ArtikelTuntunan

Ketika Langit Menjadi Jam: Keindahan Diksi Ḥusbān dan Ḥisāb dalam Al-Qur’an

Keindahan Linguistik QS. Al-An‘ām [6]: 96, Ar-Raḥmān [55]: 5, Yunus [10]: 5:

Ahad Kliwon, 20 September 2026 9 Rabiulakhir 1448 H


Sejak masa paling awal peradaban, manusia menengadah ke langit bukan hanya untuk mengagumi keindahannya. Matahari memberi ritme siang, bulan menghadirkan perubahan fase, dan dari keteraturan itu manusia mengenali hari, bulan, musim, serta tahun. Al-Qur’an berbicara tentang fenomena tersebut dengan diksi yang sangat ringkas tetapi kaya makna. Tiga ayat—QS. Al-An‘ām [6]: 96, QS. Ar-Raḥmān [55]: 5, dan QS. Yūnus [10]: 5—membentuk suatu jejaring makna yang menarik antara matahari, bulan, keteraturan, manzilah, bilangan tahun, dan perhitungan.

Yang membuat ketiganya menonjol bukan semata-mata karena menyebut dua benda langit yang sama, melainkan karena Al-Qur’an memilih bentuk kata yang saling berhubungan: حُسْبَانًا, بِحُسْبَانٍ, dan الْحِسَابَ. Ketiganya bertemu pada akar bahasa Arab ح ـ س ـ ب, yaitu medan makna yang berhubungan dengan menghitung, memperhitungkan, menentukan, dan melakukan kalkulasi. Dari sini, bahasa ayat bergerak dari fenomena langit menuju suatu gagasan yang sangat mendasar: alam dapat diamati karena memiliki keteraturan yang dapat diperhitungkan.

Keindahan diksi ketiga ayat ini terletak pada kemampuannya menghubungkan langit dengan angka: gerak menjadi pola, pola menjadi ukuran, dan ukuran menjadi dasar perhitungan waktu.

1. QS. Al-An‘ām [6]: 96 — Matahari dan Bulan sebagai Dasar Perhitungan

فَالِقُ الْإِصْبَاحِ وَجَعَلَ اللَّيْلَ سَكَنًا وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا ۚ ذَٰلِكَ تَقْدِيرُ الْعَزِيزِ الْعَلِيمِ

“Dia menyingsingkan pagi, menjadikan malam sebagai waktu ketenangan, serta menjadikan matahari dan bulan sebagai sarana perhitungan. Itulah ketetapan Yang Mahaperkasa lagi Maha Mengetahui.” QS. Al-An‘ām [6]: 96.

Ḥusbānan: Diksi yang Membawa Langit ke Dunia Angka

Kata penting dalam ayat ini adalah حُسْبَانًا — ḥusbānan. Dalam analisis tata bahasa Qur’ani, bentuk ini merupakan nomina manshūb. Struktur ayat menghubungkan al-shamsa wa al-qamara dengan verba ja‘ala, sementara ḥusbānan berada dalam konstruksi yang sejajar dengan sakanan. Dengan demikian, ayat membentuk keseimbangan semantik yang indah: malam dikaitkan dengan ketenangan, sedangkan matahari dan bulan dikaitkan dengan perhitungan. Analisis gramatikal ini dapat dilihat pada Quranic Arabic Corpus, QS. 6:96.

Di penghujung ayat muncul kata lain yang memperkuat kesan keteraturan, yaitu تَقْدِير — taqdīr. Kata ini membawa nuansa penentuan, ukuran, dan ketetapan. Maka satu ayat menghadirkan dua gagasan yang saling bertaut: ḥusbān sebagai keterhitungan dan taqdīr sebagai ketetapan atau ukuran. Secara retoris, ini membuat ayat terasa seperti bergerak dari pengalaman manusia—menghitung waktu—menuju prinsip yang lebih besar tentang keteraturan ciptaan.

Bukan Sekadar “Ada”, tetapi Dapat Dijadikan Acuan

Ayat tersebut tidak berhenti pada pernyataan bahwa matahari dan bulan adalah ciptaan Allah. Keduanya diletakkan dalam relasi dengan aktivitas intelektual manusia: pengukuran dan perhitungan. Dalam kehidupan nyata, manusia memang membangun penanggalan dari fenomena berulang di langit. Gerak semu harian Matahari membantu manusia mengenali waktu siang, sedangkan perubahan fase Bulan menjadi salah satu acuan paling mudah diamati untuk mengenali perjalanan bulan qamariyah.

Frasa وَالشَّمْسَ وَالْقَمَرَ حُسْبَانًا menempatkan Matahari dan Bulan bukan hanya sebagai objek pandang, tetapi sebagai bagian dari keteraturan yang memungkinkan manusia menghitung waktu.

2. QS. Ar-Raḥmān [55]: 5 — Ringkas, tetapi Sangat Padat Makna

الشَّمْسُ وَالْقَمَرُ بِحُسْبَانٍ

“Matahari dan bulan beredar menurut perhitungan.” QS. Ar-Raḥmān [55]: 5.

Keindahan Huruf Bā’ dalam بِحُسْبَانٍ

Pada ayat ini, Al-Qur’an tidak menggunakan ḥusbānan, tetapi بِحُسْبَانٍ — biḥusbānin. Quranic Arabic Corpus menganalisis bentuk ini sebagai gabungan preposisi بِـ — bi dan nomina حُسْبَان yang berakar ح س ب. Secara gramatikal, konstruksinya adalah jār wa majrūr. Lihat analisis morfologi QS. Ar-Raḥmān 55:5.

Tambahan huruf bā’ membuat nuansa ayat sangat menarik. Jika QS. Al-An‘ām menonjolkan matahari dan bulan dalam hubungan dengan fungsi perhitungan, QS. Ar-Raḥmān mengungkapkan bahwa keduanya berlangsung biḥusbān—dengan atau menurut perhitungan. Artinya, bukan hanya hasil pengamatan manusia yang dapat dihitung; sistem geraknya sendiri memperlihatkan keteraturan yang membuat penghitungan itu mungkin.

Ayat ini juga merupakan contoh kekuatan ījāz, yakni kepadatan ungkapan. Hanya dengan tiga unsur utama—matahari, bulan, dan biḥusbān—terbuka sebuah cakrawala makna tentang keteraturan kosmik. Al-Qur’an tidak memberikan tabel efemeris atau persamaan orbit; ia menunjuk prinsip yang lebih mendasar: langit mempunyai pola yang dapat dikenali.

1 2 3Laman berikutnya

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button