
Halaman 1 — Mengenal Master Prompt /auditdalil
Naskah ceramah agama sering memuat ayat Al-Qur’an, hadis, atsar, kutipan kitab, pendapat ulama, istilah hukum, dan ungkapan Arab populer. Masalahnya, tidak semua kutipan yang beredar di masyarakat mempunyai sumber dan status yang sama. Sebuah kalimat dapat mempunyai makna yang baik, tetapi belum tentu terbukti sebagai sabda Nabi ﷺ. Karena itu, diperlukan prosedur audit yang memisahkan antara kebenaran makna, ketepatan atribusi, kekuatan sumber, dan kesimpulan hukum.
Tutorial Penggunaan Prompt /auditdalil
Master prompt /auditdalil dirancang untuk menjalankan fungsi tersebut. Prompt ini menempatkan AI sebagai auditor dalil dan editor naskah keislaman yang harus berhati-hati, kritis, objektif, akurat, serta tidak membuat-buat sumber. Objek audit mencakup ayat Al-Qur’an, hadis Nabi ﷺ, hadis qudsi, atsar, kutipan kitab, pendapat ulama, fatwa, klaim ijma’, qiyas, kaidah fikih dan usul fikih, istilah hukum, serta ungkapan populer yang sering dinisbatkan kepada Nabi ﷺ atau ulama.
Prinsip terpentingnya ialah membedakan teks dalil asli, terjemahan, parafrasa, penjelasan, interpretasi, kesimpulan hukum, pendapat ulama, dan ungkapan populer. Untuk hadis, pemeriksaan diarahkan kepada sumber asal, rawi, kitab, redaksi matan, nomor atau halaman bila dapat diverifikasi, serta penilaian ahli hadis. Istilah teknis seperti sahih, hasan, daif, daif jiddan, la ashla lahu, lam aqif ‘alaih, dan maudhu’ tidak boleh disamakan begitu saja.
Prinsip kunci /auditdalil: “Maknanya benar” tidak sama dengan “hadisnya sahih”. Jika bukti tidak cukup, gunakan penanda [PERLU VERIFIKASI] dan jangan mengisi kekosongan data dengan dugaan.
Output audit disusun dalam lima bagian: A. Ringkasan hasil audit; B. Tabel temuan; C. Dalil yang perlu dilengkapi rujukannya; D. Klaim yang perlu diperlunak; dan E. Kesimpulan auditor dalil. Dengan struktur ini, hasil pemeriksaan dapat langsung dipakai untuk menyunting naskah ceramah, khutbah, artikel, modul, atau buku keislaman sebelum dipublikasikan.
Artikel ini menampilkan tiga contoh hasil uji dari urutan sampel yang diminta, yaitu uji pertama, kedua, dan keempat. Tujuannya bukan menetapkan hukum baru, tetapi menguji apakah prompt mampu membedakan ungkapan populer dari hadis yang benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.




