaka

Arifin, Syamsul, Syafiq A. Mughni, dan Moh Nurhakim. 2022. “The Idea of Progress: Meaning and Implications of Islam Berkemajuan in Muhammadiyah.” Al-Jami‘ah: Journal of Islamic Studies, 60(2), 547–584. DOI: 10.14421/ajis.2022.602.547-584. (Al-Jami’ah)

Burhani, Ahmad Najib. 2006. “The Ideological Shift of Muhammadiyah from Cultural into Puritanical Tendency in 1930s.” Jurnal Masyarakat dan Budaya, 8(1), 1–22. DOI: 10.14203/jmb.v8i1.178. (eJournal BRIN)

Fanani, Ahwan. 2019. “Ahmad Dahlan’s Perspective on the Model of Modern Integration of Islamic Education.” Nadwa: Jurnal Pendidikan Islam, 13(1). DOI: 10.21580/nw.2019.1.1.3624.

Kobayashi, Yasuko. 2026. “Ahmad Dahlan Revisited: The Ideals and Organizational Structure of Muhammadiyah.” Japanese Journal of Southeast Asian Studies, 63(2), 155–188. DOI: 10.20495/tak.25005. (J-STAGE)

Sakirman. 2012. “KH. Ahmad Dahlan dan Gerakan Pelurusan Arah Kiblat di Indonesia.” Akademika: Jurnal Pemikiran Islam, 17(2). (E-Journal Metrouniv)

Suswandari. 2010. “K.H. Ahmad Dahlan’s Thought and His Struggle for the Abolition of Feudalism through Reformation of Islamic Education.” Historia: Jurnal Pendidik dan Peneliti Sejarah, 11(1). DOI: 10.17509/historia.v11i1.12132. (Ejournal UPI)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. “Islam Berkemajuan”; “Muhammadiyah sebagai Gerakan Tajdid”; dan “Sejarah Muhammadiyah.” (Muhammadiyah)

Pimpinan Pusat Muhammadiyah. 2025. “Kalender Hijriah Global Tunggal sebagai Wujud Pembaharuan Islam” dan portal resmi KHGT. (Muhammadiyah)

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Check Also
Close
Back to top button