AkhlaqAqidahArtikelTokoh
Trending

Membangun Peradaban Tanpa Pamrih “Teladan Kepemimpinan dan Pemberdayaan Dzulqarnain”

Kisah Orang-Orang Shaleh & Inspiratif

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Alhamdulillah, alhamdulillahi rabbil ‘alamin, wabihi nasta’in ‘alaa umuuriddunya waddiin. Wash-shalatu was-salamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, Nabiyyina Muhammadin, wa ‘ala alihi wa shahbihi ajma’in. Amma ba’du.

Hadirin online yang dimuliakan Allah,

Di era modern ini, kita sering menyaksikan proyek-proyek raksasa dibangun. Alat-alat berat dikerahkan untuk membelah bukit, meratakan tanah, dan mendirikan infrastruktur megah. Namun, fenomena yang sering kita dapati adalah, ketika seseorang memiliki kekuasaan, keahlian teknis yang tinggi, atau modal yang besar, keahlian tersebut sering kali hanya digunakan untuk meraup keuntungan finansial semata. Ketika masyarakat kecil dan lemah membutuhkan bantuan perlindungan atau infrastruktur, mereka harus membayar mahal.

Hari ini, mari kita membuka lembaran Al-Qur’an untuk menengok sosok pemimpin hebat, seorang raja yang adil sekaligus “insinyur” peradaban di masanya. Beliau memiliki kekuasaan militer tak tertandingi dan keahlian teknis yang luar biasa, namun beliau menggunakan semuanya murni untuk melindungi kaum yang lemah. Beliau adalah Dzulqarnain.

Dzulqarnain adalah seorang raja yang diberikan jalan oleh Allah untuk menjelajahi ujung barat hingga ujung timur bumi. Suatu ketika, ekspedisinya tiba di sebuah lembah di antara dua gunung. Di sana, beliau bertemu dengan suatu kaum yang hampir tidak memahami bahasa, hidup dalam ketakutan karena terus-menerus diteror, dirampok, dan dibantai oleh bangsa perusak bernama Ya’juj dan Ma’juj.

Melihat kedatangan pasukan besar Dzulqarnain, kaum yang lemah ini menaruh harapan. Mereka menawarkan kharj (pajak/upeti/bayaran) yang besar kepada Dzulqarnain, asalkan Dzulqarnain mau membuatkan mereka sebuah benteng atau dinding raksasa untuk memblokir Ya’juj dan Ma’juj.

Secara logika penguasa biasa, ini adalah proyek yang sangat menguntungkan. Namun, Dzulqarnain menolak upeti tersebut dan justru mengajarkan sebuah prinsip kepemimpinan dan pendidikan yang luar biasa.

Momen bersejarah ini diabadikan dengan indah oleh Allah SWT dalam QS. Al-Kahfi [18] ayat 94-95:

 

قَالُوا۟ يَٰذَا ٱلْقَرْنَيْنِ إِنَّ يَأْجُوجَ وَمَأْجُوجَ مُفْسِدُونَ فِى ٱلْأَرْضِ فَهَلْ نَجْعَلُ لَكَ خَرْجًا عَلَىٰٓ أَن تَجْعَلَ بَيْنَنَا وَبَيْنَهُمْ سَدًّا . قَالَ مَا مَكَّنِّى فِيهِ رَبِّى خَيْرٌ فَأَعِينُونِى بِقُوَّةٍ أَجْعَلْ بَيْنَكُمْ وَبَيْنَهُمْ رَدْمًا

 

Yang artinya: “Mereka berkata, ‘Wahai Dzulqarnain! Sungguh, Ya’juj dan Ma’juj itu (makhluk yang) berbuat kerusakan di bumi, maka bolehkah kami memberimu imbalan agar engkau membuatkan dinding penghalang antara kami dan mereka?’ Dia (Dzulqarnain) menjawab, ‘Apa yang telah dianugerahkan Tuhan kepadaku lebih baik (daripada imbalanmu), maka bantulah aku dengan kekuatan, agar aku dapat membuatkan dinding penghalang antara kamu dan mereka.'”

Mari kita gali pesan utama dari kepemimpinan Dzulqarnain ini.

