ArtikelTuntunan

Bentuk Pengembangan Dakwah di Era Digital

Memadukan Pendekatan Kultural dan Teknologi untuk Memperdalam Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis

Ahad Kliwon, 20 September 2026 9 Rabiulakhir 1448 H


Dakwah tumbuh melalui ikhtiar untuk menghadirkan ajaran Islam secara bermakna dalam kehidupan masyarakat. Di dalamnya terdapat kegiatan menyampaikan nasihat, memberikan keteladanan, membangun kepedulian sosial, dan membuka jalan bagi umat untuk belajar. Karena kebutuhan dan lingkungan masyarakat terus berkembang, cara berdakwah pun perlu dikembangkan dengan tetap menjaga ketepatan ajaran serta keluhuran adabnya.

Akses aplikasi: Quran Word by Word Indonesia.

Mendekatkan Umat kepada Pemahaman Al-Qur’an dan Hadis melalui Bahasa, Ilmu, dan Sarana Pembelajaran

Dakwah Kultural dan Penguatan Literasi Keislaman

Dakwah kultural memiliki peran dalam usaha tersebut. Dengan memahami bahasa, kebiasaan, seni, dan hubungan sosial masyarakat, seorang pendakwah dapat menyampaikan nilai Islam melalui pendekatan yang akrab bagi pendengarnya. Kepekaan terhadap budaya membantu pesan agama diterima, dipikirkan, dan dihayati dalam kehidupan sehari-hari.

Bersama pendekatan kultural, terdapat bentuk pengembangan dakwah yang layak diperkuat: dakwah melalui peningkatan literasi Al-Qur’an dan hadis dengan bantuan teknologi digital. Orientasinya adalah membangun kemampuan umat untuk mengakses sumber, memahami bahasa, memeriksa penjelasan, dan menghubungkan ilmu dengan amal. Internet, aplikasi, serta perangkat pembelajaran dapat menjadi sarana untuk tujuan itu.

Dalam kerangka ini, pengembangan dakwah mencakup penguatan isi, metode, sarana, dan kemampuan orang yang belajar. Ceramah dapat menjadi pintu masuk, lalu dilanjutkan dengan membaca sumber, berdiskusi, dan menyelesaikan latihan sederhana. Hubungan antara pendakwah dan masyarakat pun berkembang menjadi proses pendampingan yang berkelanjutan.

Bahasa Arab Al-Qur’an dan Panggilan untuk Memahami

Landasan refleksi tentang pentingnya pemahaman dapat ditemukan dalam firman Allah pada Surah Az-Zukhruf ayat 3:

إِنَّا جَعَلْنَاهُ قُرْآنًا عَرَبِيًّا لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

Innā ja‘alnāhu qur’ānan ‘arabiyyan la‘allakum ta‘qilūn.

“Kami menjadikan Al-Qur’an dalam bahasa Arab agar kamu mengerti.” QS. Az-Zukhruf [43]: 3.

Terjemahan tersebut mengikuti terjemahan Kementerian Agama RI sebagaimana ditampilkan pada Quran.com, QS Az-Zukhruf [43]: 3.

Ayat ini menghubungkan bahasa Arab Al-Qur’an dengan tujuan agar pesan wahyu dipahami. Ungkapan la‘allakum ta‘qilūn mengarahkan perhatian kepada penggunaan akal untuk mengerti. Dalam pengembangan pendidikan umat, pesan itu menginspirasi usaha menyediakan jalan belajar yang membantu pembaca mendekati makna wahyu. Pemanfaatan teknologi merupakan salah satu penerapan pendidikan yang dapat kita upayakan pada masa kini; ayat tersebut sendiri tidak secara khusus membicarakan teknologi digital.

Menjembatani Teks Arab dan Pembaca Indonesia

Bagi umat Islam Indonesia, bahasa menjadi salah satu jembatan terpenting dalam proses tersebut. Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa Arab, sementara riwayat hadis Nabi dipelajari melalui teks Arab dalam kitab-kitab hadis. Terjemahan bahasa Indonesia membuka akses awal yang sangat berharga. Namun, memahami terjemahan dan memahami seluruh nuansa teks sumber merupakan dua tingkat pembelajaran yang berbeda.

Sebuah kata Arab dapat memiliki beberapa kemungkinan arti. Bentuk kata, susunan kalimat, kata ganti, dan konteks menentukan makna yang sesuai. Karena itu, terjemahan kata demi kata perlu ditempatkan sebagai alat bantu belajar. Pembaca tetap memerlukan terjemahan kalimat yang utuh, penjelasan kebahasaan, dan tafsir yang dapat dipertanggungjawabkan. Kemampuan mengenali akar kata juga perlu dilengkapi pemahaman pemakaiannya dalam ayat tertentu.

Belajar bahasa Arab dapat dimulai secara bertahap tanpa membuat pemula merasa jauh dari Al-Qur’an. Seseorang dapat mengenali kata yang sering muncul, memahami kata ganti, lalu mempelajari perubahan bentuk kata dan hubungan antarkata. Nahwu membantu membaca susunan kalimat, sedangkan sharaf membantu memahami bentuk serta perubahan kata. Guru berperan menata tahapan tersebut sesuai kemampuan peserta.

Teknologi sebagai Sarana Belajar yang Bertahap

Di sinilah teknologi dapat memberikan kontribusi konkret. Sebuah aplikasi dapat dirancang untuk mempertemukan teks Arab, audio bacaan, terjemahan Indonesia, arti per kata, penjelasan bentuk kata, dan rujukan tafsir dalam satu halaman. Pembaca bisa memulai dari ayat lengkap, mempelajari bagian yang belum dipahami, lalu kembali membaca keseluruhan ayat. Alur seperti ini memungkinkan kegiatan membaca berkembang menjadi proses belajar yang bertahap.

Misalnya, seorang pengguna memilih QS Az-Zukhruf ayat 3. Ia mendengarkan bacaannya, memperhatikan hubungan qur’ānan dan ‘arabiyyan, kemudian mempelajari ungkapan la‘allakum ta‘qilūn. Setelah itu, ia membaca ayat sebelum dan sesudahnya serta menelaah tafsir. Dengan pendampingan yang tepat, fitur sederhana dapat membentuk kebiasaan melihat kata, kalimat, dan konteks sebagai satu kesatuan.

Kegiatan ini dapat diterapkan dalam program belajar singkat yang berulang: satu ayat, beberapa kosakata, satu penjelasan tafsir, dan satu refleksi pengamalan. Peserta kemudian menuliskan pertanyaan untuk dibahas bersama pengajar. Catatan kemajuan membantu mereka mengenali apa yang sudah dipahami dan bagian yang masih membutuhkan penjelasan.

Sebagai contoh sumber pembelajaran daring, Quran.com menyediakan teks Al-Qur’an, terjemahan, tafsir, bacaan audio, dan alat belajar kata demi kata. Fasilitas tersebut dapat dipadukan dengan pembelajaran bersama guru agar proses penelusuran tetap terarah. Quran.com.

Literasi Hadis dan Amanah Menyampaikan Ilmu

Pembelajaran hadis memerlukan perhatian tambahan. Selain memahami redaksi, pembaca perlu mengetahui sumber riwayat, penilaian kesahihan, serta penjelasan ulama tentang maksud dan penerapannya. Pangkalan data digital dapat membantu penelusuran tersebut dengan menyediakan nama kitab, nomor hadis menurut edisi yang digunakan, teks Arab, terjemahan, dan tautan syarah. Jika terdapat perbedaan penilaian, informasi itu perlu disajikan dengan jelas beserta pihak yang menilainya.

Ketelitian penyampaian merupakan bagian dari amanah dakwah. Dalam hadis riwayat al-Bukhari nomor 3461 terdapat anjuran menyampaikan ajaran Nabi meskipun sedikit, sekaligus peringatan keras terhadap tindakan sengaja berdusta atas nama beliau. Kedua pesan ini patut dibaca bersama: semangat berbagi ilmu berjalan dengan tanggung jawab menjaga kebenaran yang disampaikan. Sahih al-Bukhari, no. 3461.

Karena itu, pengembangan dakwah digital sebaiknya mencakup kemampuan memeriksa informasi. Pembaca perlu dibiasakan membedakan teks ayat dari terjemahan, terjemahan dari tafsir, hadis dari perkataan ulama, serta pendapat seorang penulis dari kesepakatan para ahli. Setiap lapisan memiliki kedudukan yang perlu dikenali agar informasi tidak digunakan secara keliru.

Dalam praktiknya, pendakwah dapat memperlihatkan cara memeriksa sebuah kutipan: menemukan sumbernya, membaca redaksi lengkap, mencatat identitas riwayat, lalu menelaah penjelasannya. Keterampilan ini membantu masyarakat membangun kebiasaan bertanya, “Dari mana keterangan ini berasal?” sebelum meneruskannya kepada orang lain.

1 2Laman berikutnya

Kasmui

Wong Brebes asli tinggal di Semarang; Dosen Kimia, Komputasi, IT, dan AI UNNES; Ketua PCM Gunungpati 2 Kota Semarang; Anggota Majelis Tabligh PDM Kota Semarang & PWM Jawa Tengah; Anggota Tim Pengembang Software KHGT MTT PP Muhammadiyah; Praktisi Ilmu Falak: https://hisabmu.com/, https://kasmui.cloud/

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button