Pertama, Integritas Tanpa Pamrih. Dzulqarnain menolak bayaran. Beliau menyadari bahwa ilmu, keahlian, dan kekuasaan adalah titipan Allah. Menggunakan keahlian untuk membantu umat yang tertindas adalah kewajiban iman, bukan ladang bisnis.

Kedua, Pemberdayaan (Empowerment). Perhatikan kalimat: “Bantulah aku dengan kekuatan (tenagamu)”. Dzulqarnain membawa pasukan besar, beliau bisa saja menyuruh tentaranya membangun tembok itu sendiri sementara kaum tersebut hanya duduk menonton. Tapi beliau tidak melakukannya. Beliau bertindak sebagai mentor dan pendidik. Beliau menyuruh kaum itu mengumpulkan potongan-potongan besi, memanaskannya dengan api, lalu menuangkan tembaga cair di atasnya. Beliau mengedukasi masyarakat yang awalnya lemah, melatih mereka bekerja keras dalam sebuah proyek raksasa, sehingga mereka bangkit menjadi bangsa yang mandiri dan berdaya.

Bagaimana kita membumikan semangat Dzulqarnain ini dalam kehidupan kita?

 

Bagi Bapak/Ibu, khususnya para pendidik, guru, atau siapa pun yang diberi amanah memimpin. Ketika kita merancang sebuah program pendidikan, mengelola kurikulum keahlian, atau mengawasi uji kompetensi siswa di bengkel, jadilah seperti Dzulqarnain. Jangan sekadar menyuapi anak didik dengan teori, atau mengerjakan semuanya untuk mereka agar cepat selesai. Libatkan mereka dalam proyek-proyek nyata (project-based learning). Katakan kepada mereka, “Bantulah aku dengan tenaga dan pikiranmu.” Latih mereka merakit sistem, memahami mesin dan alat berat yang rumit, atau menciptakan media pembelajaran yang baru. Pemimpin dan guru yang hebat bukanlah yang bisa melakukan semuanya sendiri, melainkan yang mampu mengubah sekumpulan orang lemah menjadi tenaga ahli yang tangguh.

Bagi rekan-rekan pemuda, pelajar, dan mahasiswa; di masa depan, kalianlah yang akan memegang kendali teknologi, industri, dan pembangunan. Jika kelak kalian memiliki keahlian teknis tingkat tinggi, jadikanlah keahlian itu sebagai jalan pengabdian. Jangan jadikan uang sebagai satu-satunya panglima. Jika ada masyarakat yang membutuhkan ilmu kita—entah itu memperbaiki fasilitas desa, membangun sistem keamanan, atau membela kaum yang lemah—hadirlah tanpa harus selalu menuntut bayaran. Berkaryalah dengan visi “mā makkannī fīhi rabbī khairun” (apa yang dikaruniakan Allah kepadaku sudah jauh lebih baik).

Oleh karena itu, jamaah yang dirahmati Allah, mari kita bangun “dinding peradaban” kita hari ini. Bentengi diri kita, keluarga kita, dan masyarakat kita dari kerusakan moral dan kebodohan dengan ilmu yang bermanfaat dan kerja keras yang nyata. Jadikan setiap keahlian yang kita miliki sebagai amal jariyah yang melindungi umat.

Mari kita tundukkan hati sejenak, memohon kekuatan kepada Allah SWT.

Ya Allah, Yang Maha Menggenggam segala kekuatan dan ilmu. Karuniakanlah kepada kami keikhlasan dan ketegasan pemimpin seperti Dzulqarnain. Jadikanlah ilmu, keahlian, dan tenaga yang kami miliki sebagai jembatan yang menghubungkan kami dengan ridha-Mu. Bimbinglah para pendidik dan anak-anak muda kami agar mampu membangun peradaban yang tangguh, mandiri, dan terlindung dari segala fitnah kerusakan di akhir zaman.

Rabbana atina fid-dunya hasanah, wa fil-akhirati hasanah, wa qina ‘adzaban-nar.

Mohon maaf atas segala tutur kata yang kurang berkenan. Kesempurnaan hanya milik Allah SWT.

Nashrun minallahi wa fathun qariib.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.

Oleh: Dimas Kurniawan, S.Pd.
(Majelis Tabligh PCM Gunungpati II Kota Semarang)

Dimas Kurniawan

Guru | Majelis Tabligh PCM Gunungpati II | PDPM Kota Semarang | Mechanical Engineering

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Back to top button